01-LEWAT-DJAM-MALAM-300x192 SENI & HIBURAN  Terlupakan di Hari Pers Nasional: Sutradara Film Berlatar Wartawan

Aktor (alm) AN Alcaff dan (alm) Bambang Hermanto dalam film “Lewat Djam Malam” (1955), karya (alm) Usmar Ismail. Mantan wartawan yang bergelar “Bapak Perfilman Nasional”. (Dokumentasi)

Terlupakan di Hari Pers Nasional: Bagian (1)

Oleh Yoyo Dasriyo

BANYAK mantan insan pers sukses sebagai sutradara film nasional. Reputasi mereka lalu terbingkai dalam riwayat perfilman negeri ini. Tetapi dalam perjalanan panjang yang mentradisikan peringatan Hari Pers Nasional, jejak sukses para mantan wartawan yang berladang film, nyaris tak pernah mengemuka. Harga kejuangan berkarya dan prestasi terpuji yang dicapai mereka, tak pernah mengemuka dalam momentum penting dunia kewartawanan itu. Boleh jadi terlupakan! Atau, dinilai sudah berbeda dunia..

Apapun alasannya, namun kewartawanan Indonesia telah membidani kelahiran sederet tokoh perfilman nasional, yang mengekspresikan karya ciptanya ke dalam media audio-visual! Siapa tak kenal nama (alm) H Usmar Ismail? “Bapak Perfilman Nasional” yang melegenda dengan sejarah masa kejayaan NV Perfini (Perusahaan Film Nasional Indonesia) itu pun, terlahir dari wartawan. Sebelum bergelar tokoh perfilman, Usmar seorang wartawan dari Majalah “Maja” dan Mingguan “Abad Muslimin”.

Film “Darah Dan Doa” (Long March) karya perdananya, terpahat sebagai momentum penting dunia film Indonesia. Awal syuting film yang dibintangi (alm) AN Alcaff dan (alm) Dahlia itu, (30 Maret 1950), dikukuhkan sebagai Hari Film Nasional. Tahun 1955, film “Lewat Djam Malam” karya Usmar berikutnya, terpilih sebagai “Film Terbaik” di “Pekan Apresiasi Film Indonesia”. Lebih mengejutkan lagi, saat film “Pedjoang” (1960) meraih penghargaan internasional untuk aktor (alm) Bambang Hermanto di Moskow (1962).

Film-film sukses Usmar lainnya, tercatat seperti “Tiga Dara”, yang menuai kemasyhuran Chitra Dewi, Mieke Widjaya dan Indriati Iskak. Sebut pula “Delapan Pendjuru Angin”, “Toha Pahlawan Bandung Selatan”, “Anak-Anak Revolusi” hingga film “Ananda” (1970). Film terakhir itu meroketkan Lenny Marlina sang pendatang dari Bandung. Sutradara kampiun itu pula, pencetak sukses awal (alm) Suzanna, Nurbani Yusuf, Mila Karmila, (alm) Bambang Irawan, Rachmat Hidayat hingga (alm) Arman Effendy.

Bersama “Perfini”, Usmar Ismail banyak membidani lahirnya film populer, dan deretan bintang idola. Bahkan, sembilan tahun sebelum kehadiran Usmar, dunia wartawan melahirkan nama (alm) Andjar Asmara, penggarap film “Noesa Penida”. Film lainnya, “Djauh Dimata” dan “Anggrek Boelan” (1948) produksi SPFC (South Pasific Film Corporation). Bahkan, (alm) Ratna Asmara – isteri Andjar, pemeran utama film tersebut, tampil kemudian sebagai wanita sutradara film pertama di Indonesia, dengan menggarap film “Sedap Malam” (1950).

Selepas sukses besar Usmar Ismail, sutradara berlatar wartawan bermunculan. Mereka terpacu untuk berekspresi dalam media film nasional. Lalu lahir nama (alm) Rd Arifien mantan wartawan Majalah “Varia”, sutradara film sukses “Apa Jang Kunanti?” (1957). Film bertema anak-anak itu, memicu lahirnya film “Kunang-Kunang” (alm. Wim Umboh), dan “Bintang Peladjar” (Basuki Effendi). Tahun 1960, Rd Arifien kembali menggarap film bertajuk “Pendjual Koran”. Reputasi insan wartawan melatari juga kehadiran (alm) H Misbach Yusa Biran, yang dikenang atas filmnya “Di Balik Tjahaja Gemerlapan”.

Film drama musikal itu mengantarkan Misbach sebagai Sutradara Terbaik dalam Pekan Apresiasi Film Indonesia 1967, yang menjayakan (alm) Soekarno M Noer untuk “Aktor Terbaik”. Lahir kemudian nama (alm) Has Manan, Arizal, (alm) Franky Rorimpandey, Ismail Soebardjo, Bazar Kadarjono, (alm) Motinggo Boesje serta Ida Farida, mantan wartawati. Kehadiran film karya mereka, tak kering dari pujian. Bahkan Ismail Soebardjo membuat kejutan di Festival Film Indonesia (FFI) 1977 Jakarta, saat dewan juri festival memvonis tidak ada film terbaik!

(Bersambung)

Bagaimana Tanggapan Anda ?

Komentar

Desain kemasan online gratis Coba Sekarang