03-NIKE-ARD-207x300 SENI & HIBURAN  Peringatan Kelahiran Nike Ardilla : Senang Menirukan Aksen Bicara Ida Iasha

Sang “mega bintang” legendaris Indonesia (alm) Nike Ardilla. Kemasyhuran nama dan lagu-lagunya mampu menembus batas.
(Dokumentasi Yodaz)

Peringatan Kelahiran Nike Ardilla : Bagian 3

Oleh: Yoyo Dasriyo

Hanya terhalang beberapa rumah, dari lokasi rumah peninggalannya. Duaratus meter, dari keramaian jalan raya. Sebuah bentangan jalan aspal selebar kendaraan roda empat, disediakan sebagai sarana penghubung ke lokasi makam Nike. Suasana kerindangan yang nyaman memagari jalanan kecil, yang membelah pemukiman itu. Kenyamanan para peziarah pun dilengkapi fasilitas lahan parkir, di dekat kawasan makam. Sejak jasad Nike Ardilla menyatu dengan bumi Desa Imbanagara, hingga kini pusara bintang kondang itu turut menderaskan arus wisatawan ke Ciamis.

Imbanagara, perkampungan yang semula sunyi, melegenda dalam sejarah keartisan Indonesia. Nama desa itu jadi muara kehidupan, dari seorang “mega bintang” negeri ini. Meski tak sederas pada era 1990-an, namun hingga tahun kesembilanbelas sepeninggal Nike, para pengunjung makam artis itu masih saja mengalir dari berbagai pelosok Tanah Air. Terlebih, karena lokasi “rumah abadi” Nike Ardilla strategis. Tak jauh dari batas Kab Tasikmalaya. Tanpa atmosfer sepi di areal pekuburan, dari kejauhan pun tampak atap bangunan makam Nike Ardilla tampil beda.

Bentuk atap peneduh makam itu ditata artistik. Kekokohan tiang-tiang penyangganya yang berhiaskan ukiran, sengaja didatangkan dari Jepara. Walau begitu, keindahan dan kemegahan makam Nike Ardilla, bukan karena bangunan pusara seorang “mega bintang”. Justru, itu wujud permintaan almarhumah semasa hidupnya. Dengan mata membasah, Ny Ningsihrat Kusnadi ibu Nike menuturkan kembali permohonan ganjil anak gadisnya, sepulang berziarah ke makam Bung Karno bersama Dessy Ratnasari. Waktu itu, Nike didamping ibunya, turut promosi film “Olga, Juara Sepatu Roda” di Blitar.

“Si ‘Eneng’ pernah bilang, ‘Mih upami engke Eneng maot, makamna teh hoyong sapertos makam Bung Karno. Heug seueur nu sarumping. Duh, Eneng mah resep. Sae nya,‘Mih!” Nike bermanja-manja di pangkuan ibunya. Sang gadis membayangkan dirinya tutup usia. Sosoknya terbaring di balik makam, seindah makam Bung Karno, yang sering mengalirkan peziarah. Seketika Ny Ningsihrat tersentak. Cepat menepis omongan almarhumah, dan memintanya untuk tidak bicara tentang kematian. “Pamali, Eneng…! Eneng teu kenging nyarios kitu!” Ny Ningsihrat cemas.

Nike tertawa nyaring, menertawai kecemasan ibunya. “Muhun…, moal atuh ‘Mih! Eneng moal maot…!” balas Nike, membujuk ibunya agar kembali ceria. Sesaat Ny Ningsihrat memandangi wajah anak gadisnya yang senang bermanja di pangkuannya. Tiba-tiba ibu Nike kaget. Sepasang bola mata anaknya, sekilas tampak membiru. ”Mirip seperti mata artis Marilyn Monroe!” ceritanya. “Kenapa..,‘Mih?” Nike keheranan. Ibunya terdiam memandangi mata Nike. Penuh tanya. “Eneng eta soca nganggo naon…? Janten biru..!” tanya ibu Nike.

Sang gadis pun terbengong, lalu bergeleng kepala. Ibu dan anak saling bertatapan. Memang, Nike dikenal mengidolai Marilyn Monroe. Namun nyaris tak diungkap di mass media, Nike sebenarnya pernah jadi penggemar berat Ida Iasha. Tak terlukiskan kebanggaan Nike, saat berpeluang tampil bermain film “Kasmaran” karya Slamet Rahardjo (1988), untuk mendampingi Ida Iasha. Sosok dan kecantikan alami gadis belia itu, dinilai Slamet pantas sebagai figur adik Ida Iasha, bintang yang reputasinya tengah berkilat.

Peluang jumpa bintang idolanya di Bandung dalam film pertamanya itu, membuat Nike makin fasih meniru aksi dan aksen bicara Ida Iasha, yang masih bergaya asing. Selepas film itu, Nike seolah tiada bosannya “menjual” canda, menirukan gaya tutur Ida Iasha. Masih segar dalam ingatan,saat almarhumah mencandai saya di rumahnya. Itu pun bukan hanya sekali. Bahkan, kapan dan di mana pun, Nike bisa tiba-tiba saja beraksi seperti seorang wanita karier Indonesia, yang lama menetap di luar negeri. Itu guyonan kesukaan Nike.

Tanpa canggung-canggung, Nike berakting mondar-mandir di ruang tamu. Terkadang bertolak pinggang, sambil bertutur dengan aksen bicara yang kini mirip Cinta Laura. Berlenggak-lenggok mengumbar senyuman. Pandangannya mengerling, dan telunjuk menuding “Sekarang ini saya sangat sibuk! Saya baru pulang dari luar negeri, and.., musci mengurus banyak perusahaan… Sorry, sekarang you musci cunduk sama saya punya perincah ya, karena saya direkcris ucama..” Tangan “Si Geulis” pun meniru aksi merokok. Lalu duduk ongkang-ongkang kaki. ***
(Bersambung)

Bagaimana Tanggapan Anda ?

Komentar

Desain kemasan online gratis Coba Sekarang