a-berpacu-300x150 SENI & HIBURAN  Bulan Ketiga “Berpacu Dalam Melodi”, Masih “Berpacu” Dengan Shalat Maghrib

David Bayu sang pemandu kuzi “Berpadu Dalam Melodi” versi baru.
Masih dipersaingkan dengan kejayaan BDM masa lalu.
(Istmewa)

Oleh : Yoyo Dasriyo

“SATU bulan lamanya kita berpisah, satu bulan pula usia kita bertambah! Berpacu Dalam Melodi…!” begitu indah dan luwes Koes Hendratmo membuka acara kuiz musik “Berpacu Dalam Melodi”, di masa kejayaan TVRI Pusat. Jarak satu bulan sekali, para penggemar acara hiburan itu merindu kehadiran kuiz musik. Kerinduan itu pula yang turut mendukung perpanjangan umur kecintaan dan kelangsungan “Berpacu Dalam Melodi”.

Di kehangatan persaingan acara pertelevian swasta, “NET Tv” kini berani tampil menjual lagi paket lawas itu dalam versi baru, sejak 4 Agustus 2014. Bahkan, “Berpacu Dalam Melodi” dihadirkan setiap hari, sejak Senin hingga Jumat. Lalu, David Bayu sebagai host penerus Koes Hendratmo, “harus” mengganti salam pembukanya: “Satu hari lamanya kita berpisah, satu hari pula usia kita bertambah! Berpacu dalam melodi….” Tentu kalimat itu tidak tepat jika “BDM” tampil hari Senin, karena terhalang dua hari.

Terbukti, kuiz “BDM” masih berdaya jual! Kehadiran kembali “Berpacu Dalam Melodi”,mengusik lagi kecintaan para penggemar acara kuiz rekaan Ani Sumadi itu. Memang, lain keluwesan khas Koes Hendratmo, dan tim pemusik “Ireng Maulana All Stars”, lain pula aksi David Bayu dalam versi barunya. Tetapi, apa pun hasilnya, siapapun “host”-nya, “Berpacu Dalam Melodi” akan dipersaingkan dengan kekuatan daya pikat masa lalunya, karena acara itu terlanjur memilki massa tersendiri

“Host” pengganti Koes Hendratmo, dituntut harus memenangi persaingan itu. Tak hanya host, penataan musik, materi lagu dan materi kuiz, akan senantiasa menerbitkan perbandingan. “Berpacu Dalam Melodi” ditantang untuk mampu mengemuka di balik bayang kekuatan masa lalunya. Terlepas dari beda gaya Koes dan David, jadwal tayangnya disesalkan tidak bersahabat. “Opening” Berpacu Dalam Melodi digelar, justru di saat banyak orang masih memburu Shalat Maghrib, dan mengurai wiridz.

Sebaiknya, “NET” tidak menempatkan “Berpacu Dalam Melodi” pada saat-saat orang berpacu menunaikan kewajiban ibadah shalat. Harus diakui, BDM wajah baru, dipersaingkan dengan kemasan lamanya, karena BDM belum memiliki keberanian tampil utuh, dalam mengasah wawasan para pesertanya tentang penguasaan lagu, musik sepanjang masa, dan upaya menumbuhkan apresiasi atas kekayaan lagu dan musik negeri ini.

Kekuatiran tergeser rating, membuat babak “Pelangi Antar Nusa” hilang dalam jenjang kuiz. Justru babak ini menajamkan ujian wawasan para peserta. atas asset lagu daerah di pelosok negeri ini. Pengenalan dan penguasaan pada lagu daerah, jadi ujian menarik dan penyeimbang bagi mereka yang “menjagoi” lagu asing. Mereka dituntut harus kenal lagu seperti “Tudung Periuk”, “Ayam Den Lapeh”, “Manuk Dadali”, maupun “Paris Barantai”, yang kian terlupakan dalam kekinian. Sangat disesalkan, “Pelangi Antar Nusa” berganti “Sambung Kata”.

Begitu fasihnya, peserta menalar “sambung kata” dari sederet lagu asing! Lain lagi saat mereka ditantang untuk memenangi “Pelangi Antar Nusa”. Andai lagu yang “dijual” dalam kuzi tidak terjawab, BDM berperan menumbuhkan apresiasi tentang kekayaan lagu daerah.. Kekeringan tentang kekayaan kancah musik Indonesia tercermin pula dalam beberapa babak, terutama “Kenangan Masa”, yang kurang membumi di tanah sendiri.

Lagu pop Indonesia 1960-an, yang masih banyak dikenal orang melalui bursa album nostalgia, kering dari lintasan “musik sepanjang masa”! Peserta kuiz belum pernah diajak lagi mengingat lagu dalam kejayaan (alm) Alfian, seperti “Senja di Kaimana”, “Semalam di Cianjur”, “Sebiduk di Sungai Musi”, atau “Hadiah Ulang Tahun” (S Warno), “Berikan Daku Harapan” (Tutty Subardjo), serta banyak lagu (alm) Lilies Suryani, (alm) Onny Suryono, Tetty Kadi, Anna Mathovani maupun Titiek Sandhora

BDM justru lebih memilih mengkuizkan lagu seperti “Yesterday”! Dalam “Bursa Nada” pun, belum menggali kisah lagu dari karya para komponis dalam negeri, yang kini terlupakan, seperti (alm) Zaenal Arifien, Yessy Wenas, Jasir Syam, Wedhasmara, (alm) A Ryanto dls. Potongan gambar “Sekilas Wajah” pun lebih terpuji, menampilkan tokoh dalam negeri. Terlebih, jika berkait peringatan hari nasional. Pernah muncul lagu “Dirimu Satu” dikuizkan, namun David Bayu menyebut penembang lagunya, justru Hutauruk Sisters”.

Semestinya, Louis Hutauruk! Lagu “Madu dan Racun” tayangan BDM (Selasa, 7 Oktober 2014), disebut dan ditulis nama Bill-Brod. Kenapa tidak Aribowo? Bill-Bord, perusahan perekam lagu itu. Diharapkan, Berpacu Dalam Melodi” mampu tampil lebih memikat dan akurat! Bukan hanya berdaya hibur dan mengasah wawasan, tetapi dipertaruhkan juga mampu membangun dan memelihara apresiasi masyarakat terhadap kekayaan lagu dan musik Indonesia sepanjang masa.***

Bagaimana Tanggapan Anda ?

Komentar

Desain kemasan online gratis Coba Sekarang