Oleh : Salman Al Faridi

Bagi anak muda sekarang konon “sempurna”itu hanya milik Tuhan dan kelompok musisi Andra and The Backbone. Padahal, sejatinya, kesempurnaan yang sama juga dituntut dari kerja seorang editor, dan, tentu saja, profesional pada umumnya. Namun, bagi yang pernah bekerja dari balik meja redaksi, pasti pernah merasakan paradoks semakin naskah kita pelototin, tidak berkurang pula kesalahan yang terjadi dalam proses penulisan, penyuntingan,maupun proofreading. Apa yang keliru?

Jawabannya ada pada konfigurasi otak manusia yang seringkali melakukan auto-correct,alias mengoreksi sendiri kesalahan yang terjadi di depan mata. Saya berikan contoh sederhana dengan kalimat salah berikut ini: cagnkir, keilru, latpop,buuk. Jika perkiraan saya benar, maka, meskipun saya keliru menuliskan, otak anda akan membaca seperti ini: cangkir, keliru, laptop dan buku. Karena itu,dalam sesi pelatihan proofreading yang dilakukan tim redaksi dengan calon pembaca proof pemula, seringkali naskah uji coba kembali ke tangan redaksi dengan bersih. Tanpa satu pun koreksi atas naskah yang sebagian besar mengandung kesalahan, bahkan sengaja dibuat salah untuk proses latihan.

Dalam hirarki pekerjaan penerbitan yang lumayan kompleks, pembaca proof adalah penjaga gawang terakhiryang memungkinkan kesalahan dikenali lalu disingkirkan. Persis seperti cara kerja seorang detektif yang bekerja penuh kehati-hatian dan selalu curiga menghadapi setiap naskah yang sedang dikerjakan. Celakanya, bahkan bagi seorang proofreader yang hati-hati pun, ketika mengerjakan naskah dalam durasi yang cukup lama, kemungkinan salah dan mengabaikan salah cetak, tanda baca serta error lainnya dapat terjadi. Inilah yang terjadi ketika saya mengunjungi sebuah penerbitan surat kabar besar di Jawa Timur.

Melalui sebuah undangan, saya diperkenankan melihat kantor redaksi yang sedemikian besar dan nyaman di gedung berlantai cukup banyak. Yang membuat saya takjub, ketika memasuki markas besar redaksi, saya disambut dengan karya instalasi berupa tumpukan koran memanjang dalam jumlah cukup banyak. Saya pikir betapa mewah dan spesialnya gaya kerja wartawan yang turut didukung pula kesenangannya berkesenian. Belakangan rupanya saya keliru. Tumpukan Koran memanjang itu tak lain adalah kesalahan redaktur yang dipajang sebagai memorabilia agar kasus yang sama tidak terulang lagi.

Memorabilia itu menyimpan kesalahan yang kecil saja. Tak lebih dari satu karakter, namun akibatnya cukup fatal. Sejumlah besar koran yang sudah naik cetak terpaksa diturunkan, yang artinya buang duit, dan teks perlu diperbaiki dengan menggunakan plat berbeda untuk kemudian dicetak lagi dari awal pada halaman-halaman yang memuat kesalahan tadi. Apa yang keliru? Rupanya redaktur silap mengabaikan penulisan merek Louis Vuittong yang terkenal itu. Jangan-jangan Anda pun tak sadar pada kesalahan sesubtil itu.

Peristiwa atau kesalahan yangterjadi dalam proses editing sama sekali bukan sebuah kejadian lucu. Sayasendiri pernah mengalaminya. Dan ironisnya di saat buku datang dengan cantiknya dari percetakan, hanya untuk menemukan kesalahan di kover depan secara teramat menyakitkan. Seperti Louis Vuittong yang ditulis dengan huruf “g” berlebih, kesalahan saya cuma satu karakter juga. Yaitu hilangnya huruf “u” pada teks yang seharusnya tertulis foundation tetapi dicetak fondation. Gara-gara huruf “u”, hilang pula jutaan rupiah untuk menggantinya dengan tulisan yangbenar. Untunglah, huruf “u” tadi muncul dalam sebuah teks yang menyerupai stiker, sehingga untuk mengakalinya, dicetak pulalah stiker sesungguhnya untuk menyembunyikan petaka yang saya timbulkan.

Tak kurang dari editor senior saya waktu itu, juga penulis buku laris AndaiBuku Sepotong Pizza, Mas Hernowo, mewanti-wanti tentang kekeliruan yang kecil dan sering terabaikan ini. Dari Mas Her, saya belajar membaca dengan jari. Melibatkan jari membuat proses pengecekan lebih lama tetapi jauh lebih aman. Sebab, aktivitas jari yang lambat, menunda otak melakukan auto-correct. Cara lainnya juga bisa dibaca keras-keras. Namun, yang paling efektif selama ini, selalu melibatkan satu orang terakhir yang tidak pernah bersentuhan dengan naskah selama proses, sampai naskah mendekati final.

Apa yang menimpa saya bisa terjadi juga pada siapa pun yang pada prinsipnya terlalu intens berhubungan dengan naskah sehingga alih-alih lebih terkendali, yang terjadi malah sebaliknya, selalu ada saja kesalahan yang luput. Sudah menjadi tradisi saya di kantor untuk mengecek print-out terakhir sebelum dikirim ke percetakan, terutama kover, untuk memastikan kesalahan yang tidak perlu terulang kembali. Dan, biasanya, selalu saja ada hal-hal yang bisa saya temukan, bocor yang begitu halus sampai penjaga gawang terakhir pun luput. Ah, kesalahan itu memang manusiawi, cuma tidak perlu terjadi berulang-ulang.

Sumber : Laman Facebook Salman Fardi

Bagaimana Tanggapan Anda ?

Komentar

Desain kemasan online gratis Coba Sekarang