Tampak dalam foto Abah Eme Sudanda semasa hidupnya, foto dok fb Deddi Herdiyana

Tampak dalam foto Abah Eme Sudanda semasa hidupnya, foto dok fb Deddi Herdiyana

Gapura Garut ,- Kabupaten Garut kembali kehilangan putra terbaiknya sosok sederhana namun gigih menjaga dan melstarikan warisa budaya seni beladiri Pencak Silat , Abah Eme Suganda telah tiada. 

Abah Eme atau Eme Suganda pulang kerahmatulloh dalam usianya ke 105 tahun, Rabu (10/8/2016) sekitar pukul 20.20 WB,  setelah menjalani perawatan kesehatan di RSUD Garut.

Abah Eme dikenal  seorang tokoh dan pendekar besar Pencak Silat Garut yang  hampir sepanjang hidupnya dihabiskan dengan mengaabdikan dirinya untuk terus berjuang membesarkan budaya bangsa warisan leluhurnya.

“Sampai di akhir hayatnya, almarhum tercatat sebagai pendiri Paguron Pencak Silat Sinar Pusaka Putra Garut, dan sesepuh di PPSI Kabupaten  Garut”, Tulis akun facebook Deddi Heryana yang juga memajang foto dirinya dengan Abah Eme Suganda.

Deddi menyampaikan ucapan duka cita “selamat Jalan Sang Guru….  diringi dengan doa ‘innalillahi wa inna ilaihi rojiun’. Semoga kesalahan dan dosa beliau mendapat ampunan Alloh SWT, dan amal baik beliau diterima disisi Nya. Aamiin YR”, Tulis Deddi masih dikaun facebooknya.

Selain akun Deddi Herdiyana, sejumlah akun facebook lainnya juga menyampaikan ucapan belasungkawa yang sama terhadap sosok Abah Eme yang merupakan Guru pencak Silat Garut sepanjang jaman.

Ini Perjalanan Abah Eme Suganda dilansir dari liputan6.com

Awalnya, Eme yang pertama kali belajar silat sekitar tahun 1942 itu hanya sekadar untuk menambah pergaulan dan bekal membela diri. Maklumlah, pada masa itu bagi anak muda di Garut, belajar silat itu hukumnya wajib. Namun sejak itu, kecintaan Eme terhadap olahraga tradisional itu kian besar.

Setelah menguasai ilmu silat, pada tahun 1978, dia diminta oleh salah satu gurunya mengajar silat di beberapa pesantren yang ada di Garut. Pada saat hampir bersamaan, Eme juga mengajar ilmu silat di sekolah-sekolah dasar. “Kalau soal honor tergantung yang memberi, saya tidak begitu memikirkannya,” ujar Eme tentang imbalan yang didapatnya.

Saat ini pun, jadwal Eme terbilang padat. Dalam sepekan dia mengajar silat di sepuluh sekolah dasar dan dua pesantren yang ada di Garut. Dengan menggunakan sepeda motor yang dikendarai sendiri, lelaki yang kerap disapa dengan panggilan Abah Eme ini, mulai mengajar dari pukul 08.00 WIB hingga pukul 12.00 WIB.

Di saat senggang, Eme masih sempat mengajar silat di rumahnya yang dijadikan padepokan silat. Selain itu, dia juga memimpin Perguruan Silat Sinar Pusaka Putra, yang tersebar di Garut dan Bandung, Jabar. Di perguruan ini pula, kakek yang pernah diundang tampil di Jepang ini mengajarkan beberapa jurus andalan yang dia miliki.

Di antara jurus itu adalah totok, suliwa, sera, timbangan, dan golok. Kendati demikian, tidak semua murid perguruan diajarkan jurus spesial itu. Jurus timbangan misalnya, bila belum cukup umur dan dipakai main-main, akan sangat berbahaya bagi si murid. Pasalnya, ilmu itu dapat mengetahui kelemahan tubuh lawan.

Melihat dedikasi Abah Eme yang tinggi terhadap ilmu silat, wajar saja kalau beragam penghargaan sudah diraihnya. Termasuk deretan piala yang dipajang di ruang tamu rumahnya. Kepopuleran silat Eme ternyata tak hanya bergaung di Garut. Beberapa muridnya tercatat berasal dari Kanada, Belanda serta beberapa negara di kawasan Asia Tenggara.

Walau demikian, dia tidak bersedia disebut sebagai jago silat. Bagi Eme, sudah cukup kalau orang lain menyebut dirinya sebagai orang yang bisa pencak silat. Harapan si Abah cuma satu, tetap melestarikan budaya leluhur ini sampai tubuhnya tak kuat lagi.***TGM

Bagaimana Tanggapan Anda ?

Komentar

Buat Kemasan Secara Online di Kemasaja.com