RAGAM

Salam Jumpa Mukidi, Ini Dia Humor Mukidi yang Jadi Viral di Medsos

permainan-pokemon-di-ponsel-_160716133752-692

Gapura Nusantara , – Mukidi mesti tidak jelas sosoknya yang mana yang maksud, namun mendadak ramai diperbincangkan di mana-mana. Di media sosial, grup perbincangan pada aplikasi pesan instan, nama Mukidi terus bergulir seperti tiada hari tanpa Mukidi dalam beberapa hari terakhir ini.

Ternyata Mukidi hanyalah sosok fiktif yang entah dari mana berasal dan siapa yang mencetuskannya, hingga saat ini belum mendapatkan kejelasan secara riwayat yang pasti.

Mukidi seperti cerita Sikabayan jika ditanah Pasundan atau Abunawas dalam kisah 1001 Malam dalam kisah jajirah arab. Peran Mukidi  juga masih samar dan sulit diidentifikasi dalam dunia nyata.

Berdasarkan penelusuran dari beberapa sumber dalam lansiran sejumlah media, cerita Mukidi bermula dari blog Ceritamukidi. Pada Blog itu tertulis kalau Mukidi punya istri bernama Markonah, dua orang anak bernama Mukirin dan Mukiran, serta punya sahabat bernama Wakijan. Tidak jelas juga  siapa yang menulis kisah Mukidi di blog tersebut yang kemudian tersebar di mana-mana.

Tetapi apapun itu profesi serta posisi Mukidi yang sesungguhnya, Sosok fiktifnya sudah  berhasil membuat banyak orang tertawa dengan kisah-kisahnya.

Berikut beberapa di antara kisahnya yang diambil dari blog tersebut.

MUKIDI DAN GAJAH

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 07.00. Bel sekolah berbunyi dan para siswa pun langsung berlarian memasuki kelasnya masing-masing. Termasuk Mukidi. Mukidi memang sangat dikenal oleh para guru di sekolah itu. Anaknya sih enggak bandel-bandel amat. Namun dia sangat populer sebagai anak yang nyebelin banget.

Siang itu Mukidi duduk di paling depan. Karena salah satu bangku teman yang ada di depan tidak masuk. Maka dari itu Mukidi berniat duduk di paling depan. Kebetulan pelajaran hari itu adalah pelajaran Bahasa Indonesia. Ini adalah mata pelajaran yang paling disukai oleh Mukidi. Nah pada kesempatan itu, Guru Mukidi berkeinginan untuk membuat tebak-tebakan nama hewan. Berikut dialognya

Guru: “Anak-anak, apa nama binatang yang dimulai dengan huruf G ?“.

Mukidi berdiri dan menjawab: “Gajah, bu guru !”

Guru: “Bagus, pertanyaan berikutnya. Apa nama binatang yang dimulai dengan huruf ‘D’ ?”

Semua murid diam, tapi Mukidi kembali berdiri: “Dua gajah, Bu Guru…”

….gerrr sekelas

Guru: “Mukidi, kamu berdiri di pojok sana !

Ayo anak-anak kita lanjutkan. Pertanyaan berikut, binatang apa yang dimulai dengan huruf “M”?

Semua murid diam.

Tapi lagi-lagi Mukidi menjawab dengan tenang, “Mungkin Gajah…”

Guru: “Mukidi, kamu keluar dan berdiri di depan pintu !”

Mukidi keluar dengan suuedihhh. Guru melanjutkan.

Guru: “Pertanyaan terakhir. Anak-anak, binatang apa yang dimulai dengan huruf “J”?

semua diam.

Tak lama sayup-sayup terdengar suara Mukidi dari luar kelas

Mukidi: “Jangan-jangan Gajah”

Saking kesalnya, Bu Guru menyuruh Mukidi pulang….

Guru: “Sekarang anak-anak, binatang apa yang diawali dengan huruf P ?”

Sekali lagi semua murid terdiam.

Tiba-tiba HP bu Guru berdering.

Guru: “Ya hallo…”

HP: “Maaf bu, saya Mukidi. Jawabannya: Pasti Gajah”

SETELAH MUKIDI SUKSES DAN PUNYA ANAK CUCU

Suatu malam, mbah Mukidi yang sudah berusia 85 tahun telpon ke dokter pribadinya.

“Dokter, ada yang aneh dengan toilet saya. Setiap malam waktu saya mau kencing, lampunya langsung nyala sendiri begitu saya buka pintunya.”

Sang dokter menjawab, “Mbah, Embah istirahat saja deh, nanti saya perbaiki.” Kata si dokter, mencoba menenangkan Mbah Mukidi.

Karena merasa ada yang aneh, kemudian si dokter menelpon keluarga si Embah, dan yang mengangkat putri bungsunya, Sheilla namanya.

“Halloo Dik Sheilla, tadi Mbahmu memberitahu bahwa lampu toiletnya langsung menyala saat pintunya dibuka, apa memang kamar mandi dipasang lampu otomatis ?”

Mendengar hal ini, Sheilla langsung berteriak,

“Mamah… Kakak … Mbok Ijah … Papah kencing di kulkas lagi tuhhh…”

Dokter: “Waduhhhh…”

MUKIDI NONTON BIOSKOP

Jam 8 pagi di kantor bioskop.

Kriiiiing! telepon di meja kantor bioskop XXl berbunyi.

Mukidi: “Halloow Mas…. saya mau nanya, bioskop buka jam berapa…. ?”

Penjaga: “Jam satu Mas.

Mukidi: “Bisa buka jam sembilan tidak mas?”

Penjaga: “Gak bisa. Biasa jam satu bukanya.”

Jam 11, telepon bunyi lagi.

Mukidi: “Hallow….. Jam berapa bukanya bioskop?”

Penjaga: “Kamu yang telepon tadi ya, Mas? Kan sudah dikasih tau.. bukanya jam 1”

Mukidi : “Jam 12 tidak bisa, Mas?”

Penjaga: “Tidak bisa! Emang bioskopnya Mbahmu apa!”

Mukidi: “Nawar sedikit saja, Mas. Enggak apa-apa sudah, setengah satu saja ya?”

Penjaga: [dongkol] “Sebenarnya kamu mau nonton film apa tho, kok telepon terus-terusan?”

Mukidi: [sambil menangis] “Saya ini sebenarnya di dalam bioskop, Mas. Tadi malam pas nonton pilem ketiduran. Tolong, Mas, bukakan pintunya. Saya pengin pulang.”

MUKIDI MERDEKA

Jaya adalah tetangga Mukidi, tapi mereka tak pernah rukun. Mukidi merasa Jaya adalah saingannya.

Jika Jaya beli sepeda baru, Mukidi tidak mau kalah. Mukidi ya beli sepeda baru juga.

Ketika menjelang Lebaran, rumah Jaya dicat merah. Besoknya, Mukidi mengecat dengan warna merah juga.

Karena kini 17 Agustus-an, Jaya memasang spanduk di depan rumah bertulisan “INDONESIA TETAP JAYA”.

Hati Mukidi panas dan memasang spanduk juga dengan tulisan “INDONESIA TETAP MUKIDI”

MUKIDI IKUT LOMBA NYANYI LAGU HARI KEMERDEKAAN

Mukidi: “Enam belas Agustus tahun empat lima…“.

Juri: “Salah itu…, ulangi !“.

Mukidi: “Enam belas Agustus tahun empat lima…“.

Juri : “Salah…, kesempatan terakhir!”

Mukidi: “Saya ndak salah pak, sampean dengar saya nyanyi dulu”.

Akhirnya juri serius mendengarkan Mukidi bernyanyi.

Mukidi: “Enam belas Agustus tahun empat lima…, BESOKNYA hari Kemerdekaan kita…”

AYAM GORENG

Dalam keadaan lapar, Mukidi masuk ke sebuah rumah makan. Ia memesan ayam goreng. Tak lama kemudian sebuah ayam goreng utuh tersaji. Baru saja Mukidi hendak memegangnya, seorang pelayan datang tergopoh-gopoh.

“Maaf Mas, kami salah menyajikan. Ayam goreng ini pesanan bapak pelanggan yang di sana,” kata pelayan sambil menunjuk seorang pria berbadan kekar dan berwajah preman.

Akan tetapi karena sudah terlanjur lapar, Mukidi ngotot bahwa ayam goreng itu adalah haknya.

Pria bertampang preman itu segera menghampiri meja Mukidi dan menggertaknya.

“AWAS kalau kamu berani menyentuh ayam itu…!!! Apa pun yang kamu lakukan kepada ayam goreng itu, akan aku lakukan kepadamu. Kamu potong kaki ayam itu, aku potong kakimu. Kamu putus lehernya, aku putus lehermu..!!!”

Mendengar ancaman seperti itu, Mukidi hanya tersenyum sinis sambil berkata, “Silakan! siapa takut?”

Lalu Mukidi segera mengangkat ayam goreng itu dan menjilat pantatnya.

MUKIDI LAGI..OH… MUKIDI

MUKIDI yang asli Madura, sedang berlibur ke Jakarta.

Dia keliling Jakarta dengan naik metromini.

Dia mengamati segala yg terjadi di dalam metromini. Termasuk kernet dan penumpang bus tersebut.

Tak lama kemudian si kernet bilang: “Dirman.. Dirman.. Dirman..” (tanda bahwa bus sampai di Jalan Sudirman)

Lalu seorang penumpang laki-laki teriak: “kiri..!”

Dan turunlah penumpang tersebut..

Selang berapa lama kernet teriak: “Kartini.. Kartini.. Kartini..”

Seorang cewek muda nyeletuk: “kiri..!“, lalu cewek tsb pun turun..

Beberapa lama kernet itu teriak lagi: “Wahidin.. Wahidin.. Wahidin..”

Adalagi cowok yang bilang: “Kiri!”

Tak selang lama si kernet teriak lagi: “Gatot Subrotooo! Gatot Subrotooo!”

Seorang pemuda ganteng berkumis tebal menjawab: “Kirii..!!”

Maka turunlah si kumis itu.

Maka….

Tinggallah seorang diri MUKIDI dalam bus. Dengan hati jengkel dia colek si kernet, dengan nada marah MUKIDI bilang:

“Korang ajjar sampiyan ya… Daari tadi orang-orang sampiyan panggil. Lhaaa nama saya ndak sampiyan nggil panggil! Kalo begini, kaaapan saya toron?!!!”

Untung si kernet tanggap..

“Siapa nama Bapak..?”

“Namaku MUKIDI”, jawabnya.

Si kernet langsung teriak: “MUKIDI. MUKIDI.. MUKIDI.. !!!”

MUKIDI pun lega dan berkata: “Naaaah.. Beggiitu..!! Kirri…!”

Maka turunlah MUKIDI di jalan tol.

Bagi yang menemukan MUKIDI harap menghubungi keluarganya di Sumenep.

MAAF, MUKIDI MUNCUL LAGI

Guru bertanya: “Anak-anak… Siapa yg mau masuk surga..?”

Serempak anak-anak menjawab “Sayaaaa..!”

Mukidi yang duduk di belakang diam saja..

Bu guru bertanya lagi: “Siapa yang mau masuk neraka..??”

Anak-anak: “Tidak mauuuu….!!!” Mukidi tetap diam saja.

Bu guru mendekat: “Mukidi, kamu mau masuk surga atau neraka…?

Mukidi: “Tidak kedua- duanya bu guru…”

Bu guru: “Kenapa..?”

Mukidi: “Habis waktu ayah saya mau meninggal, beliau berpesan, ‘Mukidi, apa pun yang terjadi kamu harus masuk TENTARA…!”

***dikutif dari sejumlah sumber..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *