1972-HAMIDAH-300x208 SENI & HIBURAN  6 “Film Terbaik” FFI Lahirkan Sutradara dan Aktor, Aktris Terbaik

Aktris Terbaik II FFI 1973 Jakarta (alm) Fify Young (Film “Pemberang”), dalam sebuah adegan bersama (alm) Arman Effendy di film “Hamidah” karya Iksan Lahardi Di tahun 1970-an, hampir dalam setiap festival, kematangan akting aktris legendaris Fify Young selalu diperhitungkan.
(Dokumentasi Yoyo Dasriyo)

Oleh: Yoyo Dasriyo

HAMPIR semua orang terbengong. Nyaris sulit percaya, ketika dewan juri FFI (Festival Film Indonesia) 1973 Jakarta menetapkan (alm) Benyamin S dan Rima Melati sebagai pemenang gelar Aktor & Aktris Terbaik dari film “Intan Berduri” karya (alm) Turino Junaedi. Selepas FFI itu gunjingan pun menghangatkan awal kebangkitan kembali festival flm. Kondisi itu dimungkinkan terjadi, karena di luar banyak perhitungan, jika kejayaan film “Perkawinan’ yang memenangi gelar “Film Terbaik”, sekaligus berbuah “Sutradara Terbaik” untuk (alm) Wim Umboh, tidak menuai predikat terbaik kategori pemeran utamanya. Duet penampilan (alm) Sophan Sophiaan dan Widyawati di film itu, ternyata tersisih kejutan sukses Benyamin dan Rima Melati.

Film itu hanya menempatkan Sophan Sophiaan di peringkat “Aktor Terbaik II, mendampingi (alm) Fifi Young sebagai Aktriis Yerbaik II (Film “Pemberang”). Memang dalam banyak festival film, tidak semua “Film Terbaik” berbuah gelar “terbaik” untuk pemeran utamanya. Keputusan dewan juri FFi 1980 Semarang pun, memilih Film Terbaik untuk “Preawan Desa” yang juga menuai gelar Sutradara Terbaik (alm Franky Rorimpandey).. Namun Yatie Surachman sang “Perawan Desa”, tak merebut predikat “Aktris Terbaik“ yang dimenangi Yenni Rachman (film “Kabut Sutera Ungu”)..

Sungguh pun begitu, Film Terbaik FFI 2010 “3 Hati 2 Dunia 1 Cinta” karya Benni Setiawan, sukses menyandingkan kemenangan Reza Rahadian dan Laura Basuki sebagai Aktor dan Aktris Terbaik. Itupun bukan peistiwa pertama. Film Terbaik yang melahirkan pasangan pelakon utama bergelar terbaik ditandai sejak pergelaran Pekan Apresiasi Film Indonesia 1955, sebagai cikal bakal FFI. Saat itu, sukses film “Lewat Djam Malam” (alm). Usmar Ismail sebagai Film Terbaik,.sekaligus menuai gelar Aktor dan Aktris Terbaik untuk (alm) AN Alcaff dan Dahlia. Bahkan di festival pertama itu, Aktor dan Aktris Terbaik terbagi pula dengan (alm) Abdul Hadi dan (alm) Fify Young dari film “Tarmina” karya Liliek Sujio.

Direntang waktu enam tahun selepas Pekan Apresiasi Film Indonesia 1967 mati suri, lahir kemudian wajah baru Festival Film Indonesia 1973 Jakarta. Terbukti, “kemenangan ganda” pun masih mewarnai keputusan dewan juri FFI pertama. Film “Perkawinan” sebagai Film Terbaik, dibayangi film “Pemberang” pada peringkat Film Terbaik II. Film karya (alm) Has Manan itu menempatkan Aktris Terbaik II (alm) Fify Young. Aktor Terbaik II dimenangi (alm) Sophan Sophiaan (film “Perkawinan”). Keputusan FFI 1973 yang dianggap kontroversial mengembang, hingga FFI 1974 digelar di Surabaya.

Dalam suasana sebelum diberlakukannya sistem nominasi, banyak orang berspekulasi untuk keunggulan film “Cinta Pertama”, “Tokoh” dan “Rio Anakku”. Namun dewan juri FFI melahirkan gelar baru, Film Terbaik Dengan Pujian, untuk film “Si Mamad” (alm Drs Syumandjaya), dan film “Cinta Pertama” bergelar Film Terbaik Dengan Penghargaan. Film karya (alm) Teguh Karya itu, melambungkan Christine Hakim sebagai Aktris Terbaik Dengan Pujian, dan film “Rio Anakku” mencuatkan Lenny Marlina bergelar Aktris Terbaik Dengan Penghargaan. Film karya (alm) Has Manan itu pula yang menjaringkan (alm) Kusno Soedjarwadi menjadi Aktor Terbaik Dengan Penghargaan. Predikat Aktor Terbaik Dengan Pujian dimenangi (alm) Drs. Poernomo alias Mang Udel dari film “Si Mamad”.

Keputusan tim juri FFI seperti itu terkesan paling seru, karena gelar terbaik pada kategori filmis lainnya menempatkan dua pemenang. Penulis Skenario Terbaik untuk (alm) Arifien C Noer dari film “Rio Anakku”, dilengkapi (alm) Drs Syumandjaya (film “Si Mamad”) sebagai Penulis Skenario Terbaik II. Di balik Peñata Kamera Terbaik yang diraih Akin (film “Cinta Pertama), tercatat pula Leo Fioole (film “Ambisi”) sebagai Penata Kamera Terbaik II.

Editor Terbaik Cassim Abbas (film “Rio Anakku”), diikuti Tantra Suryadi di urutan kedua (film “Cinta Pertama”). Bahkan, Idris Sardi menempati peringkat Penata Musik Terbaik I dan II (film “Cinta Pertama” dan “Rio Anakku”). Peraih gelar Penata Artistik Terbaik (alm) Ami Priyono (film “Ambisi”), dibayangi Iri Supit (film “Cinta Pertama”). Namun penilaian dua kategori yang sama-sama berpredikat terbaik, hingga FFI kekinian hanya sekali itu saja tergelar.

Apa pun hasilnya, barangkali keputusan FFI 1974 Surabaya cerminan penilaian yang paling bijak. Hasil itu sekaligus menjawab kekalahan telak film “Tokoh” (Wim Umboh), yang santer dijagokan bakal memborong Piala Citra. Sejak sistem nominasi disepakati di FFI 1979 Palembang, ketegasan FFI 1983 Medan memilih Film Terbaik “Di Balik Kelambu” (Teguh Karya), berikut gelar Aktor/Aktris Terbaik untuk Slamet Rahardjo dan Christine Hakim.

Pemenang Film Terbaik dengan kandungan pasangan pemeran utamanya berkelas terbaik, kembali lahir pada FFI 1989. Film “Pacar Ketinggalan Kereta” (alm Teguh Karya), mengantar sukses Rachmat Hidayat dan (alm) Tutty Indra Malaon. Di FFI 1990, “Taksi” sebagai Film Terbaik (alm. Arifien C Noer), juga berbuah gelar Aktor/Aktris Terbaik untuk Rano Karno dan Meriam Bellina. Hasil seperti itu masih tergelar pula, saat industri perfilman mulai meredup.

Dalam puncak FFI 1992, film “Ramadhan dan Ramona” (alm Chaerul Umam) sebagai Film Terbaik, membingkai Aktor/Aktris Terbaik untuk Jamal Mirdad dan Lidya Kandou. Sebenarnya di FFI 1976 Bandung pun, film “Cinta” (alm. Wim Umboh) berpeluang jadi Film Terbaik dengan kejayaan pasangan pemeran utamanya. Tetapi, “Cinta” peraih Film Terbaik itu, hanya memilih (alm) Ratno Timoer sebagai Aktor Terbaik, mendampingi Rina Hassim.

Kebijakan dewan juri FFI 1976, menempatkan Marini pemeran utama film “Cinta”, di peringkat Aktris Pendatang Baru Terbaik, menjejeri Enteng Tanamal dari film “Jangan Biarkan Mereka Lapar” (Chris Pattikawa). Gelar Aktris Terbaik dinilai lebih layak untuk Rina Hassim dalam film “Semalam di Malaysia” (Nico Pelamonia). Bisa dimaknai, kalau kemenangan Rina Hassim dalam persaingan dengan Marini, terdukung jam terbang pergelutan kariernya.

Selama perhelatan FFI , tercatat enam kali Film Terbaik berbuah gelar Aktor/Aktris Terbaik dan Sutradara Terbaik. Berawal dari Liliek Sujio dengan film “Tarmina” di Pekan Apresiasi Film Indonesia 1955. Duapuluh delapan tahun kemudian, (alm) Teguh Karya sukses bersama film “Di Balik Kelambu” di FFI 1983 Medan, yang berulang dengan film “Pacar Ketinggalan Kereta” di FFI 1989. Nama lainnya, (alm) Arifien C Noer (film “Taksi”), Chaerul Umam (“Ramadhan dan Ramona), dan Benni Setiawan (film “3 Hati 2 Dunia 1 Cinta”).

Terbuki, peraih gelar Film Terbaik dan peringkat terbaik lainnya, tak harus bertumpu pada satu judul film. Sikap penilaian seperti itu, justru selama ini hanya mengental dalam Festival Film Bandung (FFB). Dimungkinkan, sistem tersebut sangat bermakna dalam kaitannya dengan propaganda film Indonesia. Andai bercermin pada riwayat FFI, kisruh dua penilaian di FFI 2010 tidak akan mengemuka. Kasus baru mencuat, karena kehendak mengukuhkan Film Terbaik di luar nominasi FFI ***

Bagaimana Tanggapan Anda ?

Komentar

Desain kemasan online gratis Coba Sekarang