01-rhoma-300x178 SENI & HIBURAN  Menapak Jejak Rhoma Irama: Tangis Di Muara Kasih Bunda

Aksi kharismatik Rhoma Irama di pentas musik dangdut. Sukses gemilang perjuangan mengangkat citra dangdut, kini banyak tantangan yang berpotensi meruntuhan kembali martabatnya. (Istimewa)

Menapak Jejak Rhoma Irama: Bagian (31) Selesai

Oleh: Yoyo Dasriyo

BUKAN hanya butuh waktu banyak untuk membuka harta karun negatif film itu. Tingkat kesabaran pun harus memenangi persaingan dengan suasana hati. Baru mengamati kembali tiga rol negatif film hitam putih saja, sekian waktu berlalu dan larut ke dalam angan manis. Proses itu pun dipersaingkan pula dengan “godaan” mengemas lakon menapak jejak Rhoma Irama, ke dalam bangunan skenario film. Belum terpikir untuk dibukukan, karena keterbatasan materi peristiwanya.

Andaipun dibuat skenario film, belum ada jaminan untuk diproduksi. Namun kalau itu diproduksi, menjanjikan kelahiran film Rhoma Irama berwajah lain. Sentral ceritanya mendua, antara figur tokoh “Rhoma”, dan sang pemburu perjumpaan Raja Dangdut. Dengan meramu stok rekaman gambar aksi Rhoma dan Soneta Grup menerbitkan film “Menapak Jejak Rhoma Irama” sebagai film semi dokumenter Rhoma Irama. Itu harus terdukung pula dengan ketepatan pelakon Rhoma muda.

Saat ini belum terpikir mendalami kemungkinan produksi film itu, karena dibutuhkan perjumpaan dengan Rhoma Irama., unuk menyatukan kehendak. Saya hanya punya gagasan, untuk memenuhi kepuasan dan kerinduan para penggemar berat Rhoma Irama. Di balik kehadiran filmnya, dipertaruhkan obsesi mewujudkan wajah baru film drama musikal, yang bisa menguatkan keragaman perfilman nasional kekinian. Terlebih dengan identitas film Rhoma, yang memuat syiar Islam dan musik dangdut.

Film memang bisa dijadikan alat media dakwah, paling efektif. Media film pun sangat berperan membangun pencitraan musik dangdut, di tengah terpaan kenakalan bisnis yang mendagangkan kemasan dangdut berselera rendah. Rhoma irama sebagai pelopor pembaharu dangdut, pendongkrak martabat dangdut dari kelas pinggiran ke level gedongan, perlu melakukan perlawanan untuk mengamankan citra dangdut yang sudah tepandang. Orang tak bisa menutup mata, ketika panggung hiburan menggelar musik dangdut.

Di depan pandang seringkali tergelar, musik dendang yang diracik dengan kreasi musik tradisional, lebih memanjakan tingkah penyanyinya. Tata busana minim dan gaya konotatif, masih jadi persoalan klasik yang mengganjal penegakan citra dangdut. Lagu ceria dengan hentakan taluan gendang, justru membangkitkan aksi penyanyinya bagai kegenitan “Kuda Lumping”. Dangdut selalu diidentikkan dengan joget liukkan pinggul, dari para penyanyi bertubuh padat dan berpaha gempal. Mereka tak perduli lagi seruan Rhoma, dalam syair lagunya di awal kebangkitan dangdut:

“Joget tidak dilarang/Tak dilarang/ Asal ada batasnya. Berjoget boleh saja/ Boleh saja/Asal ada batasnya…”;. Dengan sajian musik apik, dan kesungguhan penyanyinya, dangdut di panggung hiburan pun, sebenarnya mampu menyamankan pandang dan hati penontonnya. Bahkan suatu hari di kawasan Cikajang, Garut, pandangan saya berkaca-kaca. Kesedihan mengiris, saat seorang penyanyi belia menembang lagu “Muara Kasih Bunda” nyanyian Errie Suzan.yang melawan arus suasana.

Kecenderungan dangdut di panggung hajatan yang hanya berpamer goyang pinggul, seolah menenggelamkan bangunan lagu dan syair seindah “Muara Kasih Bunda”. Saya prihatin, di “pesta” pernikahan, penyanyi dangdut berlomba merebut “saweran”.dengan pamer aksi pentas yang norak. Alasannya, karena hasil saweran jauh lebih besar dari pada imbalan jasa sebagai penyanyi…Mereka tak mau perduli, meski di Hotel “Sayoy Homan” Bandung, pernah tampil pesona duet Deddy Mizwar dan Aa Gatot Brajamusti (Ketua Umum DPP Parfi) berlagu “Jatuh Bangun”.

Itu bukti pengakuan, tentang gengsi dangdut yang terpandang. Keindahan kostum pentas seperti Soneta Femina, Cici Paramida, Ike Nurjanah, Christina, Camelia Malik, Itje Tresnawaty, maupun Evy Tamala, tidak mengusik kalangan penyanyi dangdut di pentas hiburan. Celakanya, kondisi semacam itu, terpicu lagi dengan tayangan kontes dangdut di televisi swasta yang menularkan bermacam aksi liukan pinggul… Kenyataan itu teguran dan tantangan bagi pelaku pencitraan dangdut, untuk bersama menjunjung martabat dangdut yang dibangun Rhoma Irama.

Tanpa harus bergaya “Soneta”, keragaman kreasi musik dangdut, semestinya turut menegakkan citra dangdut di atas selera rendahan. Tentu, Rhoma Irama berpotensi menggerakkan insan PAMMI di seluruh pelosok, untuk mengawal sukses gengsi musik dangdut dari bayang keruntuhannya. Jayalah dangdut yang bermatabat terhomat! ***

(Selesai)

Bagaimana Tanggapan Anda ?

Komentar

Desain kemasan online gratis Coba Sekarang