01-PARFI-300x198 SENI & HIBURAN  Rakernas PARFI 2014: Selepas Rintangan Panjang Mengekang PARFI.

Keterangan foto:
Potret kenangan manis saat Rani Permata Dicky Chandra, mantan Ketua DPC PARFI Garut, mencolekan kue ulangtahun untuk Yoyo Dasriyo (23 November), seminggu jelang pelantikan DPC PARFI Garut 2009. Kini yang berulangtahun itu didaulat untuk memimpin PARFI Garut.
(Foto: Pendi Pamela)

Oleh: Yoyo Dasriyo

Ironis. Di tengah bara industri perfilman nasional, justru pamor PARFI sebagai organisasi profesi artis film negeri ini bernasib lara. Ketua Umum DPP PARFI H Aa Gatot Brajamusti mengaku, pihaknya belum bisa bekerja secara maksimal melaksanakan semua program kerja sepanjang periode 2011-2016. “Sejak saya terpilih memimpin PARFI, secara efektif baru enam bulan terakhir ini saya bisa bekerja..” ungkap Aa Gatot Brajamusti dalam Rakernas PARFI 2014, yang berakhir Jumat malam (21/11) di vila “Bukit Danau” Puncak, Cipanas Bogor.

Kondisi itu terjadi karena banyak kerikil permasalahan berkepanjangan, yang merintang langkah Aa Gatot, termasuk kasus gugatan pihak Jenny Rachman – mantan Ketua Umum PB PARFI. Proses hukum yang berllangsung selama dua tahun, bermuara dengan kemenangan Aa Gatot Brajamusti. ”Baru tahun 2013 Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Marie Elka Pangestu, melantik jajaran pengurus DPP PARFI” tutur Aa Gatot kemudian.

Namun badai yang menerpa organisasi insan perfilman nasional ini, agaknya masih bersisa dengan kemelut yang menjerat kepengurusannya. Tambal sulam dalam kepengurusan DPP PARFi pun dilakukan. Pergantian sekretaris umum dari Riza Pahlawan ke Rachman Yacob, kini ditangani Aditiya Gumai. Ketua OKK MH Thamrin Lubis, berganti Eddie Riwanto. Tahmrin Lubis menempati Kepala Sekretariat

Kecuali itu, Ellen Sukmawati, tampil sebagai bendahara umum menggantikan Ratna Komalasari. Yuma Aditiya mengganti Derry Drajat sebagai Ketua Bidang Pendidikan dan Pelatihan. Lalu, Linda Sulaiman menggeser Guntur Bumi untuk Ketua Bidang Sosial, dan Adenin Adlan sebagai Ketua Bidang Usaha. Dalam Rakernas 2014, Aa Gatot menuntaskan DPD PARFI Jawa Timur dan Gorontalo yang sekian lama terlilit permasalahan.

Jelang malam puncak penutupan Rakernas, suasana panas sempat memecah dengan ledakan emosi intern DPD Jawa Timur. Aa Gatot dengan sigap, luwes, dan komunikatif, mampu meredam gejolak itu. “Ini ruangan Rakernas PARFI ya! Bukan kantor DPR.!” canda Aa Gatot bersambut gelak tawa semua peserta Rakernas. “Tadi seseorang menelepon saya! Dia menanyakan keributan dalam Rakernas. Aa ‘kan ‘Bapak Perdamaian Dunia’, masak anggota PARFI–nya bemusuhan? Saya malu…! Saya bilang, tidak ada apa-apa! Aman-aman saja.” ceritanya.

Sesaat saja, pihak yang bertikai pun berdamai. Aa Gatot sendiri memotret mereka untuk berfoto bersama. Suasana Rakernas tergelar akrab dan penuh kekeluargaan. DPP PARFI kini telah melantik kepengurusan DPD Sumatera Utara, Sumatera Barat, Kalimantan Barat, Jawa Timur, Gorontalo, Jawa Barat, Jawa Tengah, DIY Yogyakarta, Bali, Nusa Tenggara Barat, Sulawesi Tengah dan DPD Kalimantan Selatan. Beberapa DPD PARFI yang belum mendapat SK DPP, tercatat DPD Banten, Kalimantan Timur, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat dan Sulawesi Selatan, karena belum melaksanakan Musda.

Hingga saat ini, PARFI se-Indonesia tersebar dengan 20 DPD PARFI dan 15 DPC PARFI, yang berkapasitas total 1.078 anggota. Selepas Rakernas PARFI 2014, pihak DPD PARFI Jawa Barat bersiap melantik kepengurusan DPC PARFI Tasikmalaya, Ciamis dan Sumedang. Tiga kabupaten di Priangan itu, merupakan bagian dalam historis perfilman nasional. Tasikmalaya melahirkan nama bintang legendaris Conny Suteja dan Farida Pasha. Ciamis mengental dengan reputasi Tina Melinda dan Rahayu Effendy, meski bintang ini kelahiran Bogor. Sumedang membidani kelahiran (alm) Titien Sumarni, sang primadona perfilman nasional zaman baheula.

Ketiga DPC PARFI di Priangan Tmur itu, merupakan langkah pengembangan setelah Garut tampil jadi pelopor DPC PARFI di Jawa Barat (2009). Reputasi Garut jadi sejarah panjang dalam perfilman nasional, dengan sukses keaktoran film dari (alm) Kusno Sudjarwadi, (alm) Dicky Zulkarnaen, (alm) Arman Effendy. Garut pun terbingkai sebagai daerah yang paling deras untuk syuting film nasional sejak tahun 1961, dan lahirnya kameraman (alm) R Husen di masa kejayaan “Perfini” pimpinan (alm) H Usmar Ismail.

Kekuatan historis itu yang mendukung Garut sebagai pelopor pendirian DPC PARFI di Jawa Barat. Namun kelangsungan DPC PARFI Garut selepas Rani Permata, kini jadi tantangan bagi penerusnya. Semua peserta Rakernas pun memahami kondisi Garut, yang harus bernasib “layu sebelum berkembang”. Sungguhpun begitu, Ketua DPD PARFI Jawa Barat Ainun Azhar meyakini, Garut akan mampu bangkit kembali dengan kepedulian dari pemkab setempat. Tedukung lagi dengan solidnya kekompakan anggota organisasi profesi keartisan film di daerah Garut. ***

Bagaimana Tanggapan Anda ?

Komentar

Desain kemasan online gratis Coba Sekarang