1980-SULTAN-SALADIN-300x241 SENI & HIBURAN  Menapak Jejak Rhoma Irama: Saat Kejujuran Mengusik Keraguan

Berlatar alam Bukit Ngamplang, Garut, Yoyo Dasriyo dan Soultan Saladin (1980), aktor film antagonis yang seringkali dihadirkan dalam film-film Rhoma Irama.
(Foto: Harold Simatupang)

Menapak Jejak Rhoma Irama: Bagian  (27)

Oleh: Yoyo Dasriyo

KILAS balik perjalanan memburu perjumpaan dengan Rhoma Irama, semula hanya tersimpan sebatas ingatan saja. Kenangan panjang dalam romantika profesi itu, serasa kembali membayang, manakala banyak foto lawas Rhoma tergelar abadi dalam album foto yang sudah usang. Melapuk dimakan putaran waktu. Belakangan baru terpikir, ternyata saya tidak pernah membuat potret kenangan bersama para pemusik Soneta. Dulu, lebih terkonsentrasi hanya memotret obyek pemberitaan semata.

Barangkali pula, karena tidak ada rekan lain dalam perjalanan estafet show “Soneta” di wilayah Priangan Timur. Saya hanya seorang diri. Sepanjang ingatan, tersimpan empat kesan mendalam di benak saya. Kebahagiaan pernah ikut Shalat Isya berjamaah bersama pasukan “Soneta” di Sumedang, iIu pengalaman mahal, saat saya berada di belakang Rhoma Irama sebagai imam. Kesan kedua, suasana lain beraroma dramatis di Ciawi Tasikmalaya. Hujan deras diterpa lemparan batu dari ulah oknum penonton.

Tak pernah terlupa, ketika liputan show Soneta di Ciawi, dan Sumedang yang dimuat di Majalah “Violeta” Jakarta itu, tampil sekilas dalam sebuah film Rhoma. Saya lupa judul filmnya. Adegan film itu, hanya menyorot judul tulisannya, “Oma Irama Dilempari”! Judul itu memang memang beraroma sensasi. Siasat menarik pembaca, dengan penjudulan “melawan arus” dari beragam tulisan di media cetak lainnya. “Pencekalan” pemberitaan Rhoma di HU “Suara Karya”, dalam suhu politik memanas, jadi catatan tersendiri.

Kenangan manis yang mengunci romantika kebersamaan itu, berupa sambutan hangat Rhoma dan Rita lewat tengah malam di Hotel “Priangan” Tasikmalaya. Betapapun saya bersyukur, pernah jadi pelaku sejarah dalam sebagian kecil untuk kesaksian kisah Rhoma Irama di hari kemarin. Di saat masih banyak orang dan rekan seprofesi melirik sebelah mata, karena saya berada di balik pentas dangdut. Saya seperti mereka, tak pernah menduga, jika Rhoma Irama mampu eksis dan diakui sebagai pelaku legenda musik dangdut modern di negeri ini.

Saya pun harus berlapang dada, ketika keutuhan perjalanan sejarah bersama Rhoma yang terurai ini, mengusik kecurigaan sumbang. Ada kalangan penggemar Rhoma yang menuding romantika menapak jejak “Kaisar Dangdut” itu diragukan kebenarannya. Mereka anggap semua itu belum bisa dipertanggungjawabkan. Harus disampaikan ke Rhoma Irama. Saya tertawa. Namun saya pun berterimakasih kepada Debby Rhoma, yang mengabari pengaduan itu melalui Face-Book.

Apresiasi yang pernah dibuktikan Debby untuk tulisan romantika itu, sangat berarti dalam menyemangati penuturan saya. Terlebih karena puteri Rhoma Irama ini menyatakan suka hati membacanya. Keraguan atas keutuhan sejarah itu terusik, saat mereka menyimak beda penanggalan kelahiran Rhoma. “Kelahiran Papa saya 11 Desember 1946..” tulis Debby. Dalam paparan tulisan itu pun, saya berterus terang tentang “beda penanggalan” yang jadi “keunikan”, sepetri juga tanggal kelahiran (alm) Nike Ardilla. Saya jelaskan, dalam catatan saya tertulis 12 Desember 1946. Nike 28 Desember 1975. Dua-duanya lalu dinilai lebih sehari. Tak tahu siapa yang salah!,

Perbedaan momentum kelahiran itu, justru dianggap meragukan untuk kebenaran lintasan sejarah Rhoma Irama setahu saya. Terlepas dari kesalahan saya atau bukan, tulisan itu sudah hormat dan jujur pada keutuhan peristiwa. Tidak seharusnya menuai keraguan untuk kebenaran secara keseluruhannya. Saya sampaikan ke Debby Rhoma, materi tulisan itu cuplikan dari karya tulis saya di beberapa media cetak. Selebihnya, terekam abadi dalam ingatan. Keraguan dari sebagian fans Rhoma Irama, bermakna pembenaran, bahwa terkadang kejujuran itu tak selalu menuai kebaikan. ***

(Bersambung)

Bagaimana Tanggapan Anda ?

Komentar

Desain kemasan online gratis Coba Sekarang