download HUKUM & KRIMINAL  Siswi SMP Melahirkan, Gegerkan Warga Garut

Gapura Garut , – Kabar siswi yang masih duduk di bangku SMP melahirkan, menggemparkan warga Kabupaten Garut. Peristiwa yang diduga terjadi pada 24 Februari 2016 lalu itu, baru diketah
ui publik secara luas melalui dunia maya.

Hingga kini, detail kejadian siswi ini melahirkan masih simpang siur. Beberapa pihak menyebut ia melahirkan di rumah sakit, sementara pihak lain menyatakan siswi ini melahirkan di sekolah.

Seorang sumber di lingkungan Dinas Pendidikan (Disdik) Garut, membantah bila siswi yang bersekolah di wilayah Kecamatan Garut Kota tersebut melahirkan di sekolah. Dari informasi yang dia terima, remaja perempuan yang masih duduk di bangku kelas IX SMP itu melahirkan di rumah sakit.

“Anak tersebut melahirkan di rumah sakit, bukan di sekolah. Memang tanda-tanda akan melahirkan ini sudah terlihat saat mengikuti kegiatan di sekolah,” tutur sumber tersebut dalam kondisi anonim, Jumat (4/3/2016).

Ia memaparkan, kronologi peristiwa itu dimulai saat siswi ini mengikuti kegiatan les di sekolahnya. Pihak sekolah, tambahnya, membujuk siswi ini untuk mengikuti les menghadapi ujian karena ia telah lama bolos.

“Ia tidak masuk sekolah dalam waktu lama. Karena khawatir sebentar lagi ujian, kepala sekolahnya membujuk siswi ini agar mau ikut les. Hingga pada akhirnya anak itu menunjukan ciri seperti akan melahirkan dengan bolak-balik ke kamar kecil, sampai mengeluarkan darah,” ungkapnya.

Pihak sekolah pun mengantar siswi ini ke rumah sakit. “Melahirkannya di rumah sakit, jadi bukan di sekolah. Perlu ditekankan, sebelum kejadian itu kepala sekolah dan guru-gurunya tidak tahu jika anak didik mereka sedang hamil. Kalau tahu hamil dan akan melahirkan, mana mungkin dia dibujuk untuk ikut les,” katanya.

Di tempat terpisah, Ketua Bidang Advokasi Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Garut Nitta Kusnia Widjaja, mengaku terkejut dengan kabar tersebut. Wanita yang akrab disapa Bunda Nitta ini menyatakan kabar itu sebagai bukti dari merosotnya peran orang tua.

“Yang saya dengar anak itu melahirkan saat ikut suatu kegiatan tertentu di sekolahnya. Ini kejadian yang sangat luar biasa. Ada anak di bawah umur, masih SMP, melahirkan di sekolah pula. Bagaimana dengan orang tua dari anak itu? Jika demikian adanya, peran orang tua dalam keluarganya sangat lemah,” kata Nitta.

Semestinya, lanjut Nitta, orang tua melakukan pengawasan terhadap setiap pergaulan anak-anaknya. Ia membenarkan bila pergaulan remaja dan kecanggihan teknologi telah memberikan dampak buruk bagi generasi muda di Kabupaten Garut.

“Belum lama ini Garut dihebohkan dengan pelaku sodomi yang dilakukan oleh siswa SMP di Kecamatan Cigedug Garut. Sekarang ramai oleh kabar siswi SMP melahirkan. Anehnya kabar ini baru ramai sekarang, padahal kejadiannya itu di akhir bulan lalu. Seolah ditutup-tutupi,” ujarnya.

Ia meminta pihak sekolah dan instansi terkait memberikan penjelasan mengenai hal tersebut. Nitta pun berjanji akan membawa kasus siswi melahirkan ini untuk dikonsultasikan ke Komnas Perlindungan Anak Indonesia (KPAI).

“Senin awal pekan depan kasus tersebut akan jadi agenda kami untuk konsultasi dengan pihak-pihak terkait di Jakarta. Termasuk kasus anak pelaku sodomi. Khusus untuk siswi yang melahirkan itu, dia juga harus mendapat bimbingan psikologi. Kami akan kunjungi dia dengan membawa psikolog. Kami harus tahu dia untuk melindungi masa depannya,” paparnya.

Sementara itu, hingga kini Disdik Kabupaten Garut dan pihak sekolah, belum bisa memberikan pernyataan resmi terkait kabar tersebut.***Bro

Bagaimana Tanggapan Anda ?

Komentar

Penginapan di Garut Pesan Sekarang