IMG_20170213_214430-169x300 RAGAM  Puluhan Ton Ikan Keramba Jaring Apung Jatiluhur Mati Terkena Umbalan

Tonan ikan mati mengambang dipermukaan air, foto Alex

Gapura Purwakarta ,- Puluhan ton ikan di Keramba Jaring Apung (KJA) Waduk Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta, Jawa Barat, terkena umbalan (arus balik didasar air) hingga mabuk dan mati massal.

Umbalan ini terjadi akibat cuaca buruk yang terjadi hampir sepekan terakhir di Purwakarta. Petani ikan ramai ramai melakukan panen dini agar kerugian tak besar.

Adi, 43, satu petani ikan KJA menyebutkan, intensitas hujan yang tinggi menyebabkan tidak adanya sinar matahari yang menyinari KJA. Sehingga air dari dasar waduk naik ke permukaan dengan membawa endapan pakan ikan dan lumpur.

“Endapan lumpur dan pakan menjadi racun dan membuat ikan kekurangan oksigen. Sehingga ikan mabuk dan mati massal,” jelas Adi, Senin (13/2/2017).

Adi menambahkan, tahun ini dampak umbalan belum terlalu meluas dirasakan petani, meskipun ikan yang mati jumlahnya cukup banyak.

Saat ini banyak petani yang memanen ikan lebih awal untuk mencegah kerugian. Sudah dapat dipastikan, ikan dijual dengan harga murah.

“Ketimbang rugi, mending panen lebih awal saja. Tapi kasihan petani yang baru menanam ikan atau yang berumur satu bulan, mereka memilih merelakan ikan-ikannya mati. Karena dijual pun tidak ada yang menampung,” ujar Adi, yang juga pengurus Paguyuban Pembudidaya Ikan Keramba Jaring Apung (PPI KJA) Purwakarta ini.

Adapun jenis ikan yang dibudidayakan di dua waduk ini sebagian besar adalah ikan mas dan nila.

Ikan mati akibat umbalan ini didominasi ikan mas. Sedangkan ikan nila, kata Adi, sampai saat ini masih bisa bertahan hidup. Namun jika kondisi cuaca buruk berlangsung lama, maka tidak menutup kemungkinan ikan nila juga terkena dampaknya.

“Sekarang para petani menjual ikan mas yang dipanen lebih awal Rp17 ribu perkilo. Padahal jika sudah masuk masa panen harganya di atas Rp 21 ribu perkilo,” pungkasnya.***Alex

Bagaimana Tanggapan Anda ?

Komentar

Desain kemasan online gratis Coba Sekarang