1989-NICKY-300x207 SENI & HIBURAN  Gebyar Layar “Lady Rockers” Hari Kemarin: Bagian (2)

Potret kenangan 1989 di Garut, Yoyo Dasriyo dan Nicky Astria. Di balik aksi pentas dan lengkingan suara rock-nya yang memukau, Nicky seorang penghambur canda. Saat dipotret berdua, secepat itu menirukan pose orang di sebelahnya…
(Foto alm Denny Sabri)

Bagian: (2)

Oleh Yoyo Dasriyo

Lengkingan rock Euis Darliah fenomenal! Tetapi, reputasi Euis justru dicapai setelah lama malang-melintang di panggung rock, hingga terdongkrak pesat berlagu “Apanya Dong” karya Titiek Puspa. Kostum dan kelainan atribut nyentrik Euis, menguatkan “trade mark” lady rocker. Terlebih setelah hadir sosok Renny Djayoesman. Semua orang kenal aksi Renny Djayoesman, dengan khas vokal seraknya. Namun sejak era 1990-an, Renny lebih eksis berladang film dan sinetron.

Sungguhpun begitu, Renny menderetkan namanya dalam jejak kepeloporan lady rockers bersama Sylvia Saartje dan Euis Darliah. Saat kondisi lady rockers belum menguat itu, Bandung mencuatkan kebaruan sosok wanita penyanyi rock, dari kehadirkan Nicky Astria. Paradigma baru pun terkembang di pentas musik rock! Artis lady rockers tak lagi identik berpenampilan seenaknya. Pesona Nicky Astria yang rupawan, berdaya sensual, dengan perawakan sexy, amat memagut kecintaan publik.

Kelirihan suara Nicky yang ekspresif dalam menjelajahi nada-nada rendah, dengan kedalaman karakteristik lagunya, kian memukau begitu lengkingan tinggi vokalnya menajam. Terdukung lagi dengan tampilan kostum, dan aksesorinya yang artistik. Secepat itu, publik rock memuja Nicky Astria, hingga mengantar artis ini sebagai “primadona lady rocker” Indonesia! Aksi Nicky jadi kiblat lady rockers, yang tumbuh menjamur dalam percaturan pentas slow-rock.

Manakala penampilan sexy dan wajah komersial jadi siasat pemicu sukses bunga rockers, Denny Sabri yang membidani reputasi Nicky Astria, membuka kran peluncuran sederet belia berparas rupawan ke pentas lady-rockers. Potensi besar Bandung di percaturan lady rockers, mengusik industri musik rock untuk mengemas album “Bandung Rock Powers”. Identitas penampilan lady rockers pun kian menguat. Mereka mencoba konsisten dengan daya atribut pentasnya.

Lalu formula lagu slow-rock menggairahkan industri rekaman musik, yang menjayakan Deddy Dores sebagai hits maker. Sukses fenomenal Nike Ardilla (1989), bahkan menuai pengakuan sebagai “mega bintang”. Sepeninggal Nike, bursa musik slow-rock seolah kehilangan magnet. Kehadiran Meike dan Nafa Urbach, yang semula diproyeksikan sebagai pengganti Nike Ardilla. tak mampu membuat pemuja “mega bintang” itu berpaling.

Sukses gemilang Nike Ardilla, kian mengembangkan paradigma baru dalam industri musik slow rock. Banyak pendatang ayu dipromosikan atas nama lady rockers, meski materi lagunya cenderung pop biasa, yang kering dari tantangan vokal seorang rocker. Lagu slow-rock hanya dikemas gebrakan musik bernuansa rock. Sebaris nama yang bermunculan seperti Conny Dio,,Cut Irna, Hilda Ridwan Mas, Tutty Gareta (Shania), Yessy Gasela serta Shanty Rein, hanya mencapai popularitas semusim lalu. Sebut pula nama Apriliani, Lia Nathalia dan Ellisa.

Kepergian abadi Nike Ardilla tak mengubur reputasinya. Semua penjejak sukses almarhumah pun, tak pernah lagi mengemuka. Generasi lady rockers berparas rupawan, seolah tergusur musim gugur berkepanjangan! Derajat lady rockers masih saja mengental dengan sosok Sylvia Saartje, Renny Djayoesman, Nicky Astria, Anggun C Sasmi, Atiek CB, Mell Shandy dan Inka Christy. Roda industri musik kembali berputar. Selepas kejayaan pelantun slow-rock memucat, sederet grup band baru mendominasi percaturan musik kekinian. Di luar Tantri sang vokalis Kotak, layar lady rockers kembali surut. Barisan nama yang pernah berebut pengakuan lady rockers, lama berguguran. Entah ke mana ***

(Bersambung)

Bagaimana Tanggapan Anda ?

Komentar

Desain kemasan online gratis Coba Sekarang