01-BADAI-PASTI-BERLALU-300x216 SENI & HIBURAN  Achmad Nugraha:  Orang Garut Selatan di Balik Pamor Roy Marten

Keterangan foto:
Christine Hakim dan Roy Marten dalam film “Badai Pasti Berlalu” (1977) arahan (alm) Teguh Karya. Di balik akting Roy Marten, banyak bersuara Achmad Nugraha, warga Bungbulang Kab Garut.
(Dokumentasi Yoyo Dasriyo)

Oleh: Yoyo Dasriyo

Suatu siang di “Grand Sahid Jaya Hotel” Jakarta, saya terbengong. Selesai shalat Dhuhur di mushola yang berada dihotel itu, seorang lelaki simpatik dan bersahaja manggut sambil tersenyum. Lalu bergegas melepas sepatu dan kaos kakinya, untuk berwudlu. Saya kenal betul sosok lelaki itu. “Permisi, ‘Mas..! Mau naroh sepatu di sini aja!” katanya menempatkan sepatunya di ujung kaki kursi, yang saya duduki di dekat batas pintu masuk ke mushola.

“Alhamdulillah ketemu di sini..!” saya mengulurkan tangan. Giliran lelaki itu balik tertegun. Belum sempat dia bicara, saya menyapanya “Mas Achmad Nugraha,  ‘kan?” Lelaki itu melonjak. “Iya…! Kok tahu saya? Dari mana, ‘Mas?” tanyanya keheranan. Saya mengaku dari Garut. Perbincangan sekilas jadi berbahasa daerah Sunda halus. “Abdi oge sami ti Garut, mung ka pakidulan. Leresan Bungbulang! Pun aki sareng wargi-wargi abdi aya di Bungbulang” balasnya.

Orang memang tak banyak kenal sosok Achmad Nugraha, nama lengkap lelaki itu. Meski berprofesi di dunia perfilman nasional, namun wajahnya tersembunyi di balik kamera. Di galery Google pun, tak ditemukan foto profilnya. Padahal, Nugraha – begitu nama akrabnya, pernah membintangi sejumlah film populer karya sutradara pujian. Tahun 1975 tampil dalam film “Kenangan Desember” karya (alm) Ami Priyono.

Muncul kemudian di film “Rembulan dan Matahari” (Slamet Raharjo), menyusul film garapan (alm) Arfien C Noer seperti “Petualang-Petualang”, “Serangan Fajar”, serta film “Jakarta 66”. Bahkan dalam film “Serangan Fajar”, Nugraha merangkap jabatan sebagai asisten sutradara. Belum terhitung lagi dengan puluhan sinetron, masa kejayaan TVRI Pusat. Memang, sebagai figur pemain, Nugraha tidak sepopuler aktor lainnya. Tetapi prestasi spesifik lelaki kelahiran Tasikmalaya berdarah Garut Selatan itu, justru suaranya menghidupkan aksi aktor kenamaan Roy Marten.

Puluhan film nasional yang diperani Roy, menyatu dengan kekuatan olah vokal Nugraha. Profesi Achmad Nugraha cenderung lebih menguat sebagai dubber (pengisi suara), yang banyak bersibuk di balik layar. “Seueur pisan film Roy Marten, nu suarana ku abdi mah!” Nugraha tertawa. Walau banyak mengisi suara aktor terkenal lainnya, tetapi suara Nugraha jadi langganan untuk film-film yang dibintangi Roy Marten. Seperti juga Titi Qadarsih, yang menjual suaranya untuk akting Christine Hakim.

Itu terjadi dalam film-film nasional, sebelum Festival Film Indonesia (FFI) 1977 Jakarta memberlakukan ketentuan, tidak memberi penilaian untuk pemain utama dan pembantu utama yang bersuara orang lain. Waktu itu Ketua dewan juri FFI (alm) D Dyayakusuma menilai, pemain film yang menggunakan jasa dubber diibaratkan sebagai pemain pantomim. Karenanya, kasus pun pernah menghangat selepas FFI 1978 Ujungpandang (Makassar).

Pasangan pemenang gelar “Aktor dan Aktris Terbaik” di festival itu, ternyata menggunakan dubber. Aktor (alm) Kaharuddin Syah di film “Letnan Harahap” karya (alm) Sophan Sophiaan), bersuara (alm) Rachmat Kartolo. Akting Joice Erna dalam film “Suci Sang Primadona” karya (alm) Arifien C Noer, bersuara Titi Qadarsih. Berbeda dengan kasus sang pendatang Merlyna Husein, yang tampil gemilang di film “Gadis Penakluk” FFI 1981 Surabaya. Artis ini gagal meraih Piala Citra.

“Suara Merlyna terpaksa diisi Lira Rosdiana, karena waktu itu dia mengalami musibah lalu lintas yang merusak wajahnya” cerita Edward P Sirait sutradara film itu di studio PFN Jakarta. Sejak saya tahu Nugraha sebagai pengisi suara Roy Marten, serasa tidak bisa menyaksikan permainan Roy Marten secara utuh. Dalam film-film Roy sebelum film “Sesuatu Yang Indah” (alm Wim Umboh), penampilan aktor itu dibayangi sosok Nugraha. Seketika Achmad Nugraha tertawa mendengar pengakuan saya.

Pekerjaan “dubber” harus mampu dan fasih menerjemahkan akting orang lain ke dalam suara. Profesi Nugraha di bidang dubber, amat menuntut keahlian tersendiri. Sungguhpun kini  pekerjaan “dubber” tak lagi selaris era 1970-an, namun Nugraha masih banyak order pengisian suara untuk film lainnya. Proses syuting film nasional, sinetron dan film televise pun, sudah lama menggeser porsi “dubber”, karena penerapan teknik “direct-sound”. Pengambilan gambar, sekaligus perekaman suara.

Perjumpaan sekilas dengan Achmad Nugraha siang itu, sangat berbatas waktu.

Sang penjual suara untuk Roy Marten itu terburu-buru mengerjakan Shalat Dhuhur. Saya pun tak sempat memotret. Kamera tersimpan di ruangan aula. Dalam keterbatasan pertemuan itu, Nugraha sempat membanggakan kampung halaman leluhurnya di Bungbulang, yang dikenal sebagai penghasil “batu aji”. ”Itu lahan bisnis, ‘Kang…!” katanya sambil tertawa, dan memburu tempat wudlu. Dua minggu lalu, aktor dan sutradara H Eddie Riwanto tertarik membicarakan batu Bungbulang.

Aktor ini tertegun, setelah saya sebut Achmad Nugraha berkampung halaman di Garut Selatan itu. “Ah.. saya baru tahu Nugraha dari Bungbulang” Eddie Riwanto tertawa. Betapapun, warga Garut layak berbangga. Terbukti, warga Bungbulang itu pernah mendukung masa kejayaan aktor film Roy Marten. Suara Achmad Nugraha berperan besar di balik pamor Roy Marten. Bintang laris dunia film nasional, yang pernah bergelar The Big Five bersama Robby Sugara, Yatie Octavia, Dorris Callebaut dan Jenni Rachman. ***

Bagaimana Tanggapan Anda ?

Komentar

Desain kemasan online gratis Coba Sekarang