Gapura Jakarta , –  Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyebutkan total estimasi kerusakan dan kerugian pascabencana banjir bandang Garut mencapai Rp 288 milyar.

Menurut Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho nilai kerugian Rp 288 miliar tersebut berasal dari kajian penilaian di lima sektor.

” yaitu sektor permukiman, infrastruktur, sosial, ekonomi dan lintas sektor. Sektor permukiman dengan sub-sektor perumahan dan prasarana lingkungan memiliki nilai kerusakan dan kerugian sekitar Rp 83 milyar,”ungkpa Sutopo dalam rilisnya, Selasa (18/10/2016).

Menurutnya persoalan yang sangat mendasar adalah pendanaan terhadap proses rehab-rekon tersebut.

“Pemerintah daerah Kabupaten Garut memperkirakan skema pendanaan dari Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) dan Anggaran Pendapatan Belanja Nasional (APBN) namun tentu jumlah yang dianggarkan mencukupi total nilai kerusakan dan kerugian,”tuturnya.

Sutopo menambahkan kalangan dunia usaha atau pun Badan Usaha Milik Negara maupun masyarakat dapat berperan untuk mendukung proses rehab-rekon tersebut, seperti pascabencana Banjarnegara dan Purworejo.

“Dunia usaha dan masyarakat terbukti mampu untuk mempercepat proses rehab-rekon pascabencana,”tegasnya.

Di sisi lain, pemahaman warga yang terdampak atau pun mereka yang berada di kawasan rawan sangat dibutuhkan untuk mempercepat proses rehab-rekon.

Sekretaris Daerah Kabupaten Garut Iman Alirahman mengatakan bahwa aparatnya mengalami kesulitan untuk meyakinkan warga pindah.

“Sekalipun diberi rumah, mereka memaksakan untuk membangun kembali rumahnya di lokasi terdampak,” kata Iman yang menghadiri Rapat Koordinasi Rencana Aksi Rehab-Rekon Pascabencana Banjir Bandang Garut pada Selasa (18/10/2016) di Graha BNPB, Jakarta Timur.

Menurut Iman pihaknya menghadapi tantangan bahwa kawasan Garut 81% merupakan kawasan hutan lindung sedangkan sisanya kawasan yang dapat dibudidayakan.

Penataan kawasan menjadi problematik, khususnya terkait dengan pemukiman warga terdampak dan peghidupan.

“Relokasi tidak hanya berdasarkan jumlah rumah yang akan dibangun tetapi juga penentuan kawasan yang aman,”ungkap Iman.

Sementara ini, Pemerintah Pusat telah berkomitmen pada penyediaan dua tower rumah susun berkapasitas masing-masing 70 KK dan 50 unit dengan skema rumah khusus.

Deputi Bidang Rehabilitasi dan Rekonstruksi BNPB Harmensyah menekankan pada aspek build back better and safer.

Konteks tersebut kata Hermensyah tidak hanya dilihat pada aspek fisik atau struktur bangunan tetapi juga aspek sosial, seperti tidak menimbulkan kecemburuan, dan prosesnya disinkronkan dengan kearifan lokal.

“Perlu ada kebijakan siapa yang akan menempati rumah susun dan rumah khusus,”Kata Hermensyah.

Menururnya berdasarkan Surat Keputusan Bupati Garut, data pengungsi yang terdampak banjir bandang berjumlah 787 KK (2.525 jiwa) dan data rumah rusak berjumlah 2.529 unit dengan rincian 830 rusak berat, 473 rusak sedang, dan 1.226 rusak ringan.

“Rehab-rekon pascabencana banjir bandang Garut ini akan berlangsung selama tiga tahun, dari 2016 hingga 2018,”sebutnya.

Setelah tiga tahun, nantinya pembiayaan dianggarkan pada APBD Pemerintah Kabupaten Garut. Namun demikian tidak tertutup kesempatan terhadap berbagai pihak untuk bersinergi mempercepat proses rehab dan rekonstruksi pasca bencana banjir Garut tersebut.***TGM

Bagaimana Tanggapan Anda ?

Komentar

Booking Hotel di Garut? Hayukagarut.com