Kenangan kebersamaan tahun 1975, Yoyo Dasriyo, Neneng Susanti, (alm) Veronica Irama di Tasikmalaya, sebelum meluncur memburu Banjar. (Foto: Cang Anwar)

Kenangan kebersamaan tahun 1975, Yoyo Dasriyo, Neneng Susanti, (alm) Veronica Irama di Tasikmalaya, sebelum meluncur memburu Banjar.
(Foto: Cang Anwar)

Menapak Jejak Rhoma Irama: Bagian (5)

Oleh: Yoyo Dasriyo

SAMPAI tahun 1969 sebelum merapat ke grup “The Beach Girls”, Veronica banyak tampil dengan band pengiring berbeda. Vero mengaku benar-benar lupa nama rekannya, semasa mendukung band “The Candies”. “Sandra (lead gitar), Yudith (bass gitar), Ester (ryhtm). Yang main drum-nya siapa ‘ya…! Wah lupa…, tapi kabarnya dia jadi pramugari Seulawah” Veronica tersipu malu. Sambil tertawa, Vero berucap: “Saya ini orangnya aneh, Mas! Waktu masih aktif jadi penyanyi juga, tidak pernah mengagumi seorang penyanyi pun. Datar-datar saja…”

Ketika Oma menerapkan konsep baru musik dan lagu dangdut, Veronica tidak langsung mendukungnya. Bahkan Vero mengkritisi hingga menyulut perdebatan di balik kelahiran lagu seperti “Begadang”. “Kami pernah selisih paham! Saya bilang, ngapain bikin lagu melayu macam gitu..? Lagu itu terlalu banyak mengandung unsur pop-nya. Tapi kemudian Kak Oma bilang, kamu diam aja deh… Dia langsung masuk kamar, merampungkan lagu yang sedang diciptakannya” cerita Veronica. Bukan hanya “Begadang”, beda pendapat itu melatari lagu “Berkelana”, “Penasaran” dan “Rupiah”.

Veronica tak pernah menduga, lagu-lagu yang semula dianggap kontroversial itu, justru mendongkrak martabat Oma Irama dan “Soneta Grup” di dunia musik dangdut negeri ini. Sukses fantastis lagu “Begadang”, berlapis “Berkelana”, Penasaran” dan “Rupiah”, membuat ketangguhan “Soneta Grup”. ”Itu semua, di luar saya punya sangkaan! Kalau menurut kebiasaan, setiap terjadi selisih paham saat penulisan lagu Kak Oma, lagu itu jadi hit dimana-mana.. Tapi saya kan ‘nggak mau terus-terusan cekcok. Biarin bagaimana Kak Oma aja deh! ”Veronica tertawa nyaring.

Figur perempuan ini, yang tersembunyi di balik kibar Oma Irama dan “Soneta Grup”. Saya mengunci perbincangan dengan ibu gadis kecil Debby Veramasari Irama, yang baru berusia 4 tahun, untuk bersiap ke lokasi pentas musik “Soneta Grup”. Sedan VW mungil bertuliskan “Dank Doet” di kaca depan, tampak meluncur ke halaman kamar hotel itu. VW kodok ini yang setia membawa keluarga Oma Irama dan Veronica untuk berkelana, menggelar pentas musik dangdutnya ke berbagai pelosok negeri. Namun pergelaran “Soneta” siang di aula Sospol Tasikmalaya itu, terkesan spekulatif dengan persiapan minim.

Tidak ada luapan penonton. Atmosfer show “Soneta” pun hambar. Kondisi seperti itu, dimungkinkan memburuk lagi dengan tidak adanya waktu untuk pawai artis keliling kota Banyak warga kota tidak tahu, Oma Irama yang pernah menghuni rumah di Jl Selakaso 51 Tasikmalaya, siang itu hadir di pentas musik aula Sospol. Saya terdiam di balik layar panggung sederhana, bersama Veronica dan Neneng Susanty. Duduk santai di bangku panjang beratap tenda. Gema musik dangdut “Soneta” yang membahana, terdengar mengiring dendang Oma dalam “Begadang”, “Penasaran” dan “Tung Keripit”, serta berduet “Mari Berjoget” dengan Elvy Sukaesih

Gemuruh tepuk tangan menjemput Elvy Sukaesih mendendang “Kubawa” dan “Sebuah Nama”. Selepas aksi pentas dangdut itu, panitia mengajak saya bersiap estafet untuk meliput lanjutan show di Banjar. Bersama rombongan “Soneta”, sore hari itu pula kami meluncur ke Banjar. Hujan deras runtuh tanpa kompromi. Setiba di perkotaan Banjar, semua orang terpaksa terdiam di dalam mobil. Saya dan Cang Anwar rekan fotografer, sempat singgah ke rumah saudaranya, memburu Shalat Maghrib. Kebetulan rumahnya di sisi jalan raya. Tak jauh dari lokasi pentas musk terbuka.

Dalam keremangan malam dan guyuran hujan yang kian deras, warga Banjar mulai berhamburan. Kerumunan orang tampak berpencar. Berteduh di emper jalanan kota kecil itu. Namun di lokasi pentas masih sunyi. Belum tampak lampu penerang. Panitia sibuk kordinasi. Masih membayang sosok (alm) Asep Sudjana, berlari-lari membiarkan dirinya basah kuyup. Itu resiko promotor yang dipikulnya, Saya tak tahu pasti, apa sebenarnya yang terjadi malam itu. Bis pengangkut tim Soneta”, dan sedan VW mungil yang ditumpangi Oma Irama, masih belum memasuki areal lapangan.

Suasana tanpa kepastian. Di puncak penantian yang mengesalkan, justru bis dan sedan VW itu berputar arah meninggalkan Banjar. Saya tertegun. Terkabar kemudian, pentas musik “Soneta Grup” dibatalkan. Guyuran hujan makin deras. Saya tak sempat menyalami Oma Irama, Veronica, Elvy Sukaesih, maupun Neneng Susanty atau tim pemusik “Soneta”. Malam itu kedekatan emosional yang baru terjalin dengan mereka, mendadak terpisah tanpa kata. Saya masih termangu dalam mobil panitia. Sedan VW mungil dan bis pengangkut tim “Soneta”, sekejap saja hilang dari batas pandang ***

(Bersambung)

Bagaimana Tanggapan Anda ?

Komentar

Booking Hotel di Garut? Hayukagarut.com