16-YODAZ-NIKE-300x251 SENI & HIBURAN  Peringatan Kelahiran Nike Ardilla : “Melebur Dosa” Dalam Ulang Tahun

Meski belum sempat mandi pagi, (alm) Nike Ardilla berpose berdua Yoyo Dasriyo. Potret kenangan di depan rumah artis kondang, sebelum rumah itu tergusur areal perumahan. (Foto: alm Denny Sabri)

Peringatan Kelahiran Nike Ardilla Bagian ke 16

Oleh: Yoyo Dasriyo

Memang, lokasi syuting sinetron “Impian Pengantin” itu semula dirancang berpusat di Garut. Tokoh “Intan” diadopsi dari gelar kebanggaan Garut sebagai “Kota Intan”. Saat itu pun, saya umpamakan Nike sebagai “intan” dalam dunia keartisan. “Begitu saya bilang Kang Yoyo yang bikin skenarionya, Nike langsung saja siap tampil! Dia nanya, Kang Yoyo nanti hadir ‘nggak ke lokasi..?” cerita Erwin Amril kemudian. Sang produser meyakini kehadiran saya. Kru sinetron bergegas membuat “setting”, untuk adegan Nike di “Betty Studio” Bandung.

Di luar dugaan, proses syuting adegan “Intan” lebih cepat selesai dari perhitungan saya. Lagi-lagi saya kehilangan jejak Nike di Bandung. Angan jumpa sang bintang kembali mengawang. Saya tertegun. Tak sempat hadir dan memotret aksi pertama Nike, dalam lakon yang saya bangun. “Salah Kang Yoyo sih! Ditunggu waku syuting Nike, malah nggak datang. Kalau ada, waah … bisa seru!” sesal sutradara H Maman Firmansyah. Di ruang editing sinetron, sutradara itu memutar rekaman adegan Nike dan Eddie Riwanto, yang disebutnya sebagai adegan spesial buat saya!

“Neng Nike bilang sengaja nyanyi, biar ditonton sama Om Yoyo! Bener, itu kata Neng Nike…!” ucap H Maman lagi. Di luar skenario, tergelar adegan Nike menaiki tangga rumah, dan mendendang penggalan lagu hit, “Biarlah Aku Mengalah”: “Sendiri lagi…! Sendiri lagi, tanpa dirimu disisiku… Sendiri lagi…” Malam harinya saya berspekulasi tandang ke rumah Nike. Sang bintang masih belum pulang. Masih syuting di Puncak. Ibu Nike minta saya menunggu, karena anak gadisnya dalam perjalanan pulang.

Selama penantian itu, saya dengar pengaduan Nike dari ibunya, tentang pasangan mainnya dalam “Impian Pengantin” yang bukan remaja lagi. “Mih bilangin sama Om Yoyo, kalau ngajak sinetron lagi, Eneng jangan sama bapak-bapak atuh.. “ cerita ibunya. Penantian belum menepi. Malam makin larut. Nike masih juga belum datang. Ibu Nike kembali menelepon anak gadisnya. “Neng Nike bilang tunggu sebentar lagi juga sampai..! Tidur saja di sini atuh. Biasanya juga suka nginep..” pinta Ny Ningsihrat Kusnadi. Saya belum mengiyakan.

Dalam perburuan untuk menebus “dosa” itu, sempat juga ibu Nike mengungkap romantika karier anak gadisnya di dunia film. Ibu sang bintang tak mencemaskan Nike, sebagai bintang remaja. Tanpa sungkan, Ny Ningsihrat Kusnadi bertutur: “Si Eneng mah masih remaja kecil, cuma kelihatannya saja seperti sudah dewasa. Padahal dadanya saja masih kempes…!” katanya sambil tertawa. Lama penantian kedatangan sang bintang, menyulut kegelisahan. Muncul rasa curiga. Jangan-jangan itu siasat Nike lagi, agar saya menginap di rumahnya.

Terpaksa saya pamit, karena rekan wartawan datang menjemput, untuk pulang bersama ke Garut. Ibu Nike menjanjikan, akan membicarakannya tentang rencana pendirian PT “Ardilla Film”. Namun program pembahasan bisnis produksi film dan sinetron itu, tak pernah terwujud. Peluang perjumpaan dengan Nike, makin mahal. Manakala sinetron “Impian Pengantin” ditayangkan, saya kaget karena cerita lepas itu jadi dua bagian. Itu mengusik saya untuk mengemas “Impian Pengantin 2”, yang berpeluang mengembangkan peran Nike sebagai “Intan”.

Lanjutan cerita itu tidak secepatnya saya tuntaskan, karena masih perlu banyak waktu. Tetapi pernah saya tawarkan ke PH yang memproduksi “Impian Pengantin”, waktu menggarap sinetron “Badai Dalam Rumah” di Pangandaran. H Erwin Amril bergeleng kepala. Saya berniat menjual lanjutan cerita itu ke pihak lain. Di saat penyelesaian skenario itu masih ditunda, Yessy Gasela mengundang saya dalam ulangtahun di Rumah Makan “Adirasa” Garut. “Jangan sampai ‘nggak datang, ya, Kang! Teh Nike juga mau hadir.. Saya tunggu lho…!” pinta Yessy Gasela sungguh-sungguh, yang sengaja menemui saya di rumah.

Undangan itu menyalakan lagi peluang perjumpaan dengan Nike Ardilla, yang reputasinya kian berkilat. Lepas Maghrib saya hadir di tempat ulang tahun Yessy Gasela. Malam itu suasana ceria di aula lantai dua, bertabur muda-mudi. Musik menggema. Menghentak-hentak. Tak banyak yang saya kenal. Saya pun tahu diri. Perlahan merenggang jarak. Di halaman belakang rumah makan itu, kerumunan remaja menunggu “bintang tamu” Nike Ardilla. Saya menjauh dari keramaian, hingga mematung sendirian di tepian jalan kecil, yang dilintasi para tamu undangan ***
(Bersambung)

Bagaimana Tanggapan Anda ?

Komentar

Desain kemasan online gratis Coba Sekarang