MAKAM-NIKE-300x200 SENI & HIBURAN  Peringatan Kelahiran Nike Ardilla : “Mega Bintang” Dari Bukit Ardilayang

Makam (alm) Nike Ardilla di Desa Imbanagara Kecamatan Cikoneng, Kab Ciamis. Penataan “rumah abadi” mega bintang ini, dibuat memiripi bangunan makam (alm) Bung Karno di Blitar. (Foto: Yoyo Dasriyo)

Peringatan Kelahiran Nike Ardilla : Bagian 2

Oleh: Yoyo Dasriyo

Semua orang tahu. Lejitan sukses Nike Ardilla lebih kental dengan nama Bandung. Bahkan sebelum beranjak dewasa, sebutan nama Ciamis jadi kunci penangkal “jual-beli” canda saya dan Nike. Memang, sejak (alm) Denny Sabri – pengorbit karier Nike, mempertemukan saya dengan gadis belia itu di Gedung “Serba Guna” Tasikmalaya (1987), lelucon segar yang ceplas-ceplos tak pernah kering dalam setiap perjumpaan. Padahal terus terang, di awal pertemuan itu saya pernah dingin menyalami tangan sang gadis. Nike masih berwajah kecut. Tidak ada senyum keakraban.

Namun kesan awal yang kurang bersahabat itu, lalu mencair dalam perjumpaan dan kebersaaman panjang. Ternyata, gadis belia rupawan dan manja itu, sosok humoris. Hangat dan akrab. Canda segarnya mengalir dengan tawa cerianya. Nama kampung halaman pun jadi bahan “olok-olokkan” seenaknya…Tanpa segan, Nike ‘menyudutkan’ Garut, kampung halaman saya, di atas pujian tentang Bandung. “Kenapa sih mesti pulang ke Garut? Emang ada apa di Garut teh..? Garut mah garing..!” Gadis itu melancarkan “serangan” sambil tertawa.

Tersulut lagi dengan canda Cut Irna “rocker” sobat kentalnya, yang mengunggulkan Tasikmalaya. Saya segera membalas “serangan” Nike: “Neng..,kampung halaman itu jangan dilupain dong! Kapan atuh nona cantik pulang ke Ciamis?” Begitu nama Ciamis disebut, seketika gadis jenjang itu cemberut. Bola matanya mendelik tajam. Nike merengek ,manja. “Jangan bawa-bawa nama Ciamis atuh! Itu mah kampung halaman papi…!” pinta artis yang akrab dengan sapaan “Eneng” itu. Saya mendadak sibuk menangkis cubitan gemasnya. Ibunda Nike, Ny Ningsihrat, tertawa kecil menyaksikan duel canda itu.

Setiap Ciamis disebut, canda Nike pun surut. Sang gadis diam membisu. Aksi canda semacam itu selalu menghangat, dalam laju kendaraan ke saba kota. Saya tahu, kalau Nike diam, bukan berarti “kalah” karena candanya bisa dipatahkan. Justru gadis itu tengah fokus mencari “bahan baru”, untuk segera meluncurkan lagi “serangan”. Nike tak mau kalah! Benar juga, tiba-tiba gadis itu berdendang lirih dengan ekspresi meyakinkan. Tangannya bergaya meniru aksi penyanyi di atas pentas. Bibir mungil belia itu menggetarkan syair lagu: “Mulanya biasa saja.. Kita saling kenalan….“

Syair lagu “Mulanya Biasa Saja” nyanyian Meriam Bellina itu, jadi senjata Nike untuk meredam canda saya. Terpaksa saya harus janji untuk tidak menyebut lagi Ciamis. Kalau daerah itu disebut lagi, Nike mengancam akan menyanyikan lagu itu, saat saya berdua seseorang yang bisa disindir dalam syair lagu. Itu bukan sekadar ancaman. Tanpa keraguan, Nike pernah menyindir keintiman saya dengan lagu itu, di depan gadis sasarannya. Tak perduli saya malu hati. Sang artis pun ceria. Tertawa nyaring. Itu lintasan kenangan kecil, dari kebersamaan panjang bersama Nike Ardilla.

Ketika Minggu pagi 19 Maret 1995, (alm) Denny Sabri dan rekan wartawan Kusna Sudradjat, menjumpai saya di Garut, masih belum memastikan Nike sebagai korban tewas di Jl RE Martadinata Bandung itu. Kejutan kabar duka pagi itu masih simpang siur. Kalaupun benar Nike, saya menduga jasad sang bintang dikebumikan ke daerah kampung halaman leluhurnya di Ciamis. .Ayah Nike, (alm) RE Kusnadi, seorang ningrat Ciamis, dan Ny Ningsihrat – ibu almarhumah dari Bandung. Gadis bungsu tiga bersaudara bernama lengkap, R Nike Ratnadilla itu, terlahir di Bandung 27 Desember 1975.

Titian perjuangan kariernya di pentas musik slow rock, dibuka dengan mempopulerkan nama Nike Astrina. Nama temuan Denny Sabri yang bernilai historis, karena saat awal karier Nike dtanganinya, Denny tengah gencar mempromosikan Nicky Astria. Namun sang “bintang kehidupan” Nike mulai bersinar, setelah berganti nama Nike Ardilla. Tak banyak orang tahu, nama seindah Nike Ardilla itu terinspirasi dari Ardilayang. Nama bentangan sebuah bukit, yang melatari Desa Imbanagara, Ciamis.

“Saya temukan nama Nike Ardilla itu! Deddy Dores pun setuju, untuk mengusulkan nama Nike Ardilla ke produser rekaman, jelang peluncuran album pertama Eneng” begitu pernah dikisahkan (alm) RE Kusnadi di Ciamis. Nama itu dimaknai, sebagai kenangan ke kampung halamannya. Ketika Nike Ardilla beranjak membintang, Ciamis mengusik kecintaan tersendiri. Bahkan jelang kepergiannya, Nike membangun rumah megah menghadap ke Jalan Raya Ciamis untuk peristirahatan. Tetapi sebelum rumah itu sempat dihuninya, kenyataan lain menjemput Nike ke pemakaman keluarga besar leluhurnya ***

Bersambung

Bagaimana Tanggapan Anda ?

Komentar

Desain kemasan online gratis Coba Sekarang