rhoma-film-300x203 SENI & HIBURAN  Menapak Jejak Rhoma Irama : Perjumpaan Yang Memecah Tanya

Kenangan di lokasi syuting film “Kemilau Cinta Di Langit Jingga”. Rekan wartawan film, SK Martha, bersama Rhoma Irama dan Benny Muharam. (Dokumentasi: Yodaz)

Menapak Jejak Rhoma Irama : Bagian (20)

Oleh: Yoyo Dasriyo

SUTRADARA film H Maman Firmansyah, pembuat film “Rahasia Perkawinan”, suatu hari menggarap sinetron dari skenario saya. Tentang sukses film yang menghebohkan Yatie Octavia itu, sang sutradara bertutur lirih di “Betty Studio“ Bandung. ”Sebenarnya proses film itu melelahkan, bahkan hampir saja terkatung-katung. Saya pernah pesimis, tapi terus saja memohon kepada Allah dalam shalat Tahajud, agar diberikan jalan keluarnya. Di luar dugaan, hasilnya… luar biasa!”

Entah kenapa, proses film itu banyak dirintang cobaan, hingga musibah Yatie Octavia di lokasi syuting. Maman Firmansyah yang beberapakali menyutradarai film Rhoma Irama sesaat termangu, lalu bergeleng kepala. “Nggak pernah kebayang, kalau film itu bakal sukses besar. Bisa rampung dan beredar pun, saya sudah sangat bersyukur..” kata sutradara yang mengaku masih ada hubungan saudara dengan Yatie Octavia itu. Sore itu saya dan H Maman di ruangan editing sinetron “Impian Pengantin” (1993), namun peristiwa lama yang menghebohkan Yatie Octavia, tak pernah lagi diungkitnya.

Justru saya tersentak, waktu seorang pemuda simpatik di kesibukan syuting sinetron “Impian Pengantin II” (1994) di Garut, menghampiri saya dan memperkenalkan dirinya. “’Kang, ada salam dari Papa!” kata pria bernama Tezar itu, sambil tersenyum. Siapa? “Papa saya, Syamsudin…! Dulu pernah jadi produser film juga..” Seketika saya ingat, itu seorang tokoh fotografer kondang, dengan nama “Sjam Studio”. Banyak fotomodel dan artis film kenamaan, lahir dari studio fotonya, termasuk Yatie Octavia.

Lalu,Tezar itu siapa? “Mama saya, Yatie Octavia..” kata anak produser film ”Gadis Foto Model” (1988) itu. Benarkah Tezar anak kandung Yatie.? “Iya benar, Tezar itu anak saya…” jawab Yatie Octavia isteri Pangky Suwito dalam perjumpaan terpisah, jelang syuting FTV “Susuk Barby” di Curug Orok, Garut. Sayang, suasana berkabut dingin perkebunan dan siraman hujan, memutus perbincangan sekilas. Saya tak bisa banyak menggali cerita. Namun pergunjingan kasus Yatie Octavia yang menghangat di media cetak hari-hari kemarin, membuat Rhoma Irama pun menentukan sikap lain.

“Di film saya, ‘Raja Dangdut’, saya tidak berpasangan lagi dengan Yatie. Saya pilih Ida Royani..” katanya. Kenapa? Rhoma tak cepat menjawab. Berat hati untuk mengurai alasan filmnya berpisah dengan sosok “Ani”. ”Ya itu salah satunya yang anda sebut tadi…Mungkin saya akan berpasangan sama Ida, tapi kita tunggu dulu sambutan masyarakat” Rhoma tersenyum kecil. Terlepas dari itu, saya menyoroti tematis film Rhoma monoton. Selalu saja berkisar rintangan percintaan. Kenapa mesti begtu?

“Saya anggap taktik saja! Yang penting, misi dakwah Islam dan musik dangdut tetap ada didalamnya” balas Rhoma. Kenapa tidak membuat film serial saja, karena tokoh sentralnya selalu “Rhoma” dan “Ani”? Rhoma manggut-manggut sambil tertawa kecil. “Sekarang pun film-film saya sudah bisa dikatakan ‘semi serial’. Memang saran anda cukup baik sekali”. Terus, kenapa pemeran tokoh ibu Rhoma, selalu berganti-ganti? Di film “Penasaran”, Netty Herawaty jadi ibu Rhoma. Di film “Gitar Tua”, “Darah Muda”, “Berkelana” “Begadang”, maupun “Pengabdian”, tokoh ibu diperani Chitra Dewi.

Pernah juga (alm) Marlia Hardi dihadirkan sebagai ibu “Rhoma”. Saya pikir, lebih bagus kalau dhadirkan pemeran tetap. “Wah terimakasih atas pengamatannya. Saya memang suka kesulitan menetapkan pemeran ibu, sebab karakter perannya berlainan”. Rhoma Irama berterus terang. Dalam film “Raja Dangdut”, pemeran ibu kembali dimainkan Nety Herawaty, ibu yang masih dipengaruhi sikap feodalistis. Kenapa film-film Rhoma Irama, banyak memuat unsur laga..? Sang “Kaisar Dangdut” kembali tertawa ***

(Bersambung)

Bagaimana Tanggapan Anda ?

Komentar

Desain kemasan online gratis Coba Sekarang