Gapura Garut,- Pemerintah Kabupaten Garut melalui Dinas Perindustirian, Perdagangan dan Pengelolaan Pasar sedang terus  berupaya menggali dana tambahan dengan melakukan lobi- lobi terhadap pemerintah provinsi Jawa Barat  dan Pemerintah pusat untuk  dapat membangun  infrasturuktur sejumlah pasar tradisional yang ada dikabupaten Garut.

“Kita butuh dana cukup besar untuk dapat membangun kembali infrastruktur sejumlah pasar terutama yang pernah mengalami kebakaran, memang saat ini pembangunannya ada yang masih terkatung katung, misalnya seperti pasar Andir bayongbong dan yang lainnya”. Kata Neneng Mardiana, Kepala Bidang Pengelolaan Pasar Disperindag Kabupaten Garut, Jumat (10/10/2014).

Menurut Neneng, nasib para pedagang yang mengalami musibah kebakaran memang membutuhkan waktu cukup lama untuk kembali berjualan normal, karena harus menunggu selesai terlebih dahulu pembangunan kembali kios yang terbakarnya.

“Mereka para pedagang memang harus bersabar dulu dengan berjualan di kios darurat, seperti yang dipasar Andir, para pedagangnya hingga kini masih menempati sub terminal milik dinas perhubungan, karena belum memiliki lagi tempat jualan yang permanen”. Ungkapnya.

Neneg menambahkan, meski ada pos anggaran untuk pembangunan kembali kios pasar yang terbakar dalam Kas APBD, namun tidak bisa dipergunakan untuk kepentingan yang bersifat darurat, karena anggaran yang ada itu diperuntukan alokasi tahun 2015 dan jumlahnya juga terbatas.

“Meski ada dana Kas APBD, tidak biasa serta merta digunakan untuk membangun kembali kios-kios yang terbakar tersebut, selain peruntukannya untuk alokasi Tahun 2015, juga nilainya sangat terbatas tidak mungkin cukup untuk rehabilitasi kios yang ludes terbakar”. Tegasnya.

Sementara itu pada bagian lain, Neneng mengemukakan untuk pembangunan pasar tardisional dengan konsep pasar modern yang permanen, membutuhkan sentuhan dari pihak investor, mengingat keterbatasan anggaran APBD yang ada.

“Pembangunan pasar-pasar tradisional yang telah dilakukan dengan  pihak investor seperti pasar tradisional Cibatu, dan yang  saat ini sedang dilakukan pembanguan pasar semi modern pada pasar  Limbangan, relatif mudah dari sisi pendanaanya karena investor memiliki banyak anggaran”. Paparnya.

Namun demikian Neneng juga tidak membantah bila, dalam proses pembanguannnya tidak semulus yang direncanakan, pasalnya dalam proses pembanguan pasar  tradisional cukup banyak  potensi terjadinya konflik yang melibatkan warga pasar dan pihak pengembang.

“Tantangannya bagi pemerintah memang sangat besar karena biasanya pembangunan pasar dengan bantuan investor selalu tidak semulus sesuai rencana karena adanya berbagai keinginan yang kadang berbeda antara warga dengan investoa, sementara posisi pemerintah hanya sebatas fasilitator hanya dapat melakukan  mediasi antara warga pasar dengan pihak investor itu sendiri”. Imbuhnya.

Selain mecarikan investor, pihak pemerintah juga terus mengupayakan adanya suntukan dana dari pemerintah Provinsi dan Pusat untuk percepatan pembangunan infrastruktur penunjang pasar-pasar tradisional tersebut.***Irwan Rudiawan

Bagaimana Tanggapan Anda ?

Komentar

Desain kemasan online gratis Coba Sekarang