IMG-20170502-WA0003-300x169 USAHA & PRODUK  Stok Kurang, Harga Bawang Putih di Garut Capai Rp 60 Ribu/Kg

Para pedagang bawang putih dipasar Garut mulai mengeluhkan stock jelang Ramadhan, foto JSN

Gapura Garut , – Sebulan menjelang datangnya bulan suci Ramadlan 1438 H tahun ini, harga sejumlah komoditas pertanian mulai menunjukan kenaikan, salah satunya Bawang Putih, di tingkat pasar pengecer harga bawang impor itu kini dijual di kisaran Rp 60 ribu per kilogram (kg).

“Seperempat Rp 15 ribu jadi kalau satu kilo Rp 60 ribu, mohon maaf barangnya sulit,” ujar Uus salah seorang pedagang kaki lima, pasar kojengkang Suci, Karang Pawitan, kakupaten Garut, Jawa Barat saat ditemui Liputan6.com, Selasa pagi, 1 Mei 2017.

Menurutnya kenaikan bawang putih sudah terjadi tiga kali dalam sepekan terakhir, tak ayal banyak pembeli langganan yang tidak kuat membeli dalam jumlah besar. “Jarang ada yang beli kiloan, paling dicicil perapatan (1/4 kg),” kata dia menambahkan.

Kondisi serupa di keluhkan Ujang, pedagang bahan kelontongan (bahan bumbu masak) di pasar induk, Ciawitali, Kabupaten Garut ini mengaku, selain kenaikan yang sulit terkendali, barang yang beredar di pasar pun sulit diperoleh. “Saya juga kurang faham, apalagi bawang putih kan impor semua,” ujarnya.

Ia menduga mahalnya harga beli dan harga jual barang putih di pasaran disebabkan minimnya stok barang yang berasal dari impor tersebut. “Sebab di tingkat lokal tidak ada yang nanam, ya kita pasrah saja tidak tahu mau sampai berapa naiknya,” keluhnya.

Dalam catatannya, tak kurang dalam sepekan terakhir, kenaikan harga bawang putih terjadi hampir tiga kali, awalnya ia menjual Rp 35-37 ribu per kilogram, kemudian Rp 40-42 ribu oer kilo gram, hari ini ia menjual Rp 48-50 ribu per kilo. “Barangnya sulit silahkan saja cek,” pinta dia.

Sementara itu, akibat langka dan tingginya harga bawang putih, sudah beberapa hari ini, Cucu, salah seorang pedagang sayuran di pasar Induk Ciawitali, Kabupaten Garut, Jawa Barat terpaksa memilih untuk tidak menjual bawang putih, sementara komoditas pertanian lainnya tetap ia jual. “Ya barangnya sulit juga mahal, mau dijual berapa,” kata dia.

Jika kondisi itu tidak berubah, ia memprediksi harga bawang putih bisa meroket di atas Rp 80 ribu per kilo menjelang datangnya momen puasa ramadlan. “Sebab pada bulan ramadlan kebutuhan barang akan terus meningkat,” ujarnya.

Untuk menjaga stabilitas harga menjelang puasa, ia berharap pemerintah segera turun tangan melakukan Operasi Pasar atau OP, dengan upaya itu diharapkan kenaikan harga bisa terkendali. “Minimal barangnya ada, kalau barang tersedia harga biasanya bisa dikendalikan,” ungkapnya.

Berdasarkan pantauan harga di pasar induk Ciawitali, kabupayen Garut, Jawa Barat, harga sejumlah komoditas pertanian berangsur naik bawang putih yang biasa dijual di angka Rp 35 ribu per kg, kini di jual di angka Rp 48-50 ribu per kilo.

Kacang Tanah awalnya dijual di harga Rp 20 ribu per kg, kini dijual di angka Rp 26 ribu per kg, pun kacang merah yang awalnya dijual di harga Rp 15 ribu per kg kini dijual di angka Rp 25 ribu per kg, sementara dari komoditas sayuran, harga kentang mengalami kenaikan cukup tinggi, kini dijual Rp 16 ribu per kg dari awalnya Rp 10 ribu per kg.

Namun kabar baik datang dari komoditas sayuran secara umum, selain kentang yang tengah naik, harga mayoritas komoditas sayuran terbilang masih stabil bahkan ada yang turun. “Mungkin stok lagi banyak meskipun hujan,” ujar Cucu menambahkan.

Harga Tomat turun menjadi Rp 4 ribu per kg dari awalnya Rp 8 ribu per kg, harga buncis dijual stabil di angka Rp 7 ribu per kg, bahkan harga cabai kriting yang awalnya bergerak di angka Rp 100 ribu per kg, kini dijual di ahgka Rp 50 ribu per kg,

Kubis stabil dijual di angka Rp 4 ribu per kg, labu diem dijual di anhka Rp 6 ribu per kg dari sebelumnya Rp 8 ribu pr kg, sementara wort dijual Rp 6 ribu per kg dari sebelumnya Rp 8 ribi per kg. “Mubgkin mendekati puasa biasanya naik, lihat saja,” ujar dia mengingatkan jika momen puasa tiba mayoritas harga sayuran bakal naik.

Gapura Garut – Sebulan menjelang datangnya bulan suci Ramadlan 1438 H tahun ini, harga sejumlah komoditas pertanian mulai menunjukan kenaikan, salah satunya Bawang Putih, di tingkat pasar pengecer harga bawang impor itu kini dijual di kisaran Rp 60 ribu per kilogram (kg).

“Seperempat Rp 15 ribu jadi kalau satu kilo Rp 60 ribu, mohon maaf barangnya sulit,” ujar Uus salah seorang pedagang kaki lima, pasar kojengkang Suci, Karang Pawitan, kakupaten Garut, Jawa Barat saat ditemui Liputan6.com, Senin pagi, 1 Mei 2017.

Menurutnya kenaikan bawang putih sudah terjadi tiga kali dalam sepekan terakhir, tak ayal banyak pembeli langganan yang tidak kuat membeli dalam jumlah besar. “Jarang ada yang beli kiloan, paling dicicil perapatan (1/4 kg),” kata dia menambahkan.

Kondisi serupa di keluhkan Ujang, pedagang bahan kelontongan (bahan bumbu masak) di pasar induk, Ciawitali, Kabupaten Garut ini mengaku, selain kenaikan yang sulit terkendali, barang yang beredar di pasar pun sulit diperoleh. “Saya juga kurang faham, apalagi bawang putih kan impor semua,” ujarnya.

Ia menduga mahalnya harga beli dan harga jual barang putih di pasaran disebabkan minimnya stok barang yang berasal dari impor tersebut. “Sebab di tingkat lokal tidak ada yang nanam, ya kita pasrah saja tidak tahu mau sampai berapa naiknya,” keluhnya.

Dalam catatannya, tak kurang dalam sepekan terakhir, kenaikan harga bawang putih terjadi hampir tiga kali, awalnya ia menjual Rp 35-37 ribu per kilogram, kemudian Rp 40-42 ribu oer kilo gram, hari ini ia menjual Rp 48-50 ribu per kilo. “Barangnya sulit silahkan saja cek,” pinta dia.

Sementara itu, akibat langka dan tingginya harga bawang putih, sudah beberapa hari ini, Cucu, salah seorang pedagang sayuran di pasar Induk Ciawitali, Kabupaten Garut, Jawa Barat terpaksa memilih untuk tidak menjual bawang putih, sementara komoditas pertanian lainnya tetap ia jual. “Ya barangnya sulit juga mahal, mau dijual berapa,” kata dia.

Jika kondisi itu tidak berubah, ia memprediksi harga bawang putih bisa meroket di atas Rp 80 ribu per kilo menjelang datangnya momen puasa ramadlan. “Sebab pada bulan ramadlan kebutuhan barang akan terus meningkat,” ujarnya.

Untuk menjaga stabilitas harga menjelang puasa, ia berharap pemerintah segera turun tangan melakukan Operasi Pasar atau OP, dengan upaya itu diharapkan kenaikan harga bisa terkendali. “Minimal barangnya ada, kalau barang tersedia harga biasanya bisa dikendalikan,” ungkapnya.

Berdasarkan pantauan harga di pasar induk Ciawitali, kabupayen Garut, Jawa Barat, harga sejumlah komoditas pertanian berangsur naik bawang putih yang biasa dijual di angka Rp 35 ribu per kg, kini di jual di angka Rp 48-50 ribu per kilo.

Kacang Tanah awalnya dijual di harga Rp 20 ribu per kg, kini dijual di angka Rp 26 ribu per kg, pun kacang merah yang awalnya dijual di harga Rp 15 ribu per kg kini dijual di angka Rp 25 ribu per kg, sementara dari komoditas sayuran, harga kentang mengalami kenaikan cukup tinggi, kini dijual Rp 16 ribu per kg dari awalnya Rp 10 ribu per kg.

Namun kabar baik datang dari komoditas sayuran secara umum, selain kentang yang tengah naik, harga mayoritas komoditas sayuran terbilang masih stabil bahkan ada yang turun. “Mungkin stok lagi banyak meskipun hujan,” ujar Cucu menambahkan.

Harga Tomat turun menjadi Rp 4 ribu per kg dari awalnya Rp 8 ribu per kg, harga buncis dijual stabil di angka Rp 7 ribu per kg, bahkan harga cabai kriting yang awalnya bergerak di angka Rp 100 ribu per kg, kini dijual di ahgka Rp 50 ribu per kg,

Kubis stabil dijual di angka Rp 4 ribu per kg, labu diem dijual di anhka Rp 6 ribu per kg dari sebelumnya Rp 8 ribu pr kg, sementara wort dijual Rp 6 ribu per kg dari sebelumnya Rp 8 ribi per kg. “Mubgkin mendekati puasa biasanya naik, lihat saja,” ujar dia mengingatkan jika momen puasa tiba mayoritas harga sayuran bakal naik.***JSN

Bagaimana Tanggapan Anda ?

Komentar

Desain kemasan online gratis Coba Sekarang