04-KARTINAH-216x300 SENI & HIBURAN  Di Balik “Harapan” dan Pendatang Baru Terbaik, Dari Suzanna Hingga Kejutan Djenar Maesa Ayu

Poster film “Kartinah” (1948) yang membintangkan (alm) Ratna Asmara, dan Astaman. Ratna Asmara, tecatat sebagai pelopor wanita sutradara film pertama Indonesia. Film karya perdananya berjudul “Sedap Malam” (1950).
(Istimewa)

Di Balik “Harapan” dan Pendatang Baru Terbaik (Bagian 4)

Oleh : Yoyo Dasriyo

Dewan juri FFI 2011 pun menilai kalayakan skenario film ‘Mirror Never Lies’ karya Dirmawan Hatta dan Kamila Andini, untuk dipersaingkan dengan Benni Setiawan (‘Masih Bukan Cinta Biasa’) Salman Aristo (‘Jakarta Maghrib’ Salman Aristo, Ifa Isfansyah & Shanty Harmayn (‘Sang Penari’) serta Titien Wattimena ‘(Film ?’). Seolah bercermin dari FFI 2008 Bandung, yang terkesan merugikan Vva Westy, tim penilai FFI 2011 kembali menunjukkan kebijakannya.

Di balik, nama Ifa Isfansyah sebagai Sutradara Terbaik (film “Sang Penari”), Kamila Andini diniobatkan jadi Sutradara Pendatang Baru Terbaik dan Penulis Cerita Asli Terbaik di antara film Masih Bukan Cinta Biasa’, ‘?’, ‘Jakarta Maghrib’ dan film “Tebus”. Film “Mirror Never Lies” menjaringkan pula Ipung Rachmat ke dalam unggulan terbaik (Penata Sinematografi), Thoersi Argeswara (Penata Musik), Gita Novalista (Aktris Terbaik), dan Atiqah Hasiholan (Aktris Pendukung Utama Terbaik).

Terrbukti, daya saing film karya wanita makin diakui di festival film Sungguhpun begitu, film karya Djenar Maesa Ayu, Kamila Andini, Viva Westy, Mouly Surya, hingga Lola Amaria, masih belum memenangi pasar film. Berbeda dengan film “Perempuan Dalam Pasungan” dari Ismail Soebardjo pendatang terdahulunya yang berdaya kompromistik. Fasih meramu aspek idealis dan unsur komersial. Sebaliknya, film “Fiksi”, “May”, “Mereka Biiang Saya Monyet”, “The Mirror Never Lies” maupun “Minggu Pagi di Victoria Park”, belum mampu bicara banyak di pasar film nasional.

Tetapi kondisi seperi ttu persoalan lain dari banyak film unggulan FFI. Apapun hasilnya, kelahiran Mouly Surya, Viva Westy, Djenar Maesa Ayu Kamila Andini dan Lola Amaria, pantas dibanggakan. Mereka memanjangkan daftar kekuatan wanita sutradara dalam kekinian, dengan tingkat persaingan yang lebih tajam. Boleh jadi, sukses pasar film karya Viva Westy, pernah dicapai dari film “Suster N”.serampung garapan film ”Serambi” .

Memang, sebelum kelahiran generasi wanita sutradara film berdaya saing di festival, jumlah wanita yang berprofesi sutradara film bisa dihitung dengan jari. Tetapi jumlah yang sedikit itu, bukan pembenaran dari tipisnya minat wanita di bidang sutradara Lebih dimungkinkan lagi, karena rendahnya kepercayaan para pemilik modal, untuk bertaruh produksi film dengan kemampuan sutradara, bersosok wanita! Bisa dipahamai, jika beberapa wanita sutradara, merangkap produser filmnya.

Bersama “Miles Production”, Mira Lesmana muncul sebagai sutradara di film “Kuldesak” (1998). Didukung perusahaan “Kalyana Shira Film’, Nia K. Dinata menggarap film “Cau Bau Kan” (2002), “Arisan” (2004), dan “Berbagi Suami” (2006). Film ini bebuah Piala Citra FFI 2006 untuk El-Manik ( Aktpr Pendukung Utama Terbaik”) dan Eneislav ( Penta Aritstik Terbaik). Sebagai produser film, Mira yang sukses dengan film “Petualangan Sherina” (2000), memproduksi film “Eliana-Eliana’ (2002), “Gie” (2005), “Garasi” (2006) dan “Laskar Pelangi” (2008) yang fenomenal.

Nia K Dinata pun produser film “Biola Tak Berdawai (2003), “Ajang-Ajeng” (2004) serta “Janji Joni” (2005). Ini kenyataan yang menguatkan kesan, untuk kelahiran dan kelangsungan karier wanita sutradara film di Indonesia, harus terdukung kepemilikan perusahaan film! Apapun siasatnya, keberanian seorang wanita jadi pemimpin di lokasi syuting film, menegaskan pembenaran tentang jabatan panglima lapangan bukan lagi monopoli kaum lelaki! Itu ditandai dari (alm) Ratna Asmara, pemeran utama film “Djauh Di Mata”,“Anggrek Boelan” (1948) dan “Kartinah” karya (alm) Andjar Asmara .

Ratna Asmara tampil sebagai pelopor wanita sutradara dengan menggarap film “Sedap Malam” (1950). Langkah Ratna pun terdukung profesi suaminya, Andjar Asmara, yang membuka karier (alm) Usmar Ismail sebagai asisten sutradara film “Gadis Desa” (1949). Kalaupun film karya Ratna Asmara tidak dibicarakan, namun nilai kepeloporannya terbingkai dalam sejarah perfilman. Pengakuan kariernya makin layak dihargai, manakala seorang wanita mampu berprofesi sutradara, di tengah bara semangat perjuangan insan film merebut mimpi untuk membangun industri perfilman nasional ***

(Bersambung)

Bagaimana Tanggapan Anda ?

Komentar

Desain kemasan online gratis Coba Sekarang