Gapura Garut ,- Petugas Kotak Literasi Cerdas (Kolecer) akhir-akhir ini mengaku terkejut dan penasaran dengan adanya seseorang yang mendonasikan bukunya di rak buku Kolecer yang dikelolanya  secara misterius.

Donasi buku secara misterius tersebut diketahui secara tiba-tiba sudah dipajang di Kolecer yang berada di Taman Kiansantang, tepatnya di pertigaan jalan Papandayan dan Jalan Kiansantang pada hari Rabu (8//2019). Donasi buku tersebut doketahui sudah dua kali dalam satu pekan kemarin.

Berdasarkan pemantauannya ternyata yang mendonasikan buku-bukunya ke kolecer cukup banyak, mulai dari individu hinga aktivis berbagai komunitas penggiat literasi seperti Sulistya D. Putri salah satu penggiat FLP (Forum Lingkar Pena) yang juga telah menyumbangkan koleksi komiknya di Kolecer.

“Ada juga para penulis dari FLP lainnya, Utep Sutisna, salah satu penulis aktif dan produktif di Kabupaten Garut turut menyumbangkan karyanya. Ada juga pak Adi Wahyudi beserta anaknya, ikut berdonasi buku di kolecer. Semuanya telah menambah koleksi kolecer dengan buku-buku yang menarik, membuat para pejalan kaki semakin betah di Taman Kian Santang sambil membaca,” Kata Komarudin, patugas Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip), Kabupaten Garut, Rabu (15/5/2019).

Guna kenyamanan, kini fasilitas taman dilengkapi payung guna melindungi para pembaca dari terik sinar matahari, terutama saat bulan ramadhan ini.

Lisnawati selaku Kepala Dispusip menyampaikan apresiasi kepada masyarakat yang telah mendonasikan buku-buku pribadinya ke Kolecer.

“Kami mengucapkan banyak terima kasih kepada masyarakat yang telah mendonasikan buku-bukunya ke Kolecer, semoga menjadi ladang amal di bulan Ramadhan yang penuh rahmat ini. insyaAllah bermanfaat bagi para pemustaka atau pengunjung Kolecer,” ujarnya.

Sampai bulan April kemarin, kata Lisnawati jumlah buku di Kolecer mencapai 48 buku sejak april kemarin. Namun biasanya sampai akhir bulan ini suka banyak kejutan.

“Sedangkan tingkat pengunjung Taman Kiansantang dinilai cukup meningkat. Apalagi sejak adanya sosialisasi, para ibu sudah tidak melarang lagi anak-anaknya membaca bahkan disuruh mampir ke Kolecer, malah mereka ikut mengapresiasi “Istilahnya, lebih baik baca buku dari pada main game terus,” ungkapnya.

Lisna menyebut selain anak-anak, yang turut menjadi pembaca di Kolecer tersebut juga para pedagang, tukang becak serta masyarakat yang kerap memaanfaatkan sarana, meski tidak biasa dibawa pulang.

“Mereka sudah tidak takut membaca buku di kolecer, walau tidak bisa di bawa pulang,”tukasnya.***jmb

Bagaimana Tanggapan Anda ?

Komentar

Desain kemasan online gratis Coba Sekarang