Gapura Kota Banjar – Program sekolah dengan sistem Full Day School (FDS) yang serentak dimulai tahun 2017, banyak dikeluhkan wali murid atau orang tua.

Menurut beberapa orang tua murid di Kota Banjar, program tersebut justru sangat membebani anaknya dalam belajar.

Kata mereka, waktu istirahat pun untuk anak-anak jadi singkat bahkan terkadang anak-anaknya kerap stres dan kecapean.

Meski sekolah hanya 5 hari dan libur di hari Sabtu-Minggu, namun menurut mereka  tidak berpengaruh dan tidak menjamin siswa menjadi pintar.

Salah satu orang tua siswa SMP, Dadang (40) warga Kecamatan Pataruman, Kota Banjar mengatakan, bahwa penerapan Full Day School di beberapa sekolah di Kota Banjar ini menurutnya dianggap belum tepat.

Hal ini karena mengingat waktu belajar sekolah yang lebih lama di sekolah sehingga dapat berdampak pada psikologis anak.

“Terkadang saat pulang ia tak sempat istirahat, karena langsung mengerjakan tugas sekolah sedangkan waktu sudah sore dan ia pun terkadang menjerit dengan beban belajar seperti ini,” ujar Dadang Minggu (13/8/2017).

Hal yang sama dikatakan wali murid lainnya, Rina (36) warga Banjar. Menurutnya, ia menyesalkan dengan adanya program Full Day School ini. Karena dalam hal ini kasihan siswa-siswinya, dari pagi hingga sore diperas otaknya untuk terus belajar,

“Kalau boleh jujur, saya sangat tidak setuju dengan program FDS ini, karena dalam hal ini anak-anak terasa ditekan dalam hal belajar, saya pun berniat akan memindahkan anak saya dari sekolah tersebut ke sekolah yang tidak menggunakan sistem program FDS,” katanya.

Selain membuat psikologis siswa menjadi stres, program Full Day School ini pun membebani ekonomi orang tua. Karena orang tua harus memberi uang saku lebih kepada anak-anaknya untuk bekal makan siang.

“Saya selaku orang tua pun merasa terbebani, sebab biaya sekolah pastinya bertambah, karena selama di sekolah anak perlu makan siang dan kebutuhan lainnya,” keluh Yaya, warga Purwaharja, salah satu orang tua murid yang kini anaknya duduk di bangku SMP kelas dua.

Namun tidak semua orang tua melayangkan protes tidak setuju dengan adanya program Full Day School. Seperti yang diungkapkan salah satu orang tua murid, Yadi (43). Menurutnya tidak semua program Full Day School seperti itu, namun adapula sisi positifnya.

“Memang sih capek, tapi dengan full day school secara perlahan peserta didik akan terbangun karakternya dan tidak menjadi liar setelah pulang sekolah,” katanya.

Terpisah, Kepala bidang Dikdas di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Banjar, Ahmad Yani mengatakan   bahwa Full Day School itu gagasan awal sekolah dengan penambahan jam belajar. Namun, istilah Full Day School itu tidak ada di Dinas Pendidikan, menurutnya yang ada adalah PPK atau Penguatan Pendidikan Karakter.

“Di kami itu tidak ada istilah Full Day School, yang ada adalah Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Istilah full day school adalah hanya istilah bahasa yang dipakai masyarakat, karena belajarnya  berbeda dengan biasanya, yang tadinya pulang pukul 14.00 sekarang sampai pukul 15.00 WIB, sehingga masyarakat menyebutnya dengan sebutan Full Day School,” ujarnya.

Ia menambahkan, yang dilakukan program PPK ada dua cara yakni dengan menggunakan 5 hari belajar/kerja dan adapula yang menggunakan 6 hari belajar/kerja. 

“Untuk Kota Banjar sendiri baru dua sekolah yang menggunakan sistem belajar PPK ini, yakni SD Negeri 1 Banjar dan SMP Negeri 1 Banjar,” imbuhnya.

Masih kata Ahmad Yani, PPK ini bukan berarti siswa belajar selamanya di sekolah, namun dengan program ini siswa dapat mengikuti kegiatan-kegiatan penanaman pendidikan karakter seperti mengikuti legiatan ekstrakurikuler,” pungkasnya.***Hermanto

Bagaimana Tanggapan Anda ?

Komentar

Desain kemasan online gratis Coba Sekarang