Oleh; Asep Rizal

Gapura, Tasikmalaya;

Menyimak aksi solidaritas Aliansi Wartawan Tasikmalaya tadi siang atas sikap Sebuah Lembaga yang melakukan  Kekerasan Terhadap Wartawan di Makassar tadi siang  (Jum,at 14/11/2014)  , mungkin penulis akan mencoba  mengajak “Istirahat” dulu barang sejenak untuk sekedar melihat dulu apa dasar dari hakekat Hidup itu sebetulnya.

Hakekat hidup itu adalah sebetulnya “Memberi dan Menerima” apa dan dari siapa asal mula kata memberi  dan menerima yang sesungguhnya , ketika semuanya telah lupa maka yang terjadi adalah saling curiga dengan mengatas namakan hidup dan penghidupan yang dipoles dengan nama  aturan yang  terlegitimasi.

Tadi siang penulis sempat melihat berbagai Aliansi Journalist Tasikmalaya berdemo di Titik Pusat Kota Tasikmalaya tepatnya di sebrang jalan HZ Mustofa dekat Tugu Adipura sebrangnya kaum Kota Tasikmalaya , para Awak Media dari berbagai Aliansi Journalist kedengarannya  berorasi/Menyampaikan keluhannya  atas Sikap sebuah Lembaga Negara yang mencoba “Mengusik” ke-existensian Media dan Awak Media di Tanah Air kita tercinta yang kini Hebat dengan adanya berbagai Media yang jelas jadi bagian cara Demokratisasi Dunia itu sesungguhnya.

Setelah mereka (Peserta Demontrasi)  Rehat sejenak dan melakukan Shalat Jum,at para Awak Media Tasikmalaya itu  Nampak bergerak menuju ke Polres Kota Tasikmalaya , lalu tak dinyana Hujanpun turun dengan sangat derasnya dan informasi tentang itu semua berhenti di gemuruhnya curah hujan yang begitu deras membasahi Kota yang di gelari Kota Santri tersebut.

Di sinilah “Mungkin” penulis akan menyimpulkan Aksi Solidaritas Awak berbagai Media Tasikmalaya itu ketika berniat menyampaikan “Keluhan” atas tindakan sebuah Lembaga kepada Berbagai Awak Media di Makassar sana.

Terharu-birunya sebuah Demontrasi penolakan kenaikan BBM dan Demontrasi sejenis lainnya  adalah bagian sisi informasi yang mestinya di liput dan di sampaikan oleh yang bernama Media yang ada di Tanah Air , dengan adanya berbagai pemberitaan yang ada maka Para pengambil kebijakan yang mengtasa namakan pemerintah ataupun atas upaya berbagai element Warga masyarakat yang Pro dan Kontra adalah sebuah kewajiban para Journalist dari berbagai Aliansi,Perkumpulan Wartawan,awak Media , Pers , Journalist Indonesia menyampaikan sepercik kabar kepada warga Dunia apa yang sesungguhnya terjadi.

Yang jadi pertanyaannya adalah Ketika sebuah Lembaga Tinggi Negara yang di beri mandat  menegakan legitimasi hukum dan menjaga kedaulatan NKRI telah mencoba menghalangi dengan berupaya agar informasi yang mereka akan coba sampaikan dan mereka akan coba  lakukan itu  di halangi dengan berbagai dalih/argument atas nama Hukum Legal Formal UU Dasar 1945 namun sebetulnya Idealisme itu terdepak sudah.

Lalu penulis mencoba bertanya kepada Hati yang putih bersih atas nama Kebesaran sebuah bangsa ini “Journalis/Wartawan dan Awak Media itu punya apa sih?

Mereka hanya bawa kamera lalu setelah itu pulang dengan membawa bukti Otentik setelah mereka bertanya kepada Empunya yang punya legitimasi penegak hukum yang di bekali Senjata Otomatis guna menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan membawa barang berupa sebuah ID Card kartu pengenal yang di buat oleh Lembaga atau Media dimana mereka di pekerjakan jadi bagian Informan / pembuat berita , lalu kenapa mereka di pukuli?

Sampai-sampai mereka di buat  berdarah-darah?

Ada apa di balik itu semua?.

Semuanya mungkin punya Argument untuk menjawab sekelumit pertanyaan sederhana tentang Eksistensi Hukum para Awak Media dan Pekerja Media , mereka tak gegabah mengaku wartawan sebuah tabloid,majalah,Koran harian/Mingguan,Jounalist TV , Penulis Media Online dan media-media yang ada di Indonesia ini lho,,,!!.

Perlu di ingat ! Negara ini (Indonesia) berdirinya Negara  itu bukan hanya oleh segelintir manusia-manusia sejatinya manusia Indonesia itu saja (yang itu saja)  ,

Salah satu  bagian yang terpenting dari berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia itu adalah adanya Mereka (Para Wartawan/I ,Journalist Indonesia) tolong akui dulu hal itu pemirsa?

Setelah itu tak ada yang lebih Hebat lagi ketika mereka tak menuliskan Kiprahnya para manusia-manusia  terhebat di Republik Indonesia manakala Pena-nya Wartawan tak menceritakan kehebatan Insan-insan Hebat  putra-puti bangsa kita   bukan?

Aku tetap akan bertanya  pada gelapnya malam-malamku   “Kenapa mereka akan di pukuli?”.

Ada apa dengan bangsa ini?

Akupun mencoba untuk tidak berupaya mengucapkan kebodohanku akan sebuah pertanyaan “ Bila para Jounalist telah di Pukuli dan hianati dengan cara-cara picik , akankah yang mengaku sebagai Lembaga Penegak Hukum di Negara Indonesia yang akan menggantikan mereka menuliskan , menginformasikan hal-hal yang bersisikan sebuah pemberitaan?

Ataukah kemampuan para penegak keadilan itu hanya di situ saja ?

Yang hanya mampu memukuli Wartawan?

Lalu setelah itu akan mencoba mengantikan para Journalist ?

Buntulah  pertanyaan bodohku sebetulnya karena sesungguhnya para Journalist itu tidak harus mencoba mengantikan para manusia yang terlatih memegang senjata bukan? .

Sudahlah ,,,hentikan hal tersebut , kita rehat sejenak mari berupaya mengembalikan segala kebenaran itu pada bidangnya masing-masing.

Kita itu sebetulnya  sama anak-anak Ibu Petiwi yang kadang Jengah dengan keadaan bangsa ini , penulis akan coba bilang bahwa TNI/Polri di naungi oleh Aturan Hukum di bawah Hukum Hebat Negara kesatuan Republik Indonesia yang bernama Undang-undang Dasar 1945 bukan?

Nah begitupun para Journalist/Wartawan Indonesia itupun di lindungi oleh Aturan Sakti tersebut , para media Tetap akan terus berkiprah apapun yang akan terjadi mereka tetap pada Aturan Dasar UU Journalis Indonesia  yang termaktub pada UU No 40 Tahun 1999.

Dan mereka akan teruskan kiprahnya untuk bersama-sama mengharumkan bangsa Indonesia yang menganut system Demokratisasi pada sisi/lini kehidupan Warga Negara Indonesia , siapapun dari  golongan apapun itu, maka kiprah Journalist Indonesia tersebut tak akan berhenti hanya karena mereka di sakiti .

Dan kiprah awak Media akan terus membantu mengharumkan TNI Dan Polri di mata hati Dunia dengan membuat (Berkiprah) di bidangnya yang telah mereka jalani dan terlegitimasi.

Yang penulis minta “Hentikan Kekerasan Dengan Berbagai dalih Untuk para Awak Media/Journalist Indonesia di Seluruh Tanah Milik Ibu Pertiwi ini “.

 

Asep Rizal.                

Bagaimana Tanggapan Anda ?

Komentar

Desain kemasan online gratis Coba Sekarang