Zaenudin bersama rekan kerjaanya saat bertugas, foto hermanto

Zaenudin bersama rekan kerjaanya saat bertugas, foto hermanto

Gapura Kota Banjar , – Dari ratusan pegawai dilingkungan Dinas Perhubungan Kominfo dan Pariwisata (Dishubkominfopar) Kota Banjar, Jawa Barat, sebagian dari mereka ternyata masih berstatus sebagai pekerja harian lepas atau pekerja Honorer yang menerima bayaran setiap bulannya tidak seberapa, bahkan jauh dari mencukupi kebutuhan hudup sehari-hari mereka.

Namun bagi pekerja yang rajin dan ulet tetap saja keberadaan itu disyukuri dan dinikmati sebagai bagian dari ikhtiar dan upaya dalam mencari Nfkah. Adalah Zaenudin (32) pria kelahiran, Kota Banjar 4 Juni 1984 yang tinggal di Dusun Sukarahayu, Desa Waringinsari, Kecamatan Langensari, Kota Banjar.

Setiap hari sejak pagi buta Zaenudin dengan bantuan sepeda motornya sudah bersiap menuju Kantor Dinas Perhubungan Kota Banjar tempatnya bekerja sebagai honorer. Jarak tempuh dari rumah ke kantornya berjarak  sekitar 12 kilometer. Tiba di kantor, ia pun harus bergegas mengikuti apel pagi beserta senior dan rekan-rekannya yang lain.

Zaenudin mempunyai tugas dibidang managemen rekayasa lalu lintas, seperti menyiapkan perencanaan kebutuhan pengadaan, penempatan dan pemeliharaan rambu-rambu lalu lintas, marka jalan dan alat pemberi isyarat lalu lintas (traffic light) di jalan Kota, Provinsi, dan nasional yang ada di wilayah Kota Banjar.

Bahkan tidak hanya pada siang hari, pada malam hari pun ia kerap memperbaiki traffic light yang rusak, rambu-rambu lalu lintas, serta peralatan lainnya yang berhubungan dengan rekayasa lalu lintas. Namun semua pekerjaan yang seyogyanya dilakukan PNS ini, ia jalani dengan dengan penuh kesabaran dan penuh keuletan.

Ayah dari Yuga Cahya (6) dan Anisa (5 bulan) ini tampak lugu, tidak banyak bicara apalagi menuntut. Meski demikian, suami dari Ipah Sulistiani (27) ini tetap semangat bekerja dan menikmatinya.

Saat Gapura Media mencoba mengikuti keseharian Zaenudin, ia juga sangat cekatan dalam menyelasaikan semua pekerjaan yang menjadi tugasnya itu. Disela-sela menyeleasaikan pekerjaanya itulah Ia juga mengungkapkan rasa senangnya dapat bekerja di Dishubkominfopar Kota Banjar meskipun sebagai tenaga honorer dengan penghasilan Rp 500.000/bulan dan harus siap bekerja 24 jam.

“Saya bisa bekerja seperti ini sudah bersyukur, meski penghasilan 500 ribu per bulan,”Kata Zaenudin mengawali perbincanganya, Selasa (23/8/2016).

Meskipun dengan penghasilan yang kecil dan kurang dari cukup tersebut, namun bagi pria yang akrab disapa Jae tidak menjadikannya mengeluh apalagi menjadi malas bekerja, malah ia selalu ceria penuh semangat  dan tidak henti-hentinya bersyukur.

“Tak masalah dengan penghasilan kecil, yang penting kita syukuri dan jalani hidup apa adanya,”tuturnya.

Dibidang lainnya pun, tenaga-tenaga honorer yang ada di Kota Banjar sangat membantu pelaksanaan tugas, namun nasibnya hingga kini tidak tentu dan belum menggembirakan.

Melihat keadaan seperti itu, sudah sepantasnya pemerintah memberikan penghargaan kepada Zaenudin maupun honorer-honorer rajin lainnya yang bekerja di dinas-dinas Kota Banjar. Karena, para honorer ini loyalitas kerjanya lebih rajin dari Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang ada di lingkup Pemerintahan Kota Banjar. Penghargaan itu bisa berupa upaya dari Pemkot Banjar untuk mengangkat honorer yang rajin menjadi CPNS.

Seorang Aktivis PMII Kota Banjar, Tsabit Andri Habibi mengatakan, tenaga honorer teladan layak untuk diberikan reaward dari pemerintah, ini penting untuk memacu semangat kerja bagi pegawai-pegawai lain, khususnya tenaga honorer yang secara penghasilan belum memadai.

“Keteladanan honorer tersebut diharapkan dapat menjadi contoh bagi pegawai lain, sehingga ada akselerasi terhadap seluruh pencapaian program kerja pemerintah yang sudah dicanangkan,”kata Tsabit.

Sementara itu, Kabid Perguruan Tinggi dan Kepemudaan HMI Cabang Kota Banjar, Joko Nurhidayat menuturkan, bahwa selama ini honorer seolah-olah terlihat sebelah mata dibanding dengan para PNS yang ada. Menurutnya, meskipun tidak semuanya memandang demikian tapi ketika fakta di lapangan yang terjadi seperti itu adanya.

“Honorer tidak sesederhana itu, ternyata mereka berkaca kepada kinerja ataupun etos pengabdian terkadang seolah menjadi lebih berat. Secara aplikatif lapangan, honorer cenderung lebih rajin daripada PNS yang sudah terjamin finansialnya ataupun kesejahtraan oleh negara,”tuturnya.

Ia menambahkan, padahal PNS punya sumpah untuk mengabdi bagi bangsa ini, dengan berbagai profesi yang digelutinya sesuai job yang sudah mereka dapatkan.

“ini harus menjadi perhatian oleh pelaku pemerhati ataupun yang lainnya, harus ingat proses diawal saat para PNS ini menginginkan menyandang amanah PNS,”imbuhnya.

Joko menegaskan, untuk para PNS harus sadar diri dan legowo ketika ada masukan dan kritikan, justru itu suatu bentuk perhatian bukan berarti bentuk kebencian. Semboyan KERJA NYATA yang ada di intansi lembaga hanya slogan kosong semata tanpa ada aplikasi nyata untuk indonesia ini.

“Bukan hanya ritualitas mengikuti kegaliban tapi harus berangkat dari hati teraplikasi nyata dengan kerja”, Ucapnya.

Joko juga memberikan himbauan agara para pekerja pemkot lainnya memiliki rasa Malu kepada para pekerja  honorer dan masyarakat luas lainnya.

“Ingat PNS digaji oleh rakyat maka mengabdilah untuk rakyat. Karena kesadaranlah kunci dasarnya mentalitas yang nantinya akan terbangun, aturan sebagus apapun kalau mentalnya mental pelanggar ya tetap saja pelanggar,”terang Joko.

Keberadaan honorer yang rajin, juga mendapatkan apresiasi dari  Wakil Walikota Banjar, Darmadji Prawirasetya. Ia  menegaskan bahwa pemkot Banjar sangat apresiasi kepada setiap PNS maupun non PNS yang sangat rajin, artinya mereka tahu tugas pokok fungsinya.

“Saya ucapkan terimakasih kepada Zaenudin maupun honorer rajin lainnya, mudah-mudahan nanti kalau ada pengangkatan CPNS bisa masuk, namun hingga kini belum tahu kapan alokasinya,”Tandasnya.***Hermanto

Bagaimana Tanggapan Anda ?

Komentar

Buat Kemasan Secara Online di Kemasaja.com