WhatsApp-Image-2018-12-22-at-21.35.40-300x150 PERISTIWA  KH. Sirojul Munir Menilai Kasus Sensen Bentuk Penodaan Agama

KH. Sirojul Munir Ketua MUI Garut, foto JMB

Gapura Garut ,- Kembali mencuatnya ajaran dan doktrin nabi Palsu Sensen Komara menurut Katua MUI Kabupaten Garut KH. Sirojul Munir menunjukan bahwa keberadaan Sensen Komara adalah sehat jasmani dan Rohani.

“Dulu memang rekomendasi pengadilan pada saat kasusnya pertama kali mencuat beberapa tahun silam, Pengadilan meminta Sensen direhabilitasi, namun saya melihat rehabilitasi tidak pernah dilakukan kepada Sensen, sehingga tak heran jika kemudian kasusnya saat ini kembali mencuat,”Kata KH Sorojul Munir Saat ditemui di Kantor MUI Garut Jalan Otista Tarogong Kidul Garut, Sabtu (22/12/2018).

Kiai Munir menyebut masalah Sensen sesungguhnya adalah masalah keyakinan yang selama ini diyakini olehnya, sehingga tidak dapat kita pahami jika menanggapi hanya sepintas saja.

“Intinya Sensen itu tidak sakit jiwa, melainkan ia memiliki keyakinan yang berbeda dengan kita karena menyimpang dari ajaran syariat Islam,”ungkap Kiai berpengaruh ini.

Ia menegaskan bahwa jika ajaran yang selama ini dikembangkan Sensen akibat gangguan jiwa atau kelainan psikis, tidak mungkin penginkutnya banyak dan cenderung terus bertambah.

“Memang para pengikut Sensen kebanyakan adalah orang-orang yang pemahaman agamanya dangkal sehingga mudah tergusur dan tergoda apa yang diajarkan Sensen,”katanya.

Kiai Munir memastikan jika apa yang dilakukan Sensen selama ini telah memenuhi unsur pada penodaan agama karena ia selain mengaku sebagai Imam besar dan Pemimpin Negara Islam Indonesia, ia juga mengaku nabi dengan mengganti bunyi Syahadat.

“Itu jelas jelas penodaan agama karena dengan sadar dan sehat ia mengajarkan pengikutnya untuk menggandi nabi Muhammad SAW dalam syahadat dengan nama dirinya yang mengaku-ngaku sebagai nabi. Sekali lagi ini adalah penodaan agama,”paparnya.

Dalam kasus yang mencuat saat ini yang menyeret salah satu warga sekeluarga yang membuat surat pernyataan sebagai pengikut Sensen Komara, seharusnya tidakmenjadikan Sensen sebagai saksi di Pengadilan jika ia dinyatakn sakit jiwa.

“Namun di Pengadilan pada kasus ini, Sensen masih dipanggil dan dijadikan saksi dari para tersangka pengikutnya. Jelas menurut hukum positif negara kita orang gila atau sakit jiwa tidak bisa dijadikan saksi,”tukasnya.***JMB

Bagaimana Tanggapan Anda ?

Komentar

Desain kemasan online gratis Coba Sekarang