Gapura Garut ,- Minimnya tingkat partisispasi kalangan pemilih pemula dalam Pemilu Kepala Daerah (Pilkada) di Kabupaten Garut disinyalir dipicu oleh kurang fahamnya yang bersangkutan terhadap dunia politik.

“Ini sering terjadi pada pemilih pemula yang masih duduk di bangku SMA atau perguruan tinggi, Mereka kurang paham terhadap politik,” Kata Ketua BEM Fisip Uniga Wisnu Sumiaji Rabu (16/11/2016).

Menurut Wisnu, padahal politik sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

“Banyak yang mengartikan politik itu hanya sebatas saat Pilkada saja. Padahal, semua manusia pasti berpolitik. Jadi bukan untuk digunakan dalam politik praktis saja,” ungkapnya.

Mahasiswa Jurusan Administrasi Negara Semester V ini menyebutkan diperlukan peran pihak terkait dalam memberi pemahaman tentang memberikan pilihan dalam sebuah pesta demokrasi. 

“Aspirasi individu di masyarakat dalam kehidupan demokrasi, sangat penting peranannya. Jangan sampai mereka menjadi golongan putih karena tak mengetahui pentingnya menyuarakan aspirasinya. Apalagi Garut dan Jabar pada 2018 akan menggelar pesta demokrasi. Kami ingin tingkat partisipasi pemula di Garut bisa meningkat dibanding pilkada sebelumnya,” ucapnya.

Pendidikan politik, lanjut Wisnu, seharusnya juga bisa mencerdaskan mereka untuk memilih calon pemimpin. Sebagai pemilih pemula mereka juga tak mudah dibohongi saat para calon pimpinan mengumbar janji.

“Karena kurang tahu mereka jadi asal memilih, atau bahkan tak memilih. Bisa jadi ada yang memberi uang agar mereka memilih seseorang. Itu yang harus dicegah sejak dini,” katanya.

Sementara itu, Ketua KPUD Kabupaten Garut Hilwan Fanaqi memaparkan, pendidikan politik terutama bagi pemilih pemula memang sangat diperlukan. Ia berharap sosialisasi yang terus dilakukan, bisa meningkatkan partisipasi pemilih pemula pada pesta demokrasi 2018 dan 2019.

“Dalam menghadapi Pilkada serentak 2018 dan Pilpres 2019, partisipasi dari pemilih pemula bisa mendongkrak. Secara umum bisa mencapai angka 80 persen, sehingga ada kenaikan antara 15 sampai 20 persen dibanding Pilkada lalu,” ujar Hilwan.

Pada Pileg tahun 2014, tingkat partisipasi pemilih mencapai 73 persen. Hilwan berharap adanya sosialisasi politik bagi warga bisa menanamkan arti politik.

“Ke depan warga bisa bertanggung jawab dalam konteks politik baik di eksekutif maupun legislatif. Lebih mengedepankan objektifitas dan rasionalitas dalam memilih. Bukan pragmatis karena para pemilih pemula cukup rawan disusupi,” imbuhnya.***Bro

Bagaimana Tanggapan Anda ?

Komentar

Desain kemasan online gratis Coba Sekarang