Gapura, Ratusan siswa Madrasah Ibtidaiyyah dan Madrsah Tsanawiyyah Almanar di Desa Mekar Wangi kecamatan Cibalong, Garut Selatan, hampir setiap hari harus menantang maut mengarungi derasnya arus sungai saat akan menuju ke sekolah mereka. Kondisi tersebut terpaksa ditempuh para siswa karena tidak ada jembatan penghubung untuk menyeberang ke sekolah yang letaknya di seberang Desa. Bentangan sungai Cibaluk sekitar 50 meter yang membelah kedua  desa yaitu desa Mekar Wangi dengan desa Sagara telah menjadi saksi dari semangat anak-anak desa dalam mencari ilmu.

Para siswa mengaku terpaksa menempuh cara berbahaya tersebut karena tidak ada pilihan lain untuk bisa sampai ke sekolah. Mereka baru berhenti tidak menyebrangi sungai jika cuaca tidak bersahabat. “ Kalau turun hujan besar kami tidak sekolah paling belajar dirumah saja atau bekerja membantu orang tua”. Kata Sahrul salah seorang siswa saat dijumpai dipinggir sungai Kamis (16/1)

Sahrul berharap kebiasan menyebrangi sungai yang membahayakan bagi dirinya dan teman-temannya segera berakhir dengan dibangunnya jembatan penghubung.

Sementara itu kepala sekolah madrasah tsanawiyah almanar, Saefulrohman membenarkan kondisi para siswanya yang harus nyebur ke sungai sebelum tiba di sekolah. “Dari jumlah keseluruhan siswa,  120 orang siswa diantaranya  tinggal di seberang sungai, sehingga setiap harinya harus menantang bahaya saat akan pergi ataupun pulang dari sekolah”.ungkapnya

Tidak adanya jembatan penyebrangan menurut Saefulrohman,  telah berlangsung sejak tahun 1971 silam, bahkan menurutnya saat dirinya  lahir  pada kosaran tahun 1977 jembatan penyeberangan yang sangat didambakan warga tidak pernah terwujud.

“Kami hanya bisa berharap pemerintah daerah bisa peduli dengan nasib kami terutama anak-anak sekolah, kami berharap secepatnya dibangunkan jembatan penyeberangan”. Tegasnya

 

Bagaimana Tanggapan Anda ?

Komentar

Desain kemasan online gratis Coba Sekarang