01-ASRAMA-DARA-300x225 SENI & HIBURAN  Di Balik “Harapan” dan Pendatang Baru Terbaik, Dari Suzanna Hingga Kejutan Djenar Maesa Ayu

POTRET kenangan lawas, (alm) Suzanna kiri) dalam film “Asrama Dara” karya (alm) H Usmar Ismail. Film ini meroketkan Suzanna sebagai “Aktris Harapan” dalam Pekan Apresiasi Film Indonesia 1960, dan “The Best Child Actrees” di Festival Film Asia, Tokyo. Suzanna lalu melegenda sebagai “bintang panas’ dalam percaturan film nasional.
(Istimewa).

Di Balik “Harapan” dan Pendatang Baru Terbaik (Bagian 1)

Oleh : Yoyo Dasriyo

SEDIKIT diingat orang, jika (alm) Suzanna legenda “bintang panas” itu pernah berperingkat Aktris Harapan dari film “Asrama Dara” di “Pekan Apresiasi Film Indonesia” 1960. Sebelum FFI (Festival Film Indonesia) digelar, peringkat aktor dan aktris harapan, sudah digulirkan. Di tahun yang sama, film karya (alm) H Usmar Ismail itu membingkai nama Suzanna sebagai “The Best Child Actrees” di FFA (Festival Film Asia) Tokyo. Suzanna lalu mengarungi masa kejayaan panjang dalam perfilman negeri ini, terdukung sukses fantastis film “Bernapas Dalam Lumpur” (1970) yang menandai keberaniannya beradegan “panas”.

Banyak insan film penerima gelar “harapan” atau “pendatang baru terbaik” yang kemudian menuai reputasi terpandang. Jangan lupakan nama (alm) Franky Rorimpandey, Aktor Pendatang Baru Terbaik dari film “Fadjar di Tengah Kabut” (Usmar Ismail) di Pekan Apresiasi Film Indonesia 1967. Meski puluhan film yang diperaninya kemudian tak menggosok pamornya, namun nama Franky Rorimpandey lalu bersinar sebagai Sutradara Terbaik dan membuahkan Film Terbaik (“Perawan Desa”) di FFI 1980 Semarang..

Martabat “harapan” pernah menghangat, manakala PWI Jaya Seksi Film konsisten menggelar tradisi tahunan, pemilihan “The Best Actor & Actress”. Di tahun pertama (1970), terpilih empat aktor (almarhum); Farouk Affero (“Noda Tak Berampun”), WD Mochtar (“Kutukan Dewata”), Dicky Zulkarnaen (“Si Pitung”), dan Sandy Suwardi Hassan (“Nyi Ronggeng”). Aktris Harapan terbagi untuk Suzanna (“Bernapas Dalam Lumpur”), (alm) Chitra Dewi (“Nyi Ronggeng”), Widyawati (“Hidup, Cinta dan Air Mata”) dan Mieke Widjaya (“The Big Village”).

Di putaran 1971, terjaring nama Rachmat Hidayat, (alm) Maruli Sitompul, (alm) Soekarno M Noor dan Rima Melati. Setiap tahun pemain harapan silih berganti. Tahun 1972 (alm) Sophan Sophiaan merebut urutan keempat (“Perkawinan”), bersama Lenny Marlina (“Teror Tengah Malam”). Peringkat harapan menandai pula prestasi Rano Karno sebagai Aktor Harapan I (“Rio Anakku” 1973), di atas (alm) Purnomo (“Si Mamad”), (alm) Kusno Soedjarwadi, dan Slamet Rahardjo (“Cinta Pertama”).

Rano Karno melesat jadi Aktor Terbaik FFI 1990 dari film “Taksi” (Arifien C. Noer). Tak banyak dingat orang, Christine Hakim pemboyong enam Piala Citra, berangkat dari prestasi Aktris Harapan II (Cinta Pertama”), setelah (alm) Fify Young dari film “Jembatan Merah” (1973). Sejak penjurian tentang film dilebur ke dalam FFI, gelar Aktor/Aktris Harapan atau Pendatang Baru Terbaik pun memudar. Tidak setiap FFI, menghadiahkan gelar tersebut. Padahal di awal FFI (1973) Jakarta, Aktor/Aktris Harapan Pendatang Baru Terbaik diberikan ,untuk (alm) Arman Effendy (film “Mereka Kembali”) dan (alm) Tanty Yosepha dari film “Seribu Janji Kumenanti”.

Bahkan, prestasi Arman Effendy dan Tanty Yosepha, dihargai Piala Citra. Namun data sejarah kemenangan lambang supremasi perfilman nasional untuk pemain “harapan” itu terlupakan. Gelar itu lalu berganti Aktor/Aktris Pendatang Baru Terbaik di FFI 1976 Bandung dengan Piala Khusus, yang dimenangi Enteng Tanamal dari film “Jangan Biarkan Mereka Lapar” (Christ Pattikawa), dan Marini dalam film “Cinta” karya (alm) Wim Umboh. Terbukti, sepanjang FFI hingga kini, Piala Citra aktor dan aktris harapan, hanya dianugerahkan di FFI 1973.

FFI 1977 Jakarta, memilih Roy Marten untuk Aktor Harapan dari film “Sesuatu Yang Indah” (Wim Umboh).,dan Ismail Soebardjo bergelar Sutradara Harapan Terbaik (film “Remaja ’76”). Ini kejutan gelar baru, yang membanggakan Ismail, karena membayangi gelar Sutradara Terbaik (alm Drs Syumanjaya) dari film “Si Doel Anak Modern”. Film pengulang sukses (alm) H Benyamin S berpredikat Aktor Terbaik” di FFI 1977, setelah “Intan Berduri” (FFI 1973). Gelar Sutradara Harapan Terbaik”, bagai pelipur lara insan film saat itu, atas vonis menyakitkan dewan juri yang memutuskan Tidak Ada Film Terbaik.

(Bersambung)

Bagaimana Tanggapan Anda ?

Komentar

Desain kemasan online gratis Coba Sekarang