IMG_0100-300x208 GAPURANA  Sekilas Kenangan Kepergian (alm) H Iwan Tourist

Berdiiri paling kanan (alm) H Iwan Tourist di sebelah Mustafa, suradara yang tampil sebagai pemain. Kedua dari kiri, sutradara Yunio Prihartoto, Yoyo Dasriyo dan Intan Savilla selepas syuting sinetron “Pagar Maya” (1998) di Cijoho Karangpawitan, Garut. H Iwan Touris.rekan wartwan di Garut ini, Kamis dini hari lalu (17/9) berpulang ke alam keabadian.
(Foto: Istimewa)

KABAR duka menyentak semua insan wartawan Garut. Dalam kemudaan usinya, garis finish kehidupan H Iwan Tourist menepi Kamis dini hari lalu (17/9). H Iwan rekan wartawan yang berpenampilan nyentrik, kumis tebal dan rambut panjang melintas bahu itu, berpulang ke alam keabadian. Dalam keseharian, almarhum akrab dengan sapaan canda “Iwan Haji”. Kabar duka atas kepergian rekan wartawan (alm) H Iwan Tourisit, sangat mengejutkan.

“Saya juga kaget! Tengah malam dibangunkan. Dikabarkan, bahwa H Iwan adik saya meninggal dunia” ungkap Kang Tisna Wiibawa kakak kandung almarhum, rekan wartawan Majalan “Sunda Midang” yang dijumpai “Gapura.Indonesia .Com” di rumah duka, Cibatu, Garut, selepas pemakaman jenazah (alm) H Iwan. Kang Tisna menuturkan, “Haji Iwan” terkena serangan jantung, sepulang menyetir mobil dari Jakarta. Malam itu dibawa ke RSU dr “Slame Garut”, namun H Iwan Touristi sudah tiada. Innalillahi wainailaihi Roji’un..

Jenazah almahum dikebumikan di pemakaman umum Cibatu, Garut, Kamis siang (18/9). Semasa hidupnya, sobat yang dikenal di kampung halamannya dengan sebutan “Cep Awan” itu, pernah lama mengembara di Saudi Arabia. Berprofesi wartawan sejak mengusung media Surat kabar Mingguan “Bahari” Semarang yang ditugaskan di Garut. Di balik profesi kewartawanan, H Iwan Tourist pernah mendukung beberapa sinetron yang berlokasi syuting di Garut, diantaranya “Kasih Tanpa Batas” (1996), “Pagar Maya” (1998) serta “Sajadah Anak Sejarah” (2000).

Almarhum termasuk senang mengumbar canda segarnya, yang gampang akrab dalam pergaulan dengan siapapun. Guonannya seolah mengalir dalam setiap perjumpaan. Bahkan ada kiriman sms canda (alm) Iwan Tourist, yang hingga kini masih saya simpan. Memang almarhum kreatif dalam mengurai canda yang menggelitik tawa. Simak saja bunyi sms berbahasa Sunda ini:

“Lima perkara nu dilarang. 1. Mandi junub ku cai ngagolak. 2. Motong rambut ku ragaji mesin. 3. Wudhu ku air keras. 4. Motong kuku make kampak. 5. Nyundut pepetasan dina irung mitoha” Bentuk canda yang tertulis itu, kini tertinggal abadi dalam kenangan. Pileuleuyan, Cep Awan..! Keluarga besar “Gapura Media” turut berdukacita. Semoga segala amal dan budi baikmu, berbalas keindahan di alam lain semoga dirimu senantiasa bermandikan ampunan Allah..*** (Yodaz)

Bagaimana Tanggapan Anda ?

Komentar

Desain kemasan online gratis Coba Sekarang