bowie-300x199 GAPURANA  Sinetron “Tak Seharum Akar Wangi” Masih Tunggu Kepastian

Sutradara sinetron TVRI Pusat untuk lakon “Tak Seharum Akar Wangi” Bowie SS’ (ketiga dari kanan), bersama Yoyo Dasriyo, dan Wa’ Ratno (paling kanan). Berdiri di sisi kiri: Much Machfuddin Muhtar serta para pegiat sinetron Garut, di depan Gedung “Bale Paminton “Inten Dewata” Garut.(Istimewa)

Gapura Garut ,- Insan perfilman dan sinetron di Garut, kembali berpeluang mengembangkan potensinya untuk mendukung program produksi sinetron. Di awal tahun 2015, jelang peringatan hari jadi Garut, (Februari), TVRI Pusat bersiap memproduksi sinetron “Tak Seharum Akar Wangi” garapan sutradara muda, Bowie SS. Lakon berkapasitas 3 episde ini, semula dijadwalkan untuk dikemas mulai pertengahan Januari 2015 lalu.

“Tapi masih ada urusan yang harus diselesaikan dulu di Jakarta. Sampai sekarang kami menunggu kepastian” ungkap Moch Machfuddin Muhtar, kordinator pemain di Garut.

Dalam perjumpaan di ruang kantor DKG (Dewab Kesenian Garut), Bowie yang dikenal sebagai adik kandung Sys NS, mengungkapkan, produksi sinetron “Tak Seharum Akar Wengi” sangat berpeluang membuka kehadiran para pemain daerah, karena pemain berkelas bintang hanya menampilkan Torro Margens dan Wiina.

“Ceritanya bersuasana daerah Sunda, dan lokasi syuting pun dipilih di Garut ini” ungkap Bowie kemudian. Besar harapan dipertaruhkan, agar produksi ini jadi momentum bagi Garut untuk memanjangkan riwayatnya sebagai daerah tujuan lokasi syuting sinetron..

Terlebih, karena tahun 2015 disebut-sebut sebagai tahun kebangkitan kembali TVRI Pusat dalam percaturan dunia sinetron. Memang, di masa kejayaan sinetron produksi TVRI Pusat, Garut termasuk daerah yang paling deras jadi lokasi syuting.

Sederet nama sutradara kondang dari kubu TVRI, pernah menggarap karya sinetronnya di Garut. Tercatat nama sutradara pendahulu, seperti Vick Hidayat, (alm) Irwinsyah, Oscar Anwar, Mustafa, (alm) Husen Husuma. Agoes Widjojono, Dedi Setiadi, Yunio Prihartoto, Bambang Rochyadi, hingga Encep Masduki.

Karier Bowie SS berangkai dari dunia pemeranan. Tahun 1996 pun Bowie tampil di Garut sebagai pemain utama bersama Fariza Yasmine, dalam lakon “Kasih Tanpa Batas” garapan Agoes Widjojono. Kenapa menyeberang jadi sutradara? Bowie tertawa.

“Emang dulu nggak kepikiran sih. Tapi mungkin karena pengaruh lingkungan, saya jadi punya ketertarikan ke sutradara. Itu sehabis saya jadi asistern sutradara Deddy Mizwar, waktu bikin sinetron “Mat Angin” ..”katanya.

Puluhan episode lakon “Mat Angin” di TPI, memberi banyak pengalaman dan pelajaran bagi Bowie, dalam menentukan bidang sutradara sebagai pilihan profesinya. Sutradara muda yang simpatik dan luwes ini, berharap lakon “Tak Seharum Akar Wangi” mampu melahirkan “bintang” baru dari Garut, sekaligus memanjangkan daftar keartisan film dan sinetron “Asgar” di kemudian hari. Sinetron “Tak Seharum Akar Wangi” akan tampil dengan ciri wajah produksi TVRI, yang selalu memuat tuntunan kehidupan.

Namun tidak kalah menariknya, permainan dialog sepanjang lakonnya dicairkan ke dalam bahasa daerah Sunda, dalam kaitan pelestarian nilai seni budaya daerah. Saat penayangannya akan menggunakan teks bahasa nasional. Pola semacam itu bisa dimaknai sebagai terobosan TVRI Pusat, dalam upaya menasionalkan kekayaan bahasa daerah. ***Yodaz

Bagaimana Tanggapan Anda ?

Komentar

Desain kemasan online gratis Coba Sekarang