01-MEREKA-KEMBALI-300x187 SENI & HIBURAN  Badan Perfilman Indonesia Sikapi Piala Citra H Arman Effendy

Potret kenangan (alm) H Arman Effendy dan Grace Simon dalam adegan film perjuangan “Mereka Kembali” (1972) karya (alm) Nawi Ismail. Film romantika hijrah pasukan Siliwangi ini, yang mengantar aktor film Garut memboyong Piala Citra di FFI 1973 Jakarta.
Dokumentasi Yoyo Dasriyo)

Oleh  : Yoyo Dasriyo

AKTOR film nasional dari Garut (alm) H Arman Effendy ditegaskan sebagai penerima Piala Citra FFI (Festival Film Indonesia) 1973 Jakarta. Kemala Atmojo dari Badan Perfilman Indonesia (BPI) menandaskan itu di Jakarta (26/9), terkait artikel bertajuk “Setelah FFI 2008 Berlalu Dari Bandung, Citra Piala Citra Arman Effendy Tanpa Kepastian” yang dipublisir GapuraIndonesia.Com. Semasa hidupnya, memang Aman Effendy merasa dikecewakan panitia FFI, karena namanya tidak pernah terdaftar sebagai pemenang Piala Citra dalam buku FFI.

Kekecewaan dan tandatanya Arman kian menggalau di malam puncak FFI 1985 Bandung. Lagi-lagi nama mantan biduan dan pimpinan Orkes “Dendang Kelana” Garut ini, tidak terdaftar dalam deretan penerima Piala Citra sepanjang FFI 1973-1985. “Waktu itu saya benar-benar jadi malu hati, karena sudah siap naik ke atas pentas, tetapi panitia tidak memanggil nama saya” begitu pernah diungkapkan almarhum di kamar pembaringannya.

Di malam puncak FFI 1985 yang digelar di Lapang Gasibu, Bandung, sejumlah para penerima Piala Citra berderet menerima selempang merah berhias tulisan FFI sesuai tahun kemenangan prestasinya. Arman Effendy terpaksa hanya duduk tertegun memandangi rekan-rekannya di atas pentas. Belasan tahun, karier aktor film ini terhenti, didera sakit berkepanjangan, yang mengggejala di lokasi syuting film “Jawara” (1993) karya Liliek Sujio.

Pada FFI 1973 yang baru dibangunkan dari tidur panjangnya, setelah lama terlelap sejak “Pekan Apresiasi Film Indonesia” terhenti (1967), Arman Effendy menerima Piala Citra kategori “Aktor Harapan Pendatang Baru Terbaik” atas film “Mereka Kembali” karya (alm) Nawi Ismail, bersama (alm) Tanty Yosepha “Aktris Harapan Pendatang Baru Terbaik” dalam film “Seribu Janji Kumenanti” karya Iksan Lahardi). “Itu fakta. Itu sejarah” tegas Kemala Atmojo.

Kemala menguatkan penegasannya, dengan membuktikan link artikel berjudul “Mengapa ‘Harapan’ FFI Menghilang?” karya Yoyo Dasriyo dalam “Pikiran Rakyat” (Rabu, 17 Desember 2008), yang mengurai daftar pemenang gelar “Aktor dan Aktris Harapan” sepanjang FFI. Hanya Arman Effendy dan Tanty Yosepha yang dianugerahi Piala Citra. Tentang buku FFI yang tidak memuat nama Arman Effendy sebaga penerima Piala Citra, Kemala Atmojo menilai hal itu lebih dimungkinkan karena keteledoran panitia FFI.

Faktor keteledoran juga yang terjadi di FFI 1985 Bandung, hingga Arman Effendy tersisih dari deretan pemenang Piala Citra. Memang semasa hidupnya, Arman Effendy sangat berharap, penegasan seperti itu bisa diterimanya, jelang Bandung jadi pribumi FFI 2008. Tetapi aktor film H Deddy Mizwar dan sutradara Lambizar yang diminta menelusuri “legalitas” Piala Citra itu tidak menanganinya sampai tuntas. Keluhan aktor film Garut pun dimuat “Pikiran Rakyat” (Minggu, 7 Desember 2008), dalam tulisan “35 Tahun Arman Effendy Menanti Piala Citra”.

Maksudnya menanti penegasan tentang lambang supremasi perfilman nasional yang diterimanya. “Tidak ada yang harus dijelaskan lagi! Pak Arman benar penerima Piala Citra” tandas Kemala Atmojo. Bisa dicermati, keteledoran yang merugikan Arman Effendy, baik dalam buku FFI maupun di FFI 1985 Bandung, tidak akan terjadi andai panitia FFI fasih dengan kisah perjalanan FFI. Bahwa, di awal FFI (1973), Piala Citra pernah dianugerahkan untuk Arman Effendy dan Tanty Yosepha dalam kategori “Aktor/Aktris Harapan Pendatang Baru Terbaik”.

Hanya di FFI 1973 Jakarta, prestasi pemain harapan dihargai Piala Citra. Boleh jadi, momentum kebanggaan Arman Effendy di FFI 1973 makin terlupakan, karena selepas FFI 1973 hingga kini, insan film penerima gelar harapan terbaik hanya dianugerahi piala khusus yang tidak baku, seperti Piala Suryosumanto, Piala PWI Jawa Barat, Medali Emas Parfi dan hadiah khusus lainnya. Tentu luka hati aktor film asal Garut pun tidak akan berkepanjangan, kalau selepas FFI 1985 Bandung, mempertanyakan permasalahan yang membuat namanya absen dari deretan pemenang Piala Citra.

Tetapi, Arman Effendy lebih membiarkan tanda tanya itu mengambang, hingga jelang akhir hayatnya (22 Februari 2012). Untuk hal itu, aktor film bernama asli Achmad Effendy yang kesehariannya akrab dengan sapaan Asep Effendy, pernah berkomentar. ”Saya pikir, kalau peristiwa dalam FFI 1985 itu bersifat kekeliruan, seharusnya ada permohonan maaf dari panitia, baik lisan maupun tertulis! Tetapi, itu tidak pernah ada”

Gapura Indonesia.Com mengunggah masalah Piala Citra milik (alm) H Arman Effendy, sebagai bentuk upaya pelurusan dan penjernihan sejarah. Dengan dukungan rekan wartawan film Teguh Imam Suryadi di Jakarta, persoalan yang semula nyaris jadi “sejarah gelap” dalam FFI itu mendapat tanggapan positif dari Badan Perfilman Indonesia. Penegasan senada Kemala Atmojo itu, yang pernah didamba Arman Effendy sepanjang 39 tahun, hingga tutup usianya ***.

Bagaimana Tanggapan Anda ?

Komentar

Desain kemasan online gratis Coba Sekarang