17-NIKE-300x187 SENI & HIBURAN  “Hilangnya Seorang Gadis”, 20 Tahun Nike Ardilla Tiada

Potret kenangan Yoyo Dasriyo dan (alm) Nike Ardilla (1988),di rumah kediaman sang”mega bintang” di Parakan Saat, Bandung.
(Foto: alm Bambang Hermawan)

“Hilangnya Seorang Gadis”
20 Tahun Nike Ardilla Tiada: Bagian (1)

Oleh: Yoyo Dasriyo

19 MARET 1995, tragedi maut di Jl RE Martadinata Bandung, menamatkan kehidupan (alm) Nike Ardilla. Seorang belia berparas rupawan yang melegenda dengan predikat “mega bintang” Indonesia. Duapuluh tahun sudah,sang bintang pergi ke alam keabadian. Sungguhpun begitu, kenyataan bersaksi bahwa tiada kubur bagi sebuah kemasyhuran. Meski jasad Nike Ardilla terbaring bisu di balik hamparan bumi Desa Imbanagara, Ciamis, reputasi dan kepopuleran sejumlah lagu peninggalannya masih mengemuka.

Benar, Nike Ardilla tiada duanya. Siapapun artis pendatang, yang berambisi tampil dengan kepopuleran nama Ardilla, namun Nike Ardilla tidak akan pernah tergantikan. Sebuah peristiwa unik, saat Deddy Dores musisi kondang berkaca mata gelap yang berjaya di putaran tahun 1990-an, mengemas lagu “Sebuah Lagu Buat Nike”, manakala suasana kedukaan tengah memayungi para pemuja berat Nike Ardilla

Lagu ciptaan Dommy Alen dan Deddy Dores itu, begitu cepat merebut pasar, yang membuktikan tingginya kecintaan terhadap Nike Ardilla. Terlebih, karena sebagian hasil penjualan kasetnya, terkabar akan dialirkan untuk kelangsungan kegiatan sosial yang ditinggalkan Nike. Betapapun, pola bisnis dengan muatan hasrat mulia di balik peluncuran “Sebuah Lagu Buat Nike” layak dihargai. Itu juga pembenaran dari dugaan orang, tentang kemungkinan lahirnya kreasi Deddy Dores, dalam kemasan lagu kedukaan untuk melepas kepergian Nike.

Bisa dipahami, karena semua orang tahu, reputasi gemilang Nike Ardilla sangat mengental dengan banyak lagu karya Deddy Dores. Karenanya, “Sebuah Lagu Buat Nike” lahir dalam kondisi yang sehat. Dengan pengertian lain, tidak perlu dituding sebagai konsep dagang menjual kedukaan orang! Biarkan pula lagu “Selamat Jalan Nike” dari Sahabat Nike (Jessy Gasela dkk), atau lagu lain versi Tommy J Pisa hadir, berebut pasar dalam corak dangdut.

Tetapi ratapan lara kecintaan berkepanjangan selepas kepergian Nike Ardilla, terbukti belum terwakili sepenuhnya hanya dengan “Sebuah Lagu Buat Nike”. Deddy Dores pun pernah terusik mendaur-ulang lagu “Hilangnya Seorang Gadis”. Tembang lawas melankolis karya J Sarwono ini, tahun 1971 mampu memenangi persaingan pasar album grup band, dan melejitkan reputasi Deddy Dores bersama kelompok pemusik Freedom of Rhasodia – Bandung.

Memang, historis sukses lagu “Hilangnya Seorang Gadis” tak memiliki sentuhan apa-apa dengan Nike Ardilla. Tentu, karena lagu itu berjaya di kancah musik negeri ini, empat tahun sebelum almarhumah R Nike Ratnadilla dilahirkan (27 Desember 1975). Wajar, kalau perdagangan–ulang hit “Hilangnya Seorang Gadis” dalam kemasan baru (1996), dinilai sebagai bisnis mengais keuntungan semata. Dikuatkan lagi dengan tatanan sampul kaset berhias sosok Nike!

Kecuali itu, rekaman gambar penampilan sang bintang pun, dipertaruhkan dalam promosi “Hilangnya Seorang Gadis” di layar kaca. Itu taktik dagang, yang pernah banyak disesalkan orang! Dores – sapaan akrab musisi, hits maker, dan penyanyi itu, mencoba menyatukan kedukaan penggemar berat Nike, ke dalam bangunan tembang “Hilangnya Seorang Gadis”. Kesenduan lagu itu seolah dicitrakan sebagai hilangna seorang Nike Ardilla.

Simak lagi kekuatan lagunya pada bagian refrein yang menyentuh keharuan: “Inilah kisah sedih, yang aku alami. Hilangnya gadis suci, yang aku kasihi dalam hati.”. Ungkapan lara dalam kesenduan melodinya, merawankan sukma, karena bangunan nada dengan kekuatan karakteristik vokal Deddy Dores yang ekspresif. Sangat disayangkan, kesetiaan Dores terhadap keutuhan lyrik lagunya, membuat “Hilangnya Seorang Gadis” hilang dari kepiluan tragedi Nike Ardilla.. ***

(Bersambung)

Bagaimana Tanggapan Anda ?

Komentar

Desain kemasan online gratis Coba Sekarang