IMG_0011-300x196 SENI & HIBURAN  Menapak Jejak Rhoma Irama : Dosa-Kecil Yang Tidak Tertulis…

Adegan keintiman Rhoma Irama dan Yatie Octavia, dalam sebuah filmnya. Sosok Rhoma identik sebagai pasangan harmonis dengan figur “Ani”, yang diperani Yatie Octavia. (Dokumentasi Yodaz)

Menapak Jejak Rhoma Irama : Bagian (15)

Oleh: Yoyo Dasriyo

SATU dus foto hitam putih hasil cetakan “Brim’s Studio” Garut, saya serahkan. Rhoma tertawa puas., sambil melihat foto-foto itu. “Tunggu sebentar..!” Raja Dangdut bergegas masuk ke ruangan kamar. Sesaat kemudian memanggil saya ke batas pintu kamarnya. “Ini sekedar untuk ganti ongkos cetak fotonya.! Terimakasih ya..” Rhoma merendahkan suaranya, sambil tersenyum. Tangannya menyusupkan sebuah amplop ke genggaman saya. Amplopnya agak tebal. Tak tahu berapa isinya!

Saya bersyukur. Amplop itu, memuat lembaran uang seribuan dan pecahan limaratusan rupiah. Saya ingat, uang tebusan foto hitam putih itu bernilai Rp 10.000,- (Sepuluh Ribu Rupiah). Dari duit itu, bisa berbagi menutup ongkos cetak foto, pengadaan 1 rol negatif film hitam putih merk Agfa, berikut batu baterey, dan sebungkus rokok. Namun sore itu, perjumpaan Rhoma terlalu singkat, karena berbatas ambang Maghib, dan persiapan pentas musiknya. Awak “Soneta” hilir-mudik di ruangan lain. Tak sempat saya jumpai Rita Sugiarto, maupun Tati Hartati.

Bahkan, tak bisa pula menyaksikan pergelaran “Soneta” hingga tuntas, karena rekan wartawan yang membonceng saya, terburu-buru balik lagi ke Leles, Garut. Saya hanya dengar kabar, pentas musik “Soneta” di Limbangan tak meluapkan arus penontonnya. Tenyata Limbangan merentangkan perpisahan saya dan Rhoma Irama sepanjang tiga tahun. Selama itu pula, saya hanya membaca perkembangan Rhoma melalui media cetak dan media filmnya. Sederet film Rhoma Irama memenangi pasar, sejak sukses “Oma Irama Penasaran”.

Muncul kemudian film seperti “Gitar Tua”, “Berkelana”, “Darah Muda”, “Begadang”, “Raja Dangdut”, “Satria Bergitar”, “Kemilau Cinta di Langit Jingga”, “Pengabdian” serta sederet judul lainnya. Padahal, serampung film pertamanya, Rhoma mengaku tipis kemungkinan meneruskan karier filmnya. ”Bagi saya, ternyata main film itu terlalu banyak meminta waktu! Misalnya kalau datang waktu Shalat Dhuhur, kebetulan cuacanya bagus, Shalat terpaksa mesti ditangguhkan..” Rhoma bergeleng kepala.

Memang kondisi di lokasi syuting film seperti itu sangat dipahaminya. “Sebab matahari di tempat syuting itu mahal! Disampng itu, dengan main film, berarti tawaran-tawaran show untuk ‘Soneta Grup’ tidak bisa saya layani” katanya dalam obrolan di Hotel “Kota” Garut. Rhoma pun keberatan atas penjudulan film-filmnya, yang selalu saja menjual kepopuleran namanya. “Saya ingin ‘nggak usah kayak Benyamin, yang terus-terusan dipake judul filmnya, model ‘Benyamin Brengsek’, ‘Benyamin Tukang Ngibul’ dan sebagainya. Cukup sekali saja, waktu ‘Oma Irama Penasaran’….”

Sebagai figur artis yang kental dengan napas keagamaan, dan bergelar haji, Rhoma menegaskan prinsipnya untuk tidak melakukan adegan cium kemesraan dengan Yatie Octavia. Artis berbibir mungil pemeran tokoh “Ani” dalam serial lakon film Rhoma Irama. Adegan kemesraan dengan wanita bukan muhrimnya itu, seringkali mengusik usilan sumbang dari kalangan fanatik agama. Rhoma Irama tersenyum menyikapi usilan itu. “Bagaimanapun manfaatnya tetap ada! Tapi jika dibandingkan dengan mudzarat-nya, maka manfaat itu lebih kecil dari mudzorat-nya…”

Bagaimana tentang anggapan “zinah mata” dengan pasangan main film? Taktis sekali Rhoma menanggapinya. “Zinah mata itu saya kira merupakan dosa-dosa yang tidak tertulis! Seperti misalnya minum bir, ataupun makan daging babi, manfaatnya tetap ada, tapi celakanya lebih besar. Ingat, dosa itu banyak sekali tingkatannya. Zinah mata dari goyang pinggul umpamanya, atau minum-minum bir itu, entah masuk tingkatan dosa yang keberapa…” Karenanya, dalam adegan kelembutan cinta “Rhoma” dan “Ani”, selalu disiasatinya dengan tipuan kamera ***

(Bersambung)

Bagaimana Tanggapan Anda ?

Komentar

Desain kemasan online gratis Coba Sekarang