11-NIKE-300x209 SENI & HIBURAN  Peringatan Kelahiran Nike Ardilla : Langkah Dijemput Wajah Asing

Kiki Amalia, (alm) Nike Ardilla, Cut Irna dan Sisca, dalam film “Gadis Foto Model” (1988) garapan S Marcus. Serampung film ini, Nike dan Cut Irna siap dibintangkan di film “Gadis Bintang”.(Foto Dokumentasi Yodaz)

Peringatan Kelahiran Nike Ardilla Bagian ke 11

Oleh: Yoyo Dasriyo

Padahal di dalam skenario film “Gadis Bintang”, saya ciptakan bintang kondang berbudi luhur itu, hanya untuk menunggu kemungkinan lahirnya bintang kondang seperti tokoh “Ratna”. Memang, “Ratna” pilihan nama tokoh gadis itu, saya adopsi dari Ratnadilla nama panjang Nike. Namun kebetulan atau bukan, Nike mewujudkan pribadi pujian dengan jiwa sosialnya, seperti “Ratna”. Cermin bening dari sang bintang fenomenal itu, makin memagut kecintaan para penggemar beratnya. Setelah program film “Gadis Bintang” tertunda, Denny memfokuskan laju karier Nike.

Terlebih, karena sang gadis makin bernampilan menawan. Dengan bangga dan optimis, Denny Sabri bertandang ke rumah Deddy Dores di Jakarta, untuk memamerkan foto Nike hasil bidikannya yang tampak seperti seorang “bintang”! “Waktu itu saya sedang di rumah Deddy Dores. Tiba-tiba ’Kang Denny bilang, Ded., yeuh duiiit!’!” ungkap Harry Tasman berkisah melalui telepon dari Jakarta. “Duit” diartikan sebagai “bahan” yang menjanjikan sukses komersial. Denny menunjukkan foto-foto terbaru Nike, dalam kematangan usia remajanya.

Babak baru dalam perjuangan karier Nike mulai dijalaninya. Denny Sabri pun bekerja keras, untuk segera membuktikan sukses bintang baru, yang sekian lama dibinanya. Tetapi masa-masa itu saya berbeda kesibukan. Tidak bisa turut dalam perjalanan Nike ke dapur rekaman. Saya sibuk di lokasi syuting sinetron “Tragedi Bagendit”, bersambut “Ayu” dan film “Semua Sayang Kamu” (Dewi-Cipluk) garapan Ida Farida di Bandung. Laksana anak panah terlepas dari busurnya, reputasi Nike Ardilla meroket ke deretan artis pendatang.

Kefasihan Deddy Dores membaca karakteristik suara gadis itu, melambungkan karya lagunya bertajuk “Seberkas Sinar”. Lejitan sukses lagu itu bisa bermakna “Seberkas Sinar”, untuk nama baru, Nike Ardilla, sekaligus menutup riwayat perjuangan kepopulerkan nama Nike Astrina! Bintangnya kian berkilat, dengan sukses lagu “Bintang Kehidupan” Suatu siang di rumahnya, (alm) Nike Ardilla bertutur tanpa canda: “Sebenarnya sih Eneng tidak suka sama nama Nike Astrina! Habis, Eneng sering dianggap mendompleng nama Nicky Astria. Huh.., enak aja!” katanya polos.

Gadis ini mengaku lebih menyukai nama Ratnadilla. “Itu kan nama Eneng sejak lahir, dikasih sama orangtua…” katanya kemudian. Namun, Nike Ardilla jadi sebuah nama yang melekat dengan dirinya. Kariernya pun mengembang pesat, hingga merambah ke kancah film, sinetron dan bintang iklan. Sukses awal Nike Ardilla itu, menyalakan hasrat saya untuk membintangkannya di film “Selirih Bisikan Kasih”, produksi TVRI Pusat. Sebagai penulis cerita dan skenarionya, saya bisa mengusulkan untuk menghadirkan Nike berperan utama.

Pikir saya, film untuk paket bergengsi “Film Cerita Akhir Pekan”.itu, kesempatan melayani tantangan Denny Sabri, yang hanya akan melepas Nike jika berperan utama. Ironisnya, H Alfadin sutradara kampiun di TVRI Pusat, tak mengenal nama dan sosok Nike Ardilla. “Itu artis baru ‘ya..! Penyanyi atau pemain film? Saya belum tahu..” katanya datar sambil memandangi foto Nike, yang saya sodorkan. Siang itu di kantin Studio TVRI Pusat, akhir Oktober 1990. Terus terang, saya terpukul kecewa. Terlebih, karena sutradara itu mengaku sudah mengantongi nama lain, seorang artis pendatang yang memungkinkan pas berperan”Nining”.

Namun peluang menghadirkan Nike Ardilla masih terbuka. Sutradara H Alfadin minta saya membawa Nike ke TVRI Pusat, sebelum jadwal syuting film “Selirih Bisikan Kasih” digelar di Bogor. Saya bergegas pulang memburu rumah Nike di Bandung. Ingin segera berbagi kabar gembira, dengan Nike dan orangtuanya. Di luar bayangan, kehadiran saya dijemput suasana lain. Kerumunan sejumlah remaja tampak di halaman rumah sang artis Sebagian di antara mereka hilir-mudik. Hiruk-pikuk. Di sudut lainnya, tampak remaja bernyanyi-nyanyi dan bermain gitar.

Tidak ada seorang pun yang saya kenal. Semua wajah asing. Pandangan dan sikap mereka bertanya-tanya. Saya jadi orang asing di depan rumah, yang pernah bertabur tawa dan canda Nike. Masih juga kaki melangkah, menapaki teras rumah itu, sambil berucap salam. Saya menegarkan diri. Seorang gadis menyapa. “Bapak mau cari siapa..?”.Sapaan asing seperti itu mengingatkan luka hati, waktu bertandang ke rumah Betharia Sonatha di Bogor (1984), setelah pamor “Bea” membintang di ladang penyanyi pop.

(Bersambung)

Bagaimana Tanggapan Anda ?

Komentar

Desain kemasan online gratis Coba Sekarang