Salah satu sudut di Kawasan pasar Ckajang yang berfungsi terminal, foto istimewa

Salah satu sudut di Kawasan pasar Ckajang yang berfungsi terminal, foto istimewa

Gapura Garut ,- Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Garut Wahyudijaya mengatakan rencana untuk merelokasi keberadaan terminal Cikajang di Kecamatan Cikajang, sudah bergulir sejak beberapa tahun lalu, namun sejauh ini belum menunjukan tanda-tada untuk terealisasi karena terganjal ketersediaan lahan.

“Wacana relokasi Terminal Cikajang setidaknya telah bergulir sejak beberapa tahun yang lalu, namun terhambat oleh kepemilikian lahan”, Kata Wahyu Minggu (17/1/2016).

Menurutnya sejauh ini berdasarkan hasil survei yang pernah dilakukan pemkan Garut, tempat yang cocok untuk relokasi Terminal Cikajang tersebut adalah lahan seluas 5 hektare (ha) eks PDAP PT Agro, sebuah BUMD Provinsi Jawa Barat yang bergerak di bidang perkebunan teh.

“Hasil survey kami untuk Terminal Cikajang itu adalah lahan eks PDAP PT Agro. Kami sudah beberapa kali mengirimkan surat perihal permohonan hibah lahan di lokasi tersebut, akan tetapi tidak dijawab oleh pihak perkebunan itu,” Ungkapnya.

Lokasi lahan eks PDAP ini lanjut Wahyu, setidaknya terletak di pertigaan Cikajang, sehingga dinilai strategis karena berada di tengah-tengah jalur Garut-Pameungpeuk (kawasan Garut Selatan wilayah timur) dan Garut-Bungbulang (kawasan Garut Selatan wilayah barat).

Rencananya, di lahan ini Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Garut akan membangun terminal dan rest area, bagi para pengguna jalan yang mengarah ke Garut Selatan.

“Kalau mereka (perkebunan) mengizinkan dan memberi lahan itu sebagai hibah, kami akan dirikan bangunan untuk Terminal Cikajang seluas 3 ha, dan 2 ha sisanya rest area, dengan plafon konstruksi diperkirakan mencapai Rp11 miliar,” paparnya.

Wahyu menambahkan, masyarakat sekitar berikut pengusaha angkutan menyambut rencana relokasi tersebut. “Tapi tetap saja, semua ini dikembalikan lagi ke perkebunan selaku pemilik lahan,” imbuhnya.

Lokasi Terminal Cikajang sendiri saat ini masih berdampingan dengan Pasar Cikajang. Wahyu menilai lokasi tersebut sudah tidak representatif untuk terminal tipe C.

“Lahan untuk terminal sangat kecil, kurang dari 500 meter persegi. Apalagi karena berdampingan dengan pasar, lahan yang harusnya diperuntukan bagi angkutan perdesaan (Angperdes) dan elf tergusur oleh berdirinya lapak pedagang. Akibatnya angkutan-angkutan itu berhenti di pinggir jalan, yang berdampak ada terganggunya arus lalu lintas karena kerap macet,” ungkapnya.

Saat ini Terminal Cikajang menaungi 100 unit angperdes, 67 unit angkutan rintisan, dan 170 unit elf. Persoalan serupa dihadapi Terminal Wanaraja, Terminal Samarang, dan Terminal Leles.

“Sudah lahannya sangat sedikit, terminal di beberapa lokasi itu juga tergusur oleh keberadaan pasar tradisional. Dampak akhirnya pun adalah kemacetan arus lalu lintas,” ucapnya.

Terminal Samarang sendiri direncanakan akan direlokasi ke lahan baru yang tidak jauh dari Pasar Samarang. Untuk relokasi Terminal Samarang, pihak Dishub masih melakukan inventarisasi.

“Sedangkan untuk relokasi Terminal Wanaraja dan Terminal Leles, kami belum melakukan survey karena ada fokus lain. Beberapa waktu lalu, pimpinan pernah merencanakan akan membuat jalur baru di Wanaraja dan Leles. Survey akan dilakukan setelah rencana itu berjalan,” jelasnya.***Bro

Bagaimana Tanggapan Anda ?

Komentar

Buat Kemasan Secara Online di Kemasaja.com