Oleh : Hermanto

Alay….
Kalau ngomong lebay
Dasar anak jablay
Pikirannya cingcay

Gapura Kota Banjar ,- Bait lagu dangdut berjudul Alay diatas, merupakan bagian dari cerita atau kisah bagaimana lika-liku kehidupan kaum Alay yang kini banyak membentuk komunitas,  khususnya dikalangan remaja atau Anak Baru Gede.

Pengaruh arus globalisasi memang sangat cepat masuk merasuk ke tengah-tengah masyarakat kita, terutama pada kalangan anak muda yang kondisinya masih sangat labil dan berada pada masa mencari identitas. Akibatnya sejumlah anak muda ataupun remaja sangat mudah  kehilangan kepribadian atau jati diri sebagai remaja sewajarnya, bahkan mereka menganggap Alay juga menjadi identitas baru pilihan versi mereka.

Di Kota Banjar sendiri, banyak bermunculan para kaum Alay atau bahkan mereka malah sudah memiliki suatu komunitas sendiri, hal ini ditunjukkan dengan beberapa gejala yang muncul dalam kehidupan sehari-hari pada anak seusia remaja.

Fenomena Alay sendiri berawal dari suatu kata dengan istilah Lebay yang berarti lebih atau berlebihan dan bisa diartikan juga sesuatu yang melebihi batas wajar. Namun hal ini pun hanya melanda kalangan anak muda tertentu saja.

Selain itu, kaum Alay pun sering disebut Anak Layangan atau anak lebay. Mereka cenderung memiliki perilaku unik dalam tata bahasa dan life style. Para Alay ini dalam bicara selalu dengan intonasi yang berlebihan.

Seperti dalam sehari-hari, kita sering mendengarkan pembicaraan mereka seperti kata cius (serius), miyapa (demi apa), cuccok (cocok), dan lain-lain. Dari kata-kata tersebut, mereka pun sering mencampuradukkan beberapa bahasa, seperti bahasa Indonesia, asing, hingga bahasa daerah yang menjadi sebuah kalimat. Tidak hanya itu, mereka pun mempunyai gaya hidup seperti cara berpakaian, model rambut, dan intinya gaya hidup anak muda yang sedang trend di masa kini.

Pada hari Minggu (1/2/2015) sekitar pukul 20.30 WIB, HR berhasil menemui salah seorang Alay di Alun-alun Kota Banjar. Namanya Rey (20) (bukan nama sebenarnya), ia tengah duduk disebuah lesehan bersama ketiga temannya sambil meminum secangkir kopi dan beberapa makanan cemilan. Pada awalnya ia malu untuk menceritakan kenapa dia sampai menjadi seorang Alay. Namun lama-kelamaan setelah diyakinkan oleh HR , ia pun bersedia menceritakannya.

Menurutnya, ia menjadi seperti ini karena dulunya mengidolakan salahsatu artis hingga ia meniru gaya si artis tersebut mulai dari cara berpakaian yang berlebihan, model rambut, hingga gaya bahasa.

“Saya sangat ngefans ama dia (artis), hingga saya meniru gayanya dia seperti cara berpakaian dan gaya rambut,”ujar mahasiswa semester 2 disalahsatu perguruan tinggi di Kota Banjar

Rey menambahkan bahwa dirinya selalu cuek dengan orang mau bilang apa tentang dirinya. Menurutnya yang penting dirinya tidak merugikan orang lain.

“Saya cuek aja jika ada orang yang bilang bahwa saya ini Alay, yang penting saya tidak merugikan mereka,”imbuhnya.

Lain halnya dengan Brow (17) salah satu Alay lainnya yang baru masih duduk di bangku SMA di Kota Banjar, menurutnya ia menjadi seperti ini karena hanya ikut-ikutan trend saja, dan tidak lebih dari itu.

“Ekeu mah hanya ikutan trend aja ah, kalau ga kayak gini nanti takut dikatakan kuno oleh teman-teman,”katanya dengan logat Alay sembari “jentrat-jentrit”

Deni Herdiandi (35) selaku ketua Karang Taruna Kelurahan Banjar mengatakan bahwa keberadaan kaum Alay ini terjadi karena para remaja tersebut masih labil dan masih senang meniru dengan apa yang diidolakannya, sehingga mereka sangat mudah tertular dan memilih menggunakan gaya hidup dan bahasa gaul. Karena menurut mereka jika tidak mengikuti trend tersebut akan dianggap oleh temannya tidak gaul dan ketinggalan jaman.

“ini adalah suatu bentuk pengaruh globalisasi dengan pola hidup yang konsumtif, artinya perkembangan industri yang sangat pesat seperti musik dan film, sehingga dapat mempengaruhi anak remaja sekarang dan menjadi tempat pusat peniruan yang tinggi,”tutur Deni.

Hal yang sama pun diucapkan Gery Garyadina M (28), selaku Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa STISIP Bina Putra Banjar, menurutnya Fenomena alay ini karena pengaruh transformasi zaman yang terus menggerus eksistensi budaya lokal, salah satu wujud perilaku alay dapat di identifikasi melalui gaya bahasa yang biasa diterapkan sehari-hari.

“Ini sangat ironisnya di komunitas Alay ini sudah ada kamusnya dalam media internet,hingga terdapat kamus khusus untuk menafsirkan kata-kata, hal ini dikhawatirkan akan menimbulkan masalah baru yaitu perusakan bahasa, perilaku yang ditunjukan dalam berbicara” tuturnya.

Gery menambahkan, penampilan anak Alay ini pun juga terkesan dipaksakan dan kurang cocok untuk dipandang bagi sebagian orang, mereka menganggap komunitas ini sebagai perilaku yg kurang wajar. Namun menurutnya kita tidak dapat men-judge anak Alay begitu saja. Dalam setiap hal pasti selalu ada dampak positif dan negatifnya. Secara umum mereka yang menyukai cara hidup dan cara bergaya hidup seperti itu adalah anak-anak yang masih mencari jati diri mereka. Dengan mengikuti trend semacam itu, mereka ingin eksistensi mereka di akui oleh orang lain. Namun, dikhawatirkan penggunaan bahasa Alay yg berlebihan ini akan merusak identitas bahasa yang sebenarnya.
Perusakan pada bahasa ini sebenarnya dapat dicegah melalui kesadaran dari masyarakat itu sendiri. Tergantung juga pada cara kita menyikapinya.

H . Muchtar Gozali selaku Wakil Ketua Harian MUI Kota Banjar pun ikut angkat bicara, ia mengatakan bahwa kelakuan anak remaja sekarang khususnya kaum Alay, itu sangat tidak boleh dalam ajaran Islam, lambat laun selain akan menghilangkan budaya asli bangsa Indonesia yang seharusnya dipegang teguh dalam kehidupan sehari-hari, juga akan merusak akidah serta keimanan seseorang, sehingga kini harus terbelakang dengan menjamurnya peniruan budaya asing. Mereka pun tidak memilah atau memilih bahwa budaya asing tidak cocok dengan kehidupan bangsa kita yang menganut adat ketimuran.

“Ini terjadi karena adanya globalisasi dalam budaya, sehingga hal ini dapat menyebabkan pergeseran nilai dan sikap yang semua irasional menjadi rasional,”tuturnya saat ditemui HR di kediamannya, Selasa (3/2/2015).

Muchtar menambahkan bahwa masyarakat pun berperan penting dalam menghadapi fenomena Alay ini. Masyarakat dan orang tua diharapkan mampu untuk menahan pengaruh globalisasi yang dapat mengubah nilai jati diri bangsa, sehingga kita tidak akan kehilangan kepribadian bangsa.

“Intinya kita harus menjadi diri kita sendiri, dan bukan meniru gaya orang lain,”tegasnya.***

Bagaimana Tanggapan Anda ?

Komentar

Desain kemasan online gratis Coba Sekarang