Ini kampung Cikisik yang kini rata dengan tanah, foto Yuyus

Ini kampung Cikisik yang kini rata dengan tanah, foto Yuyus

Gapura Garut ,- Siapapun semula pasti tidak menyangka, jika luapan air sungai Cimanuk bisa mencapai puluhan meter tingginya. Namun Selasa malam (20/09/2016) adalah telah menjadi bukti dan semua mata terbelalak menjadi saksi.  Jika aturan Allah SWT dilanggar maka alam akan menjadi murka, begitupun dengan banjir bandang sungai Cimanuk.

Malam itu pukul 20.00 WIB hujan mulai membasahi kabupaten Garut termasuk kota Garut, namun hujan datang begitu lebatnya, sebagian besar warga tidak mengira ini akan berdampak pada luapan air sungai Cimanuk yang begitu dasyat.

Pun Ustadz Soleh Sutarsono, atau akrab dipanggil Ustad Oleh, warga kaum lebak RT 03 RW 08 kelurahan Paminggir Kecamatan Garut Kota. Dirinya tidak menyangka jika luapan sungai Cimanuk akan meluluh lantakan RT tetangganya, yaitu RT 06 RW 08, orang menyebutnya Kampung Cikisik. Kampung ini terletak persis di bibir sungai Cimanuk, bersebrangan dengan RSUD dr Slamet Garut, dan Kampung Cikamiri kelurahan Sukakarya, Kecamatan Tarogong Kidul.

Unik memang kampung ini, degan hanya dihuni 23 KK, kampung kecil yang dikelilingi sawah ini dibagi dua wilayah, sebagian masuk kelurahan Sukakarya, satu lagi masuk ke kelurahan Paminggir.

Saat itu Oleh merasa khawatir dengan guyuran hujan begitu derasnya, hingga beberapa gang di lingkungannya banjir, karena salura air atau gorong-gorong  tidak kuat lagi  menampung dan menyalurkan air yang turun dari langit. Sehingga kemudian dia dengan beberapa warga berinisiatif  untuk membersihkan gorong-gorong  supaya aliran air cepat turun. Upaya dirinya bersama warga akhirnya berhasil karena air tidak terlalu menggenangi sejumlah gang atau lorong di wilayahnya.

Ust Olehpun masuk ke rumah dan beristirahat, namun pukul 23.00 WIB pintu rumahnya diketuk oleh seseorang, suaranya seperti laki laki tua yang sudah berumur, Oleh menyangka pria yang mengetuk pintu rumahnya akan ada urusan mengumumkan seseorang yang meninggal, karena sudah menjadi profesinya, jika ada warga kaum lebak yang meninggal, pasti orang yang dihubungi pertama kali adalah dirinya.

Namun sangkaaan itu meleset, karena warga yang mengetuk pintu rumahnya adalah Dayat, warga Cikisik, Dayat mengabarkan bahwa Kampung Cikisik telah terendam air sepinggang orang dewasa. Mendengar kabar tersebut Oleh spontan menuju kampung Cikisik didampingi Dayat, betul yang dikatakan Dayat, ternyata air telah menggenangi seluruh rumah di kampung tersebut, dan semakin lama semakin naik.

Sontak Oleh berlari kembali menuju mesjid, dan mengumumkan kepada warga pinggiran sungai Cimanuk agar segera mengungsi, karena air semakin meninggi. Oleh pun kembali ke Cikisik untuk membantu warga yang akan mengungsi, didampingi beberapa warga lainnya, Oleh mengevakuasi satu persatu warga Cikisik mulai dari manula anak-anak hingga balita.

Sempat bingung akan mengevakuasi seperti apa. Oleh berpikir harus ada seutas tali yang diikat sehingga dirinya tidak terbawa arus saat melakukan evakuasi karena air semakin deras. Akhirnya tali tambang jemuran rumah terdekat didapat, tali tersebut diikatkan ke sebatang pohon tua yang berdiri tegak disana.

Seluruh warga akhirnya berhasil dievakuasi, namun sayang seorang warga manula bernama Yayat (60 thn) hanyut terbawa arus, jasadnya belum ditemukan hingga saat ini. Yayat terbawa arus karena saat banjir bandang melanda, dirinya menaiki atap langit langit rumahnya (masuk ke para, bahasa sunda). Saat itu rumahnya terbawa arus air yang menghempas bangunan rumah hingga  pondasinya hilang rata dengan tanah. Yayat belakangan dikabarkan masih hilang bersama belasan warga lainnya.

Hingga pukul 01.00 WIB atau Rabu (21/9/2016) dini hari, air masih tinggi. Olehpun terus memantau perkembangan air dan para pengungsi, semua warga berhasil dievakuasi kecuali Yayat. Pukul 02.30 WIB air surut, Cimanuk kembali tenang, alirannya pun seperti biasa. Karena suasana masih gelap, Oleh dan warga lainnya yang terjaga, belum bisa melihat kondisi Cikisik, hanya gemuruh sungai yang terdengar, listrik PLN pun mati, sehingga keadaan gelap gulita.

Sekitar pukul 05.30 WIB Oleh bisa melihat suasana cikisik, hampir rata dengan tanah, padi yang hijau semuanya rata tak berdiri tegak, sekitar 17 rumah hancur, ada yang hancur rubuh ada pula yang hanya menyisakan pondasi, sekitar 6 rumah masih berdiri namun dindingnya ada yang jebol bahkan roboh.  Ketinggian air saat banjir bandang terlihat dari bekas guratan air di tembok, semua tak menyangka air akan setinggi itu. Enam buat motor berserakan penuh lumpur, dengan posisi yang tak beraturan, hewan ternak seperti kambing hilang bersama kandangnya, kolam kolam kecil berisi ikan sudah tak tampak berikut ikannya. Namun dari semua bangunan tersebut, satu buah mesjid tampak masih berdiri kokoh.

Pagi itu warga Cikisik hanya termenung di reruntuhan rumahnya, sebagian tampak menangis. Warga sekitar perlahan berdatangan menyaksikan, mereka semua bingung harus melakukan apa. Beberapa warga dari kelurahan datang ke lokasi, termasuk SAR dan BPBD. Saat ini sebanyak 23 KK mengungsi di mesjid Ar rivan RT 05, posko bantuan dibentuk warga RW 08, beberapa bantuan sudah mulai berdatangan, ditampung dan didata dengan cermat, supaya semuanya terdata dan tidak berceceran. Semua warga bahu membahu menolong korban.***Yuyus

Bagaimana Tanggapan Anda ?

Komentar

Booking Hotel di Garut? Hayukagarut.com